![]() |
| Photo by Dicko Yudhatama on Unsplash |
Aku tidak mengenal beliau sedalam suamiku mengenalnya. Namun aku mengenal jejaknya—dari cara suamiku menyebut namanya dengan hormat, dari cerita-cerita yang disampaikan dengan mata yang hangat, dan dari kehilangan yang terasa begitu dalam ketika beliau berpulang.
Bagi suamiku, beliau bukan sekadar om. Ia adalah sahabat, orang tua, sekaligus teman perjalanan. Tumbuh bersama, berjalan menapaki waktu di kota Curup, saling menemani dalam tugas dan perjalanan hidup, seperti dua pejalan yang saling menjaga arah.
Tahun 2023, hidup mengujinya dengan stroke. Sebagian tubuhnya melemah, langkahnya bergantung pada kursi roda. Namun, ada yang tidak pernah lumpuh—hatinya tetap berjalan. Dalam keterbatasan itu, ia tetap memenuhi panggilan menuju Tanah Suci pada tahun 2024. Dengan tubuh yang rapuh tetapi iman yang tegak, ia menunaikan ibadah haji. Tawaf yang dilaluinya di atas kursi roda, sa’i yang ditempuh dengan kelelahan, hingga panas Arafah yang membakar, semuanya dijalani dengan kesabaran yang sunyi.
Seakan ia sedang menyempurnakan perjalanan panjangnya sebagai seorang hamba.
Sepulang dari Tanah Suci, langkah hidupnya terasa semakin tenang. Ada keteduhan yang sulit dijelaskan, seolah hatinya telah menemukan arah pulang.
Tahun lalu, tepat di bulan Februari, beliau mendatangi saudara dan karyawan di kantornya. Silaturahim yang tampak sederhana—senyum, percakapan hangat, dan doa yang panjang. Kini aku memahami, mungkin ia sedang merapikan jejak, membersihkan hubungan, dan menenangkan hati orang-orang yang akan ditinggalkannya.
Ada satu kebiasaan beliau yang selalu dikenang keluarga. Setiap pulang ke Bengkulu, ia tidak pernah melewatkan makan bersama di Pantai Panjang. Bukan jamuan mewah, melainkan masakan dari rumah yang dinikmati bersama di tepi laut—ditemani angin dan suara ombak. Bagi beliau, silaturahim adalah pertemuan yang dihangatkan oleh kebersamaan.
Aku masih mengingat akhir tahun 2023. Suamiku diminta menemani anak sulungnya menelusuri harta miliknya—rumah, tanah, dan kendaraan yang menjadi bagian dari perjalanan hidup beliau. Setelah itu kami diminta makan bersama di Pantai Panjang bersama adiknya dan anak sulungnya, seolah kebersamaan itu adalah sesuatu yang harus tetap terjaga, seperti tradisi yang tak boleh terlewat.
Perjalanan belum selesai. Kami diminta membelikan ikan laut aku lupa nama ikannya, di pasar ikan Bengkulu, lalu membawanya ke rumah sepupunya untuk dimasak sesuai selera beliau. Bagiku, itu terasa unik sekaligus menghangatkan—cara sederhana yang ia pilih untuk merajut kedekatan, mempertemukan keluarga, dan menciptakan kenangan.
Kini kupahami, barangkali semua itu bukan sekadar kebiasaan. Bagiku, itu seperti pelajaran yang ingin beliau tunjukkan kepada anak sulungnya—dan kepada kami semua: beginilah cara menjaga hubungan, beginilah cara merawat keluarga, sahabat, dan relasi. Tanpa banyak kata, ia mengajarkan bahwa silaturahim adalah warisan yang harus dijaga.
Agustus 2024 menjadi pertemuan terakhir kami, saat aku dan suami mengantar anak bungsu ke Yogyakarta untuk memulai perjalanannya sebagai mahasiswa baru di Universitas Gadjah Mada. Pertemuan itu hangat dan sederhana, tanpa firasat apa pun. Namun kini, ketika diingat kembali, ada ketenangan yang tertinggal lebih lama—seakan beliau sedang menitipkan restu terakhir.
Barangkali begitulah cara Allah memanggil hamba-Nya—dengan kelembutan yang tak selalu disadari. Ia diberi kesempatan menyempurnakan ibadah, mempererat silaturahim, meninggalkan teladan, lalu menutup perjalanan dunia dengan hati yang lapang.
Kini aku memahami, ada manusia yang kehadirannya menjadi rumah bagi banyak orang. Dan ketika rumah itu dipanggil kembali oleh Pemiliknya, yang tertinggal bukan hanya duka, tetapi juga jejak keteladanan.
Tubuh boleh melemah, langkah boleh terbatas, tetapi iman selalu menemukan jalannya. Ketika waktunya tiba, langkah itu akhirnya sampai—pulang kepada Allah dengan tenang.
Untukmu, suamiku—semoga tulisan ini menjadi teman bagi hatimu yang sedang berduka.








