Wednesday, June 10, 2026

Menulis untuk Bertahan: Perjalanan Sunyi Seorang Perempuan Kuat

Konten [Tampil]


Ada masa dalam hidup ketika kita tidak diberi pilihan selain bertahan. Bukan karena kita hebat, bukan karena kita siap, tetapi karena tidak ada jalan lain kecuali melangkah. Aku merasa, jika hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang, maka luka-luka yang singgah di dada adalah penanda bahwa aku pernah berjuang.

Tanpa pernah kusadari, perjalanan itulah yang membawaku sampai ke titik ini—menulis sebagai cara untuk bertahan, sembuh, dan mengerti bahwa Allah tak pernah meninggalkanku.

Hidupku berubah drastis pada usia yang begitu muda, ketika dokter mengatakan ada tumor di otakku. Ruang tunggu rumah sakit mendadak terasa sempit, udara seperti menolak masuk ke paru-paruku. Aku hanya terduduk, mendengar detak jantungku sendiri yang seakan berlari tanpa tujuan.

Apa ini benar terjadi padaku?

Pertanyaan itu menghantam berkali-kali.

Saat itu, aku masih mahasiswi analis kimia semester tiga—penuh mimpi, penuh harapan. Kejang pertama di usia 20 tahun kukira hanya kelelahan. Namun, ia datang lagi, dan lagi, hingga CT Scan menunjukkan kebenaran yang tak ingin kuterima—ada tumor di otakku.

Duniaku runtuh seketika. Namun, dari titik runtuh itulah kekuatan dalam diriku mulai tumbuh.

Operasi Pertama dan Tahun-Tahun Panjang Menjaga Asa
Setelah berobat ke sana-sini dan mencari second opinion, keluargaku memutuskan operasi kraniotomi. Alhamdulillah, hasilnya menunjukkan Astrocytoma grade 1—tumor jinak. Aku tak perlu kemoterapi ataupun radiasi, hanya harus berdamai dengan obat anti kejang.

Aku melanjutkan hidup—kuliah, wisuda, menikah, membangun keluarga. Namun, setiap kali tubuh lelah, kejang itu datang lagi. Aku belajar hidup dengan waspada, tetapi tetap bersyukur karena masih diberi usia.

Dua Puluh Tahun Kemudian: Ketakutan yang Mengetuk Kembali
Setelah hampir dua dekade, kejang itu semakin sering. Dokter menyarankan MRI ulang, dan hasilnya membuatku kembali terdiam lama—tumor itu tumbuh lagi, pelan tetapi pasti.

“Operasi kedua adalah pilihan terbaik,” kata dokter.

Hatiku remuk. Aku takut. Bagaimana dengan suami dan anak-anakku? Mampukah aku kembali menjadi ibu?

Namun, Allah selalu punya cara menguatkan hati seorang perempuan. Aku dipertemukan dengan seorang teman dari komunitas penyintas tumor otak, salah satunya Lilia—perempuan yang sudah enam kali operasi dan tetap tersenyum.

“Kamu akan baik-baik saja,” katanya. “Selalu ada cahaya di ujung terowongan. Kita hanya perlu terus berjalan ke arahnya.”

Kata-katanya menempel di hatiku seperti doa.

Di sepertiga malam, aku bersujud, menyerahkan ketakutan kepada Allah. Dengan hati yang pasrah sekaligus kuat, aku menjalani operasi kedua pada bulan Agutus 2016. Alhamdulillah, tumor itu bersih. Dokter tersenyum sambil berkata, “Kamu pulih.”

Tiga Bulan Mendampingi Suami Menjelang Kepergiannya
Setahun setelah aku sembuh, Allah mengujiku lagi. Suamiku divonis sakit dan dirawat selama tiga bulan. Aku mendampinginya setiap hari, sambil masih memulihkan diri.

“Aku tahu kamu pasti bisa,” katanya pelan malam sebelum Allah memanggilnya pulang pada 27 Oktober 2017, hari Jumat.

Hatiku hancur. Aku ingin jatuh, tetapi anak-anakku memegang tanganku—dan aku tahu aku harus tetap berdiri.

Ketika Dunia Menguji Lagi: Penipuan Developer Syariah
Setelah suamiku tiada, aku berusaha menata hidup dan menyiapkan masa depan anak-anakku. Namun, perjalanan itu tidak mudah. Ketika seorang teman menawarkan investasi perumahan berbasis syariah, aku tergoda dan justru menjadi luka baru. Dana peninggalan suamiku lenyap ditelan tipu muslihat developer nakal. Pembangunan tak ada, jawaban pengembang hanya janji kosong.

Kecemasan lamaku pun kambuh. Aku bersujud kepada Allah, memohon jalan keluar. Dengan dukungan keluarga, aku memperjuangkan hakku. Berbulan-bulan aku datang ke kantor mereka, sering dipingpong, dan pulang dengan tangan hampa. Tapi aku tidak menyerah.

Alhamdulillah, sebelum akhir 2019, dana itu kembali. Tidak mudah, tetapi aku berhasil melewatinya.

Menulis: Cahaya yang Menuntunku Kembali Pulih
Dari semua perjalanan panjang itu—tumor otak, dua operasi, kehilangan suami, penipuan yang meluluhlantakkan hati, hingga kecemasan berulang—aku hanya punya satu cara untuk tetap waras: menulis.

Menulis membuatku bisa bernapas.
Menulis menghubungkanku dengan diri sendiri.
Menulis menjadi jembatan dari luka menuju harapan.

Ada satu kutipan yang selalu menemani malam-malam panjangku:
“Allah tidak menjanjikan hidup tanpa badai.
Tapi Dia menjanjikan pelangi setelahnya.”

Pelangi itu datangnya perlahan—tidak sekaligus.

Meskipun badai besar itu telah berlalu, bukan berarti hidupku mulus. Sampai hari ini, aku masih belajar mengendalikan anxiety dan serangan panic attack yang kadang datang tanpa permisi. Ada hari ketika napasku terasa pendek, dada diremas, dan dunia mengecil. Rasanya seperti luka lama kembali mengetuk.

Namun, aku mengerti bahwa kesembuhan bukan berarti rasa takut itu hilang. Kesembuhan adalah keberanian untuk tetap melangkah meskipun rasa takut berjalan di samping kita. Ia adalah kemampuan duduk tenang, menenangkan diri, dan berkata:
“Tidak apa-apa. Aku aman. Aku hadir untuk diriku sendiri.”

Mungkin di situlah aku makin memahami bahwa Allah tidak menjanjikan hidup tanpa ujian—tetapi Dia menitipkan kekuatan pada hati yang bersandar kepada-Nya.

Kini aku berdiri bukan karena aku sempurna, melainkan karena aku belajar bangkit dari setiap runtuhan. Aku masih belajar. Masih merawat luka. Masih berjalan pelan dan tegak, karena aku tahu Allah akan selalu menuntun.

Penutup
Untukmu, perempuan kuat yang sedang berjuang,
di fase hidup yang gelap. Izinkan aku memelukmu lewat kata-kata:

“Sembuh bukan tentang cepat.
Sembuh adalah proses pelan-pelan memahami apa yang kamu rasakan,
mengakui luka-lukamu,
dan memberi ruang bagi dirimu untuk bernapas,
tanpa memaksa diri untuk ‘baik-baik saja’ dalam semalam.”

Jika keberanianmu hari ini hanya cukup untuk bangun dari tempat tidur, ketahuilah bahwa itu pun sudah sebuah kemenangan.

Wahai perempuan, jangan pernah meremehkan kekuatanmu. Kamu mungkin tak selalu merasa kuat, tetapi setiap langkah kecilmu adalah bukti bahwa kamu masih bertahan. Jika kamu punya luka—ceritakan, tuliskan, dan lepaskan perlahan. Jika kamu merasa sendiri—ingatlah, banyak perempuan yang diam-diam berjuang sepertimu. Dan jika kamu sedang tenggelam—ulurkan tangan kepada siapa pun yang bisa menggenggamnya.

Aku pun di sini masih belajar sembuh. Namun, aku percaya:
Allah selalu memberi cahaya, bahkan untuk perjalanan yang paling sunyi.

***

Note: 

Tulisan ini saat mengikuti event Perempuan Kuat, Perempuan Menulis: Sisterlillah






Friday, June 5, 2026

Ketika Menulis Menemukan Jalannya Sendiri

Konten [Tampil]

Photo by Sixteen Miles Out on Unsplash

Sudah lama sekali aku tidak menulis di blog ini. Blog ini sepi, ide-ide sering datang dan pergi, sementara kehidupan terus berjalan dengan segala kesibukan dan kecemasannya.

Bukan aku berhenti menulis. Aku hanya belum bisa mengelola waktu agar dapat kembali menulis di blog. Di sisi lain, waktuku juga banyak tersita untuk mengikuti berbagai event menulis dan mengedit template CapCut.

Namun, rupanya menulis tidak benar-benar pergi.

Ia hanya berpindah tempat.

Menjadi catatan-catatan kecil yang kutulis sejak 2018. Catatan itu tidak selalu rapi dan panjang. Kadang hanya beberapa kalimat yang kutuliskan. Kadang berupa jurnal yang kutulis ketika pikiranku terasa terlalu ramai dan sulit kujelaskan ke siapapun.

Di masa-masa tertentu, terutama ketika panic attack hadir tanpa aba-aba, menulis menjadi salah satu cara yang membantuku tetap berpijak.

Aku menuliskan apa yang kurasakan. Apa yang kutakutkan. Apa yang membuat dadaku terasa sesak. Apa yang membuat pikiranku berlari ke mana-mana.

Bukan untuk mencari jawaban, Bukan pula untuk menghilangkan kecemasan itu sepenuhnya.

Aku hanya ingin mendengarkan diriku sendiri.

Seiring waktu, aku mulai menyadari bahwa kecemasan bukan sesuatu yang selalu bisa dilawan hingga hilang. Ada hal-hal dalam hidup yang memang tidak dapat kita kendalikan. Ada kekhawatiran yang datang tanpa diundang. Ada ketakutan yang tetap hadir meskipun semuanya tampak baik-baik saja.

Mungkin, yang perlu kupelajari bukanlah cara mengusirnya, melainkan cara hidup berdampingan bersamanya dengan lebih tenang.

Bertahun-tahun kemudian, sebagian dari catatan kecil itu berkembang menjadi sebuah kisah berjudul "Berdamai dengan Kecemasan (Jurnal Kecil Seorang Ibu yang Belajar Tenang)."

Sebuah kisah yang tidak lahir dari sebuah keberhasilan besar, melainkan dari proses panjang belajar menerima diriku sendiri.

Dokumen pribadi
Ketika kisah tersebut terpilih dalam Festival Kisah Inspiratif Nasional 2026 dan menjadi bagian dari buku antologi Akar yang Mencari Tumbang Jilid 3, ada perasaan hangat yang sulit kujelaskan.

Bukan semata karena namaku tercetak dalam sebuah buku. Melainkan karena aku merasa sedang diingatkan pada sesuatu yang pernah sangat dekat denganku: menulis.

Saat itulah aku menyadari, dengan menulis ternyata aku menemukan jalannya sendiri.

Aku yang mengira sedang menjauh darinya.

Padahal selama ini ia tetap ada. Tumbuh diam-diam di antara catatan-catatan kecil yang kutulis untuk bertahan melewati hari. Bersembunyi dalam jurnal-jurnal yang menjadi saksi kecemasan, ketakutan, sekaligus proses penerimaan diri.

Kini, catatan yang dulu hanya kutulis untuk diriku sendiri telah menemukan bentuk dan jalannya yang baru.

Insyaallah, buku antologi Akar yang Mencari Tumbang Jilid 10 akan diluncurkan pada 21 Juni 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Sebuah langkah kecil yang mengingatkanku: setiap tulisan memiliki waktunya sendiri dan setiap kata memiliki perjalanan yang tidak selalu bisa kita tebak.






Wednesday, May 6, 2026

Rumah Itu… Kamu

Konten [Tampil]
Photo by Danielle Dolson on Unsplash


Sebuah prosa reflektif tentang cinta dalam pernikahan—tentang tetap memilih, meski dalam hal-hal kecil yang kadang terasa menyakitkan.

Suamiku…

tulisan ini lahir dari hal yang sederhana.

Dari sebuah momen kecil—
saat aku berbicara,
dan kamu masih sibuk dengan ponselmu.

Aku sempat kesal.
Merasa diabaikan,
walau mungkin tidak sepenuhnya begitu.

Namun, entah kenapa,
dari rasa kesal itu, aku justru belajar memahami—

bahwa cinta kita
tidak selalu hadir dalam bentuk yang sempurna.

Meski kadang aku merasa kesal padamu,
aku tahu—itu hanya bagian kecil dari caraku mencintaimu.

Sebab semakin lama kita berjalan bersama,
aku mulai mengerti…

bahwa cinta tidak selalu hadir dalam bentuk yang manis dan mudah.

Kadang ia datang sebagai
diam yang panjang,

sebagai lelah
yang tak sempat diceritakan,

atau sebagai kesalahpahaman kecil
yang perlahan kita pelajari untuk pahami.

Dan dari semua itu, aku tahu satu hal—

aku tetap memilihmu.

Jujur saja,
kata syukur terasa tak pernah cukup
untuk menggambarkan hadirnya dirimu dalam hidupku.

Bukan karena semuanya selalu baik-baik saja,
melainkan karena di tengah segala yang tidak sempurna,
kita tetap menemukan alasan untuk bertahan.

Ada hari-hari yang terasa begitu berat.

Hari ketika pikiran terasa penuh,
hati terasa lelah,
dan dunia seolah berjalan terlalu cepat tanpa memberi kita jeda.

Di hari-hari seperti itu,
aku sering kali tak banyak bicara.

Aku hanya diam—

menyimpan segala rasa
yang bahkan sulit untuk kujelaskan.

Namun, setiap kali melihatmu tetap berjuang—
untukku, untuk kita, untuk keluarga ini—

hatiku selalu kembali tenang.

Seolah ada sesuatu yang berbisik pelan:

kamu tidak sedang berjalan sendirian.

Tak pernah sedikit pun aku menyesal memilikimu.

Bahkan di hari-hari yang terasa paling sulit,
aku justru belajar—

bahwa mencintaimu adalah keputusan
yang ingin kupilih, lagi dan lagi, setiap hari.

Bukan karena semuanya mudah,

melainkan karena
kamu tetap tinggal.

Kamu bukan hanya rumah bagiku,

tapi juga seseorang
yang memilih tetap tinggal—

bahkan saat segalanya terasa berat.

Dalam diam yang sederhana,
dalam lelah yang mungkin tak selalu kamu ceritakan,

aku tahu—

ada cinta yang tetap kamu jaga.

Terima kasih…

karena telah memilihku,
dan terus memilihku, setiap hari.

Bahkan saat aku mungkin
tidak selalu mudah untuk dipahami.

Aku mencintaimu—

lebih dari yang bisa dijelaskan
oleh kata-kata sederhana ini.

Dan mungkin, pada akhirnya…

rumah bukan tentang tempat kita pulang—

melainkan tentang siapa yang tetap tinggal.

Dan bagiku,
rumah itu… kamu.

Mungkin cinta memang sesederhana itu—
tetap tinggal, meski sedang tidak baik-baik saja.

Bogor, 28 April 2026

Note: diterbitkan juga di Medium



Tuesday, April 14, 2026

Review Na Willa 2026: Seorang Ibu Tak Selalu Benar

Konten [Tampil]

 

Dokumen pribadi

Tidak ada orangtua yang benar-benar siap.
Kita hanya belajar sambil berjalan—mengambil keputusan, membuat kesalahan, lalu berharap tidak terlalu banyak yang terlambat untuk diperbaiki.

Di situlah Na Willa (2026) menemukan kekuatannya—bukan pada cerita besar yang dramatis, melainkan pada hal-hal kecil yang terasa sangat dekat: kesalahan, penyesalan, dan keberanian untuk memperbaiki.

Film yang disutradarai Ryan Adriandhy ini membawa kita ke Surabaya tahun 80-an. Sebuah masa ketika hidup berjalan lebih pelan, tetapi justru memberi ruang bagi banyak hal untuk benar-benar dirasakan.

Dan mungkin, dalam perjalanan yang serba tidak pasti itu, kita sering lupa bahwa masa kecil tidak pernah butuh untuk dipercepat.

Masa Kecil yang Tidak Tergesa

Tidak ada layar yang menyita perhatian.
Tidak ada notifikasi yang terburu-buru.

Yang ada adalah langkah kaki menuju sekolah, suara radio di ruang keluarga, dan tawa anak-anak yang berlarian hingga senja.

Dunia dalam film ini terasa sederhana, tetapi justru di situlah letak kejujurannya. Masa kecil digambarkan sebagai ruang yang luas—tempat anak-anak belajar tanpa merasa sedang diajari.

Permainan engklek, layang-layang, hingga perjalanan dengan sepeda bukan sekadar latar, melainkan bagian dari proses tumbuh itu sendiri.

Di ruang yang lapang itulah, rasa ingin tahu itu tumbuh—tidak selalu rapi, dan tidak selalu mudah dipahami oleh orang dewasa.

idmb.com

Rasa Ingin Tahu yang Tidak Selalu Nyaman

Na Willa adalah anak yang tidak bisa diam dengan rasa ingin tahunya.
Ia bukan hanya melihat dunia—ia ingin memahaminya.

Ketika ia membongkar radio untuk mencari “di mana penyanyi itu berada,” kita tidak hanya melihat kenakalan anak kecil. Kita melihat cara seorang anak mencoba berdialog dengan dunia.

Namun, rasa ingin tahu seperti itu tidak selalu mudah diterima.

Emak, sebagai ibu, tidak selalu hadir sebagai sosok yang tenang dan tahu segalanya. Ia bisa marah. Ia bisa salah. Tetapi yang membuatnya berbeda adalah satu hal: ia memilih kembali.

Ia memilih menjelaskan.
Ia memilih memperbaiki.

Dan di situlah film ini terasa sangat manusiawi.

Namun, dari rasa ingin tahu yang sering dianggap “merepotkan” itu, ada satu hal yang diam-diam sedang dibentuk: sebuah kejujuran.

Tentang Kebohongan Kecil yang Tidak Pernah Benar-Benar Kecil

Ada satu metafora yang diam-diam menetap lama setelah film selesai:
kebohongan itu seperti kerikil di dalam sepatu.

Ia tidak selalu langsung melukai.
Tetapi ia membuat langkah terasa tidak nyaman.

Pelajaran ini menjadi benang merah yang mengikat perjalanan Na Willa. Ketika ia merasa diperlakukan tidak adil di sekolah—tidak dipercaya, tidak diberi ruang—ia tidak memilih diam.

Ia pulang. Ia bercerita.

Dan mungkin, di situlah pendidikan yang sebenarnya terjadi.
Bukan di ruang kelas, tetapi di ruang aman antara anak dan orangtua.

Ketika kejujuran itu benar-benar diuji, bukan hanya anak yang belajar—orangtua pun ikut dihadapkan pada cermin yang sama.

Ketika Orangtua Belajar dari Pilihannya Sendiri

Film ini tidak mencoba menjadikan orangtua sebagai sosok yang selalu benar.

Sebaliknya, ia menunjukkan sesuatu yang jarang diakui:
bahwa orangtua juga sedang belajar.

Pilihan sekolah yang kurang tepat.
Keputusan yang diambil berdasarkan rekomendasi, bukan pemahaman.

Namun alih-alih bertahan pada ego, Emak memilih untuk mencari ulang. Ia berjalan lagi. Ia mempertimbangkan lagi.

Ada keberanian yang sunyi di sana—keberanian untuk mengakui bahwa kita belum tahu segalanya.

Pada titik itulah, cerita ini perlahan berubah arah—bukan lagi hanya tentang anak yang tumbuh, melainkan tentang orangtua yang ikut berproses.

Lebih dari Cerita Anak, Ini Tentang Melepaskan Perlahan

Pada akhirnya, Na Willa bukan hanya tentang seorang anak yang tumbuh.

Ini adalah cerita tentang seorang ibu yang perlahan belajar melepaskan—
melepaskan rasa ingin selalu benar,
melepaskan kendali yang berlebihan,
dan mulai percaya pada proses tumbuh anaknya.

Film ini tidak berteriak.
Ia berbicara pelan.

Namun, justru karena itu, ia tinggal lebih lama.

Dan mungkin, setelah lampu bioskop kembali menyala, yang tersisa bukan hanya cerita tentang Na Willa.

Melainkan pertanyaan yang diam-diam kita bawa pulang:
sudahkah kita menjadi tempat yang cukup aman bagi anak untuk jujur—tanpa harus menyembunyikan kerikil di sepatunya?


Penutup

Barangkali, tidak ada orangtua yang benar-benar selesai belajar.
Tidak ada juga cara yang sepenuhnya sempurna untuk mencintai.

Kita hanya mencoba—di antara lelah, ragu, dan keinginan untuk tidak melukai terlalu dalam.

Dan seperti langkah yang pernah terasa mengganjal karena kerikil kecil itu, mungkin yang bisa kita lakukan hanyalah sesekali berhenti, melepasnya perlahan, lalu berjalan kembali dengan lebih ringan.

Bukan untuk menjadi orangtua yang tanpa salah,
melainkan menjadi tempat pulang yang tidak membuat anak takut untuk kembali.

Thursday, February 12, 2026

Jejak yang Ditinggalkan dengan Tenang

Konten [Tampil]

Photo by Dicko Yudhatama on Unsplash

Aku tidak mengenal beliau sedalam suamiku mengenalnya. Namun aku mengenal jejaknya—dari cara suamiku menyebut namanya dengan hormat, dari cerita-cerita yang disampaikan dengan mata yang hangat, dan dari kehilangan yang terasa begitu dalam ketika beliau berpulang.

Bagi suamiku, beliau bukan sekadar om. Ia adalah sahabat, orang tua, sekaligus teman perjalanan. Tumbuh bersama, berjalan menapaki waktu di kota Curup, saling menemani dalam tugas dan perjalanan hidup, seperti dua pejalan yang saling menjaga arah.

Tahun 2023, hidup mengujinya dengan stroke. Sebagian tubuhnya melemah, langkahnya bergantung pada kursi roda. Namun, ada yang tidak pernah lumpuh—hatinya tetap berjalan. Dalam keterbatasan itu, ia tetap memenuhi panggilan menuju Tanah Suci pada tahun 2024. Dengan tubuh yang rapuh tetapi iman yang tegak, ia menunaikan ibadah haji. Tawaf yang dilaluinya di atas kursi roda, sa’i yang ditempuh dengan kelelahan, hingga panas Arafah yang membakar, semuanya dijalani dengan kesabaran yang sunyi.

Seakan ia sedang menyempurnakan perjalanan panjangnya sebagai seorang hamba.

Sepulang dari Tanah Suci, langkah hidupnya terasa semakin tenang. Ada keteduhan yang sulit dijelaskan, seolah hatinya telah menemukan arah pulang.

Tahun lalu, tepat di bulan Februari, beliau mendatangi saudara dan karyawan di kantornya. Silaturahim yang tampak sederhana—senyum, percakapan hangat, dan doa yang panjang. Kini aku memahami, mungkin ia sedang merapikan jejak, membersihkan hubungan, dan menenangkan hati orang-orang yang akan ditinggalkannya.

Ada satu kebiasaan beliau yang selalu dikenang keluarga. Setiap pulang ke Bengkulu, ia tidak pernah melewatkan makan bersama di Pantai Panjang. Bukan jamuan mewah, melainkan masakan dari rumah yang dinikmati bersama di tepi laut—ditemani angin dan suara ombak. Bagi beliau, silaturahim adalah pertemuan yang dihangatkan oleh kebersamaan.

Aku masih mengingat akhir tahun 2023. Suamiku diminta menemani anak sulungnya menelusuri harta miliknya—rumah, tanah, dan kendaraan yang menjadi bagian dari perjalanan hidup beliau. Setelah itu kami diminta makan bersama di Pantai Panjang bersama adiknya dan anak sulungnya, seolah kebersamaan itu adalah sesuatu yang harus tetap terjaga, seperti tradisi yang tak boleh terlewat.

Perjalanan belum selesai. Kami diminta membelikan ikan laut aku lupa nama ikannya, di pasar ikan Bengkulu, lalu membawanya ke rumah sepupunya untuk dimasak sesuai selera beliau. Bagiku, itu terasa unik sekaligus menghangatkan—cara sederhana yang ia pilih untuk merajut kedekatan, mempertemukan keluarga, dan menciptakan kenangan.

Kini kupahami, barangkali semua itu bukan sekadar kebiasaan. Bagiku, itu seperti pelajaran yang ingin beliau tunjukkan kepada anak sulungnya—dan kepada kami semua: beginilah cara menjaga hubungan, beginilah cara merawat keluarga, sahabat, dan relasi. Tanpa banyak kata, ia mengajarkan bahwa silaturahim adalah warisan yang harus dijaga.

Agustus 2024 menjadi pertemuan terakhir kami, saat aku dan suami mengantar anak bungsu ke Yogyakarta untuk memulai perjalanannya sebagai mahasiswa baru di Universitas Gadjah Mada. Pertemuan itu hangat dan sederhana, tanpa firasat apa pun. Namun kini, ketika diingat kembali, ada ketenangan yang tertinggal lebih lama—seakan beliau sedang menitipkan restu terakhir.

Barangkali begitulah cara Allah memanggil hamba-Nya—dengan kelembutan yang tak selalu disadari. Ia diberi kesempatan menyempurnakan ibadah, mempererat silaturahim, meninggalkan teladan, lalu menutup perjalanan dunia dengan hati yang lapang.

Kini aku memahami, ada manusia yang kehadirannya menjadi rumah bagi banyak orang. Dan ketika rumah itu dipanggil kembali oleh Pemiliknya, yang tertinggal bukan hanya duka, tetapi juga jejak keteladanan.

Tubuh boleh melemah, langkah boleh terbatas, tetapi iman selalu menemukan jalannya.  Ketika waktunya tiba, langkah itu akhirnya sampai—pulang kepada Allah dengan tenang.

Untukmu, suamiku—semoga tulisan ini menjadi teman bagi hatimu yang sedang berduka.


Monday, February 2, 2026

Review Film Miracle in Cell No. 7: Cinta Ayah dan Anak Tak Terpenjara

Konten [Tampil]

Sumber foto: idmb.com


Identitas Film

Judul: Miracle in Cell No. 7
Sutradara: Lee Hwan-kyung
Tahun rilis: 2013
Negara: Korea Selatan
Genre: Drama, Keluarga
Durasi: ±127 menit

Review Film

Miracle in Cell No. 7 (2013) adalah film yang tidak datang dengan janji akhir bahagia. Ia hadir seperti surat yang ditulis dengan tangan gemetar—sederhana, jujur, dan pelan-pelan menyentuh bagian hati yang paling rapuh. Disutradarai oleh Lee Hwan-kyung, film ini mengisahkan Lee Yong-gu, seorang ayah dengan keterbatasan intelektual, dan Ye-seung, putri kecilnya yang tumbuh di dalam cinta yang polos dan tanpa syarat.

Di awal cerita, hidup mereka digambarkan seperti pagi yang selalu sama: rutinitas kecil, tawa sederhana, dan dunia yang cukup selama mereka saling punya. Yong-gu bukan ayah yang pandai menjelaskan dunia, tapi ia tahu satu hal penting—bagaimana mencintai anaknya sepenuh hati. Namun, hidup seperti pintu besi yang ditutup terlalu keras, tiba-tiba mengubah segalanya. Sebuah tragedi membuat Yong-gu salah tuduh dan dijatuhi hukuman mati. Dari titik ini, film tidak berusaha menjadi heroik. Ia justru memilih sunyi sebagai bahasa utama.

Penjara dalam film ini bukan sekadar ruang fisik, melainkan simbol bagaimana sistem bisa mencabut rasa kemanusiaan seseorang hanya dengan satu label. Namun, keajaiban kecil muncul dari tempat yang tidak terduga: para narapidana lain. Di antara dinding kusam dan jeruji dingin, mereka menjadi saksi bahwa empati masih bisa tumbuh, bahkan di tanah yang paling gersang. Mereka membantu Yong-gu agar Ye-seung tetap bisa bertemu ayahnya, seolah ingin berkata bahwa hukum mungkin kaku, tapi hati manusia tidak selalu ikut membeku.

Adegan perpisahan terakhir menjadi inti emosi film ini. Tidak ada musik yang memaksa tangis. Tidak ada dialog berlebihan. Hanya seorang anak kecil yang mengucapkan terima kasih karena sudah memiliki ayah, dan seorang ayah yang bersyukur pernah menjadi rumah bagi anaknya. Mereka berjalan berdampingan di lorong penjara, tangan kecil menggenggam tangan besar, seperti dua musafir yang tahu perjalanan ini akan segera berakhir. Momen itu terasa seperti lilin yang menyala di tengah badai—kecil, rapuh, tapi cukup untuk menerangi satu langkah terakhir.

Film ini seakan berbisik bahwa hidup tidak selalu memberi keadilan, dan doa tidak selalu berujung keajaiban. Namun, di antara vonis, hukuman, dan kehilangan, masih ada ruang untuk memeluk sebentar, mengucap terima kasih, dan mengakui cinta. Miracle in Cell No. 7 mengingatkan kita bahwa yang paling bertahan bukanlah sistem atau kekuasaan, melainkan hubungan antara orang tua dan anak—cinta yang tidak bisa dipenjara, bahkan ketika waktu dan nyawa harus dibayar mahal.



Menonton Miracle in Cell No. 7 membuatku menatap ulang makna cinta dan perpisahan, mengingatkan kembali lorong-lorong sunyi dalam hidup yang pernah aku lalui. Adegan terakhir, tangan kecil menggenggam tangan ayah, seolah membawa aku kembali ke bangsal rumah sakit—keheningan, napas yang menipis, dan doa yang lirih.

Semua itu aku tuangkan dalam tulisan untuk event Between Nostalgia Pages hari ke-6 berjudul Lorong Terakhir Bernama Ikhlas.
Kamu bisa menyimaknya lebih lengkap di Instagram atau Facebook melalui tautan ini:


Thursday, January 29, 2026

The Pursuit of Happyness: Belajar Bertahan Saat Hidup Terasa Berat

Konten [Tampil]

sumber foto: idmb.com
Review The Pursuit of Happyness (2006), film kisah nyata Chris Gardner tentang perjuangan, ayah tunggal, dan belajar bertahan saat hidup tidak mudah.

Ada film yang tidak datang membawa jawaban cepat atau kata-kata penyemangat yang lantang. Ia justru memilih menemani kita lebih lama di ruang lelah yang sering tak terucap. The Pursuit of Happyness adalah film seperti itu.

Aku kembali menontonnya—kali ini bersama suami lewat nobar online—dan perasaan yang muncul masih sama: tenang, tapi menghunjam. Film ini tidak mendesak kita untuk segera bangkit, tidak menyuruh kita berpura-pura kuat. Ia berjalan perlahan, setia, seperti seseorang yang duduk di sampingmu tanpa banyak bicara, hanya memastikan kamu tidak sendirian. Seolah berkata, lelah boleh, menyerah jangan.

Film ini tidak menjual mimpi tentang hidup yang mudah. Ia hanya mengingatkan satu hal sederhana: selama kita terus melangkah, harapan tak pernah benar-benar hilang.

Identitas Film

Judul: The Pursuit of Happyness
Tahun: 2006
Genre: Drama, Biografi
Durasi: 117 menit
Sutradara: Gabriele Muccino
Pemeran: Will Smith (Chris Gardner), Jaden Smith (Christopher Gardner Jr.)
Berdasarkan kisah nyata: Chris Gardner

Chris Gardner digambarkan berada di fase hidup paling rapuh. Pekerjaan yang tak menentu, tekanan finansial yang mencekik, kehilangan tempat tinggal, dan tanggung jawab sebagai orang tua tunggal datang bersamaan—tanpa jeda, tanpa belas kasihan.

Namun yang membuat cerita ini begitu kuat bukanlah daftar kesulitannya, melainkan pilihannya untuk tetap hadir bagi sang anak. Di tengah hidup yang nyaris runtuh, Chris tetap berusaha menjadi tempat paling aman bagi putranya.

Will Smith memerankan Chris dengan kejujuran yang terasa. Tidak dramatis berlebihan, tidak dibuat heroik. Justru lewat keheningan, tatapan kosong, dan jeda panjang, kita diajak masuk ke dalam kelelahan yang nyata. Tidak ada orasi motivasi, hanya keteguhan seseorang yang terus berdiri meski lututnya gemetar.

Sementara Jaden Smith hadir sebagai Christopher kecil yang sederhana, namun penuh makna. Ia menjadi alasan mengapa seseorang tetap bertahan—karena cinta. Karena ada yang harus dijaga, meski langkah terasa berat dan jalan terasa panjang.

idmb.com
Film ini menyentil kenyataan yang sering ingin kita sangkal: proses hidup tidak selalu adil. Usaha keras tidak selalu dibalas cepat. Kadang yang kita miliki hanyalah hari demi hari yang harus dilalui, tanpa jaminan apa pun di ujungnya.

Dan justru di sanalah makna happyness itu bersembunyi. Bukan hanya pada hasil, melainkan pada keberanian untuk terus melangkah, bahkan ketika arah terasa kabur.

Ejaan happyness yang tidak biasa pun terasa simbolis. Seolah ingin mengatakan bahwa kebahagiaan tidak selalu rapi dan sempurna. Ia bisa datang lewat jalan yang salah, tertunda, bahkan terasa menyakitkan di awal. Tapi tetap pantas diperjuangkan.

Menonton film ini saat hidup sedang berat membuatku mengingat satu hal penting: lelah bukan dosa, berhenti yang berbahaya. Tidak semua orang mendapat jalan lurus. Sebagian dari kita memang harus melewati lorong sempit, gelap, dan sunyi—sebelum akhirnya sampai.

The Pursuit of Happyness bukan sekadar film inspiratif. Ia adalah cermin. Tentang hidup, peran sebagai manusia, tanggung jawab, dan harapan yang dijaga pelan-pelan dengan kesabaran.

Mungkin itulah alasan film ini tak pernah usang. Ia selalu menemukan jalannya kembali ke hati kita—terutama saat kita sedang berjuang.

Kalau kamu, bagaimana?
Apakah film ini juga pernah menemanimu di masa-masa berat?