![]() |
| Photo by Danielle Dolson on Unsplash |
Suamiku…
tulisan ini lahir dari hal yang sederhana.
Dari sebuah momen kecil—
saat aku berbicara,
dan kamu masih sibuk dengan ponselmu.
Aku sempat kesal.
Merasa diabaikan,
walau mungkin tidak sepenuhnya begitu.
Namun, entah kenapa,
dari rasa kesal itu, aku justru belajar memahami—
bahwa cinta kita
tidak selalu hadir dalam bentuk yang sempurna.
Meski kadang aku merasa kesal padamu,
aku tahu—itu hanya bagian kecil dari caraku mencintaimu.
Sebab semakin lama kita berjalan bersama,
aku mulai mengerti…
bahwa cinta tidak selalu hadir dalam bentuk yang manis dan mudah.
Kadang ia datang sebagai
diam yang panjang,
sebagai lelah
yang tak sempat diceritakan,
atau sebagai kesalahpahaman kecil
yang perlahan kita pelajari untuk pahami.
Dan dari semua itu, aku tahu satu hal—
aku tetap memilihmu.
Jujur saja,
kata syukur terasa tak pernah cukup
untuk menggambarkan hadirnya dirimu dalam hidupku.
Bukan karena semuanya selalu baik-baik saja,
melainkan karena di tengah segala yang tidak sempurna,
kita tetap menemukan alasan untuk bertahan.
Ada hari-hari yang terasa begitu berat.
Hari ketika pikiran terasa penuh,
hati terasa lelah,
dan dunia seolah berjalan terlalu cepat tanpa memberi kita jeda.
Di hari-hari seperti itu,
aku sering kali tak banyak bicara.
Aku hanya diam—
menyimpan segala rasa
yang bahkan sulit untuk kujelaskan.
Namun, setiap kali melihatmu tetap berjuang—
untukku, untuk kita, untuk keluarga ini—
hatiku selalu kembali tenang.
Seolah ada sesuatu yang berbisik pelan:
kamu tidak sedang berjalan sendirian.
Tak pernah sedikit pun aku menyesal memilikimu.
Bahkan di hari-hari yang terasa paling sulit,
aku justru belajar—
bahwa mencintaimu adalah keputusan
yang ingin kupilih, lagi dan lagi, setiap hari.
Bukan karena semuanya mudah,
melainkan karena
kamu tetap tinggal.
Kamu bukan hanya rumah bagiku,
tapi juga seseorang
yang memilih tetap tinggal—
bahkan saat segalanya terasa berat.
Dalam diam yang sederhana,
dalam lelah yang mungkin tak selalu kamu ceritakan,
aku tahu—
ada cinta yang tetap kamu jaga.
Terima kasih…
karena telah memilihku,
dan terus memilihku, setiap hari.
Bahkan saat aku mungkin
tidak selalu mudah untuk dipahami.
Aku mencintaimu—
lebih dari yang bisa dijelaskan
oleh kata-kata sederhana ini.
Dan mungkin, pada akhirnya…
rumah bukan tentang tempat kita pulang—
melainkan tentang siapa yang tetap tinggal.
Dan bagiku,
rumah itu… kamu.
Mungkin cinta memang sesederhana itu—
tetap tinggal, meski sedang tidak baik-baik saja.
Bogor, 28 April 2026
Note: diterbitkan juga di Medium








