| Dokumen pribadi |
Tidak ada orangtua yang benar-benar siap.
Kita hanya belajar sambil berjalan—mengambil keputusan, membuat kesalahan, lalu berharap tidak terlalu banyak yang terlambat untuk diperbaiki.
Di situlah Na Willa (2026) menemukan kekuatannya—bukan pada cerita besar yang dramatis, melainkan pada hal-hal kecil yang terasa sangat dekat: kesalahan, penyesalan, dan keberanian untuk memperbaiki.
Film yang disutradarai Ryan Adriandhy ini membawa kita ke Surabaya tahun 80-an. Sebuah masa ketika hidup berjalan lebih pelan, tetapi justru memberi ruang bagi banyak hal untuk benar-benar dirasakan.
Dan mungkin, dalam perjalanan yang serba tidak pasti itu, kita sering lupa bahwa masa kecil tidak pernah butuh untuk dipercepat.
Masa Kecil yang Tidak Tergesa
Tidak ada layar yang menyita perhatian.
Tidak ada notifikasi yang terburu-buru.
Yang ada adalah langkah kaki menuju sekolah, suara radio di ruang keluarga, dan tawa anak-anak yang berlarian hingga senja.
Dunia dalam film ini terasa sederhana, tetapi justru di situlah letak kejujurannya. Masa kecil digambarkan sebagai ruang yang luas—tempat anak-anak belajar tanpa merasa sedang diajari.
Permainan engklek, layang-layang, hingga perjalanan dengan sepeda bukan sekadar latar, melainkan bagian dari proses tumbuh itu sendiri.
Di ruang yang lapang itulah, rasa ingin tahu itu tumbuh—tidak selalu rapi, dan tidak selalu mudah dipahami oleh orang dewasa.
![]() |
| idmb.com |
Rasa Ingin Tahu yang Tidak Selalu Nyaman
Na Willa adalah anak yang tidak bisa diam dengan rasa ingin tahunya.
Ia bukan hanya melihat dunia—ia ingin memahaminya.
Ketika ia membongkar radio untuk mencari “di mana penyanyi itu berada,” kita tidak hanya melihat kenakalan anak kecil. Kita melihat cara seorang anak mencoba berdialog dengan dunia.
Namun, rasa ingin tahu seperti itu tidak selalu mudah diterima.
Emak, sebagai ibu, tidak selalu hadir sebagai sosok yang tenang dan tahu segalanya. Ia bisa marah. Ia bisa salah. Tetapi yang membuatnya berbeda adalah satu hal: ia memilih kembali.
Ia memilih menjelaskan.
Ia memilih memperbaiki.
Dan di situlah film ini terasa sangat manusiawi.
Namun, dari rasa ingin tahu yang sering dianggap “merepotkan” itu, ada satu hal yang diam-diam sedang dibentuk: sebuah kejujuran.
Tentang Kebohongan Kecil yang Tidak Pernah Benar-Benar Kecil
Ada satu metafora yang diam-diam menetap lama setelah film selesai:
kebohongan itu seperti kerikil di dalam sepatu.
Ia tidak selalu langsung melukai.
Tetapi ia membuat langkah terasa tidak nyaman.
Pelajaran ini menjadi benang merah yang mengikat perjalanan Na Willa. Ketika ia merasa diperlakukan tidak adil di sekolah—tidak dipercaya, tidak diberi ruang—ia tidak memilih diam.
Ia pulang. Ia bercerita.
Dan mungkin, di situlah pendidikan yang sebenarnya terjadi.
Bukan di ruang kelas, tetapi di ruang aman antara anak dan orangtua.
Ketika kejujuran itu benar-benar diuji, bukan hanya anak yang belajar—orangtua pun ikut dihadapkan pada cermin yang sama.
Ketika Orangtua Belajar dari Pilihannya Sendiri
Film ini tidak mencoba menjadikan orangtua sebagai sosok yang selalu benar.
Sebaliknya, ia menunjukkan sesuatu yang jarang diakui:
bahwa orangtua juga sedang belajar.
Pilihan sekolah yang kurang tepat.
Keputusan yang diambil berdasarkan rekomendasi, bukan pemahaman.
Namun alih-alih bertahan pada ego, Emak memilih untuk mencari ulang. Ia berjalan lagi. Ia mempertimbangkan lagi.
Ada keberanian yang sunyi di sana—keberanian untuk mengakui bahwa kita belum tahu segalanya.
Pada titik itulah, cerita ini perlahan berubah arah—bukan lagi hanya tentang anak yang tumbuh, melainkan tentang orangtua yang ikut berproses.
Lebih dari Cerita Anak, Ini Tentang Melepaskan Perlahan
Pada akhirnya, Na Willa bukan hanya tentang seorang anak yang tumbuh.
Ini adalah cerita tentang seorang ibu yang perlahan belajar melepaskan—
melepaskan rasa ingin selalu benar,
melepaskan kendali yang berlebihan,
dan mulai percaya pada proses tumbuh anaknya.
Film ini tidak berteriak.
Ia berbicara pelan.
Namun, justru karena itu, ia tinggal lebih lama.
Dan mungkin, setelah lampu bioskop kembali menyala, yang tersisa bukan hanya cerita tentang Na Willa.
Melainkan pertanyaan yang diam-diam kita bawa pulang:
sudahkah kita menjadi tempat yang cukup aman bagi anak untuk jujur—tanpa harus menyembunyikan kerikil di sepatunya?
Penutup
Barangkali, tidak ada orangtua yang benar-benar selesai belajar.
Tidak ada juga cara yang sepenuhnya sempurna untuk mencintai.
Kita hanya mencoba—di antara lelah, ragu, dan keinginan untuk tidak melukai terlalu dalam.
Dan seperti langkah yang pernah terasa mengganjal karena kerikil kecil itu, mungkin yang bisa kita lakukan hanyalah sesekali berhenti, melepasnya perlahan, lalu berjalan kembali dengan lebih ringan.
Bukan untuk menjadi orangtua yang tanpa salah,
melainkan menjadi tempat pulang yang tidak membuat anak takut untuk kembali.








