![]() |
| Cover novel Zuriel. (dokumen pribadi) |
Tidak semua buku masuk ke rak bacaan karena sejak awal memang sudah ada dalam daftar yang ingin kita baca. Beberapa justru datang dari hal-hal sederhana yang tidak direncanakan—seperti hadiah, voucher, atau sebuah event yang kita ikuti.
Novel Zuriel karya Moch Abdul Aziz adalah salah satunya.
Aku mendapatkan voucher sebagai hadiah setelah mengikuti event Kelas Menulis 7 Hari Ufuk Literasi. Dari voucher tersebut, aku memilih Zuriel, sebuah novel yang kemudian ternyata memberikan pengalaman membaca yang lebih dari sekadar mengikuti jalan cerita.
Awalnya, aku hanya ingin memanfaatkan voucher untuk memilih sebuah buku.
Namun, setelah sampai di halaman terakhir, ada satu pertanyaan yang terus tertinggal di pikiranku:
Kapan waktunya kita berhenti memaksakan hasil dan mulai belajar menyerahkannya kepada Allah?
Pertanyaan itulah yang membuat Zuriel terasa menarik untuk dibicarakan lebih jauh.
Identitas Buku
Ketika Sekolah Menjadi Sebuah Impian
Zuriel memiliki impian yang sebenarnya sederhana.
Ia ingin melanjutkan pendidikan ke SMA.
Namun, bagi seorang anak yang keluarganya sedang berhadapan dengan keterbatasan ekonomi, melanjutkan sekolah bukan perkara sederhana.
Ibunya kemudian meminta Kak Hesty menjemput Zuriel di Surabaya. Ia diharapkan bisa ikut membantu usaha keluarga kakaknya.
Zuriel yang polos dan lembut hati memilih menyimpan keinginannya untuk tetap sekolah. Ia memahami keadaan keluarganya, tetapi bukan berarti ia tidak memiliki impian.
Keinginan yang terus dipendam itu bahkan membuatnya jatuh sakit.
Kak Hesty dan suaminya, Doni, merasa iba. Mereka akhirnya membawa Zuriel pulang menggunakan kereta.
Dan dari perjalanan pulang inilah cerita menjadi semakin menarik.
Zuriel belum pernah bepergian jauh. Ia juga belum pernah naik kereta. Alih-alih sampai di Surakarta seperti yang direncanakan, ia justru salah naik kereta dan tiba di Stasiun Tugu, Yogyakarta.
Ia tersesat.
Tetapi ternyata, tersesat tidak selalu berarti kehilangan arah.
Ketika Tersesat Justru Membuka Jalan
Di Yogyakarta, Zuriel bertemu Bu Sulis, seorang pedagang yang sering menggunakan kereta untuk membawa barang dagangan.
Bu Sulis membantu Zuriel.
Bukan hanya Bu Sulis. Dalam perjalanan itu, Zuriel bertemu dengan beberapa orang yang memberikan pertolongan dengan cara mereka masing-masing.
Sementara itu, keluarganya panik mencari keberadaannya sampai membuat selebaran orang hilang.
Aku menyukai bagian ini karena perjalanan Zuriel seperti memperlihatkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.
Kadang, pertolongan datang dari orang yang sama sekali tidak kita kenal.
Kadang, seseorang hanya hadir sebentar dalam hidup kita, tetapi meninggalkan pelajaran yang panjang.
Dan yang lebih menarik lagi, beberapa orang yang ditemui Zuriel dalam perjalanan ternyata kembali muncul di bagian-bagian berikutnya.
Seolah-olah pertemuan yang awalnya terlihat biasa saja ternyata memiliki tempat dalam perjalanan hidupnya.
Satu Jalan Tertutup, Bukan Berarti Impiannya Selesai
Setelah akhirnya kembali, Zuriel mendapatkan kesempatan untuk mendaftar di sebuah sekolah swasta.
Ibunya yang semula tidak mengizinkannya sekolah mulai melunak.
Aku bisa membayangkan bagaimana perasaan Zuriel saat itu.
Setelah melalui begitu banyak hal, akhirnya ia melihat jalan menuju impiannya.
Tetapi lagi-lagi, hidup memberikan kejutan.
Sekolah tersebut akan dibongkar.
Sekali lagi, impian Zuriel seperti harus menunggu.
Dan mungkin di sinilah aku mulai memahami pesan yang ingin disampaikan Zuriel.
Tidak semua kegagalan berarti kita harus meninggalkan tujuan.
Kadang yang perlu diubah bukan impiannya, tetapi jalannya.
Ketika satu pintu tertutup, kita mencari pintu lain.
Ketika satu cara tidak berhasil, kita mencoba cara berikutnya.
Ketika keadaan memaksa kita berhenti sejenak, bukan berarti perjalanan harus benar-benar berakhir.
Berjuang, Lalu Berserah
Angga kemudian mengajak Zuriel bekerja di sebuah toko buku di Surakarta.
Di sana, Zuriel bertemu Pak Rendy dan Bu Devi.
Dan sekali lagi, sesuatu yang tidak ia rencanakan justru menjadi jalan menuju impiannya.
Alih-alih memintanya bekerja, Pak Rendy dan Bu Devi memberikan kesempatan kepada Zuriel dan Angga untuk mendapatkan beasiswa dan melanjutkan pendidikan SMA di pesantren.
Di tempat itu, Zuriel tidak hanya mendapatkan pendidikan formal, tetapi juga pendidikan agama.
Bahkan beberapa orang dari perjalanan sebelumnya kembali hadir dalam kehidupannya.
Kak Hafiz, seorang mahasiswa. Zulfan, yang pernah ditemuinya ketika mendaftar sekolah. Dan kemudian terungkap pula hubungan Bu Devi dengan Zulfan.
Semakin jauh membaca, aku merasa perjalanan Zuriel seperti kepingan puzzle.
Satu peristiwa mungkin tidak langsung terlihat maknanya.
Satu pertemuan mungkin terasa kebetulan.
Satu kegagalan mungkin terasa seperti jalan buntu.
Tetapi ketika semuanya dirangkai, ternyata ada jalan yang sedang terbentuk.
Pelajaran Terbesar yang Aku Bawa Pulang
Buatku, Zuriel bukan hanya novel tentang seorang anak yang ingin sekolah.
Lebih dari itu, novel ini membuatku kembali memikirkan tentang ikhtiar dan takdir.
Sering kali kita berpikir bahwa kalau sudah memiliki impian, kita juga harus tahu persis bagaimana cara mencapainya.
Kita membuat rencana.
Kita bekerja keras.
Kita mencoba berbagai kemungkinan.
Bahkan kalau perlu, kita berjuang dengan berdarah-darah.
Tetapi kemudian kehidupan membawa kita ke arah yang berbeda.
Di titik itulah kita sering merasa gagal.
Padahal mungkin bukan impiannya yang salah.
Mungkin hanya jalannya yang berbeda.
Ada satu kalimat dalam Zuriel yang menurutku sangat kuat:
“Jika gagal dalam sebuah impian, maka ubahlah caranya, bukan tujuannya.”
Aku suka sekali gagasan ini.
Karena bagiku, ikhlas tidak sama dengan menyerah.
Ikhlas bukan berhenti berusaha sebelum melakukan apa-apa.
Tawakal juga bukan alasan untuk pasrah pada keadaan.
Menurutku, kita tetap perlu berusaha sekuat tenaga.
Mencoba.
Jatuh.
Bangkit.
Mencari cara lain.
Mengulanginya lagi.
Sampai akhirnya, setelah semua yang bisa kita lakukan sudah dilakukan, ada satu hal yang perlu kita lepaskan:
keinginan untuk mengendalikan hasil.
Di situlah aku merasa perlu mengosongkan ruang kendali itu kepada Allah, Pemilik Takdir ini.
Karena ikhtiar tetap milik kita. Hasil bukan.
![]() |
| Foto: dokumen pribadi |
Quote yang Membekas dari Zuriel
Salah satu hal yang membuatku menikmati novel ini adalah adanya quote-quote yang disisipkan di antara bab.
Beberapa di antaranya terasa seperti jeda untuk berhenti sejenak dan mencerna perjalanan tokohnya.
Salah satu yang paling kusukai berbunyi:
“Waktu telah mengajariku perihal banyak hal.
Salah satunya tentang indahnya bersabar demi sebuah impian. Rintangan dan halangan bukan selalu menjadi hambatan, tapi yang paling penting adalah bagaimana cara untuk memperjuangkan semuanya dengan perlahan, hingga akhirnya terealisasikan menjadi kenyataan.”
— Zuriel, Moch Abdul Aziz
Bagiku, quote ini seperti merangkum perjalanan Zuriel.
Tidak semua hal harus terjadi dengan cepat.
Ada impian yang membutuhkan waktu.
Ada jalan yang berliku.
Ada kegagalan yang harus dilewati.
Dan ada kesabaran yang harus dipelihara.
Yang penting bukan seberapa cepat kita sampai, tetapi apakah kita masih mau memperjuangkan tujuan itu dengan cara yang benar.
Kelebihan Novel Zuriel
Aku menyukai kesederhanaan impian Zuriel.
Ia hanya ingin sekolah. Tetapi dari impian sederhana itu, pembaca diajak melihat persoalan ekonomi, hubungan keluarga, persahabatan, kebaikan orang lain, hingga perjalanan menemukan pendidikan.
Perjalanan menggunakan kereta juga membuat cerita terasa seperti sebuah perjalanan hidup.
Ada keberangkatan.
Ada kesalahan arah.
Ada tersesat.
Ada orang-orang yang membantu.
Ada rasa takut.
Dan akhirnya ada tempat yang mungkin tidak pernah kita rencanakan sebelumnya.
Aku juga menyukai pesan tentang kebaikan yang muncul melalui tokoh-tokoh yang ditemui Zuriel.
Kita tidak pernah tahu kapan kebaikan kecil yang kita lakukan menjadi bagian penting dari perjalanan hidup seseorang.
Kekurangan Novel Zuriel
Bagiku, beberapa pertemuan dan kemunculan kembali tokoh terasa cukup kebetulan.
Ada begitu banyak keterhubungan antartokoh sehingga bagi sebagian pembaca mungkin terasa terlalu rapi.
Namun, aku masih bisa menerimanya sebagai bagian dari gaya cerita yang ingin menunjukkan bahwa setiap pertemuan dalam perjalanan Zuriel ternyata memiliki makna.
Dan justru di situlah kekuatan pesan yang ingin disampaikan novel ini: kita tidak selalu mengetahui arti sebuah kejadian ketika sedang menjalaninya.
Kadang maknanya baru terlihat setelah kita sampai jauh di depan.
Penutup
Setelah membaca Zuriel, aku kembali pada satu pemahaman sederhana:
Kita boleh memiliki impian. Kita boleh memperjuangkannya dengan sekuat tenaga. Tetapi kita tidak harus memaksakan satu jalan untuk sampai ke sana.
Kalau satu jalan tertutup, cari jalan lain.
Kalau satu cara gagal, ubah caranya.
Kalau kita sudah berusaha semampu kita, belajarlah menyerahkan hasil kepada Allah.
Mungkin ada saatnya kita merasa seperti Zuriel—tersesat, salah arah, dan tidak tahu harus ke mana.
Tetapi bisa jadi, justru dari tempat yang tidak kita rencanakan itulah kita menemukan jalan yang sebenarnya.
Karena mungkin hidup memang bukan tentang selalu tahu ke mana kita akan pergi.
Melainkan tentang tetap melangkah, sambil percaya bahwa Allah tahu ke mana kita sedang diarahkan.
Dan akhirnya aku belajar satu kalimat yang sederhana:
Ikhtiar tetap milik kita. Hasil bukan.
.png)
.png)










