![]() |
Photo by Carter Hightower on Unsplash |
Kualitas tulisan hari ini, benarkah harus bersaing dengan algoritma?
~Suara Hati Seorang Ibu Rumah Tangga~
![]() |
Photo by Carter Hightower on Unsplash |
![]() |
| Ilustrasi: Menulis adalah awal sebuah perjalanan. (Photo by Clay Banks on Unsplash) |
Pertanyaan itu sederhana, tetapi mengingatkan saya bahwa buku bukan garis akhir. Di baliknya ada tujuan, peluang, dan dampak yang perlu dipikirkan sejak awal sebelum karya menemukan jalannya.
Lalu, ke mana sebenarnya sebuah karya hendak dibawa? Dari resume sharing Teh Indari Mastuti, saya menemukan bahwa jawabannya bermula dari dua hal penting: niat dan tujuan.
Dari catatan sharing tersebut, Teh Indari Mastuti mengingatkan bahwa kemampuan sales dan marketing saja tidak cukup untuk mengembangkan sebuah karya. Seorang penulis juga perlu memiliki niat dan arah yang jelas sejak awal.
Segala sesuatu sebaiknya dimulai dengan mengharap ridho Allah. Bagi saya, pesan ini mengingatkan bahwa menulis tidak selalu tentang materi. Income memang dapat menjadi salah satu tujuan, tetapi karya juga bisa menjadi bentuk ikhtiar untuk memberikan manfaat.
Setelah niat diluruskan, pertanyaan berikutnya adalah: apa goal dari karya tersebut? Tujuan setiap buku bisa berbeda. Ada yang ingin mendapatkan penghasilan, membangun personal branding, memperoleh klien, membuka peluang speaking atau mengajar, hingga mengembangkan bisnis.
Karena itu, sejak awal penulis perlu mengetahui arah karyanya. Niat memberikan landasan, sementara goal membantu menentukan langkah agar karya tidak berhenti sebagai tulisan. Ketika niat dan tujuan sudah jelas, sebuah karya dapat berkembang menjadi bagian dari perjalanan penulis untuk membangun diri, membuka peluang, dan memberikan manfaat.
Dari sinilah saya melihat relevansi perjalanan Indscript Creative dengan gagasan From Writing to Inspiring yang menjadi tema Milad ke-19. Menulis bukan hanya tentang menghasilkan naskah, tetapi juga tentang bagaimana sebuah karya diarahkan agar menemukan pembacanya, membuka peluang, dan memberikan manfaat. Sebuah buku dapat menjadi produk, sumber income, alat personal branding, hingga pintu networking dan peluang baru. Karena itu, sejak awal penulis perlu bertanya: karya ini ingin membawa saya ke mana? Jawabannya dapat membantu menentukan langkah setelah tulisan selesai.
Menentukan target pembaca membantu penulis memahami siapa yang ingin dijangkau dan kebutuhan yang ingin dijawab. Semakin jelas sasarannya, semakin mudah menentukan pesan, gaya bahasa, serta manfaat yang relevan bagi pembaca.
Sebuah karya dapat menjadi bagian dari personal branding. Ketika konsisten menulis dalam bidang tertentu, pembaca perlahan mengenali identitas, kompetensi, dan nilai yang dibawa penulis. Karena itu, buku bukan sekadar kumpulan tulisan, tetapi juga sarana untuk memperkenalkan siapa kita dan apa yang ingin kita perjuangkan.
Pertanyaan ini sering terlewat. Kita sibuk menyelesaikan buku, tetapi lupa memikirkan langkah setelah terbit. Padahal, karya dapat membuka peluang promosi, kolaborasi, networking, hingga bisnis dengan goal yang jelas.
Pesan Teh Indari Mastuti membuat saya memahami bahwa sales dan marketing penting untuk mengembangkan karya, tetapi penjualan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Dampak menulis juga dapat hadir melalui manfaat bagi pembaca, perubahan, relasi, peluang baru, bahkan sebuah pesan sederhana yang menunjukkan bahwa tulisan kita pernah berarti bagi seseorang.
![]() |
Karya membuka jalan menuju peluang dan dampak. (Photo by Kourosh Qaffari on Unsplash) |
Dari insight sharing Teh Indari Mastuti, saya merangkumnya menjadi beberapa langkah sederhana yang bisa menjadi pengingat bagi penulis.
1. Luruskan Niat Tentukan alasan mengapa kita menulis dan berkarya. Jadikan proses tersebut sebagai ikhtiar yang memiliki nilai dan manfaat.
2. Tentukan Goal Jangan menulis tanpa mengetahui arah. Tentukan apakah karya ditujukan untuk income, personal branding, networking, peluang bisnis, atau kebermanfaatan.
3. Kenali Target Pembaca Ketahui siapa yang ingin kita jangkau dan masalah apa yang ingin kita bantu melalui tulisan.
4. Siapkan Strategi Setelah mengetahui goal dan target, tentukan bagaimana karya akan diperkenalkan, dipasarkan, dan dikembangkan.
5. Pikirkan Dampaknya Jangan hanya bertanya berapa banyak buku yang terjual. Tanyakan juga manfaat apa yang akan dirasakan pembaca dan peluang apa yang dapat tumbuh dari karya tersebut.
Tema From Writing to Inspiring dalam Milad ke-19 Indscript Creative mengingatkan saya bahwa menulis adalah awal sebuah perjalanan. Dari tulisan lahir karya, pesan, dan dampak. Ketika sampai kepada pembaca, sebuah karya dapat menginspirasi, membuka percakapan, bahkan mengubah cara seseorang memandang dirinya.
Perjalanan menulis tidak selalu harus dilakukan seorang diri. Komunitas penulis perempuan dapat menjadi ruang untuk belajar, berbagi, berdiskusi, dan saling menguatkan. Ada penulis yang awalnya hanya berani menulis untuk diri sendiri, kemudian percaya diri membagikan karyanya. Ada pula yang berani menerbitkan buku karena mendapat dukungan. Dari komunitas, penulis bertumbuh dan dampak karyanya pun semakin luas.
![]() |
Iluystasi refleksi pribadi sebagai penulis. |
Gagasan yang disampaikan Teh Indari Mastuti membuat saya merenungi kembali perjalanan menulis selama ini. Menulis menjadi ruang untuk menuangkan cerita, pengalaman, dan keresahan. Namun, pertanyaan “karya ini mau dibawa ke mana?” membuat saya ingin tulisan tidak berhenti pada publikasi, tetapi menjadi ruang berbagi yang menemani, menguatkan, dan menginspirasi pembaca.
Indscript Creative melalui semangat From Writing to Inspiring mengingatkan saya bahwa menulis bukan sekadar menghasilkan buku, tetapi tentang niat, goal, target, strategi, dan dampak. Pemikiran Teh Indari Mastuti juga membuka pemahaman bahwa karya dapat menjadi sumber income, personal branding, networking, sekaligus jalan kebermanfaatan. Sebab, tulisan akan menemukan maknanya ketika mampu memberi dampak.
![]() |
| Ilustrasi: Ruang keluarga dengan furniture kayu natural bergaya minimalis. (Photo by Spacejoy on Unsplash) |
Rumah yang dahulu terasa cukup, bisa saja menjadi semakin penuh ketika kebutuhan bertambah. Karena itu, memilih furniture tidak cukup hanya mempertimbangkan bentuk dan warna. Fungsi, ukuran, serta kesesuaiannya dengan ruang juga menjadi bagian penting. Dari kebutuhan untuk membuat rumah lebih tertata inilah, kita bisa melihat furniture dari sudut pandang yang berbeda.
Ilustrasi: Furniture multifungsi berbahan kayu untuk memaksimalkan ruang rumah |
![]() |
| Ilustrasi Ruang keluarga yang ditata dengan furniture multifungsi dan penyimpanan yang rapi. (Photo by Bailey Alexander on Unsplash) |
![]() |
| Ilustrasi:Satu bibit = satu harapan, sebagai solusi ketahanan pangan keluarga melalui pekarangan rumah Photo by Madara on Unsplash |
![]() |
Ilustrasi hutan pangan di rumah untuk mendukung ketahanan pangan keluarga. Photo by Pankaj Shah on Unsplash |
![]() |
| Ilustrasi Gerakan peduli lingkungan melalui urban farming dan pengelolaan sampah Photo by Brian Wangenheim on Unsplash |
Aku berharap semakin banyak keluarga yang terinspirasi memulai langkah kecil dari rumah. Jika Kamu ingin mengenal lebih dekat gerakan Naisar Garden, bergabunglah melalui kanal resmi WhatsApp yang berisi informasi seputar solusi ketahanan pangan, tata kelola sampah, serta program penukaran sampah menjadi sembako.
![]() |
| Ilustrasi: ruang kerja penulis. (Photo by Marcel R on Unsplash) |
19 Tahun Indscript Creative Menumbuhkan Penulis bukan sekadar tema perayaan Milad, melainkan cerminan perjalanan panjang sebuah komunitas yang konsisten membangun budaya literasi di Indonesia.
Banyak orang memulai perjalanan menulis dengan penuh
semangat. Mereka mengikuti kelas kepenulisan, membuat blog, atau bercita-cita
menerbitkan buku. Namun, tidak sedikit yang berhenti di tengah jalan ketika ide
mulai buntu, kesibukan mengambil alih, atau rasa percaya diri perlahan memudar.
Menjadi penulis bukan hanya tentang kemampuan merangkai
kata. Dibutuhkan ruang belajar, komunitas yang saling mendukung, serta
ekosistem yang mampu menjaga semangat untuk terus bertumbuh. Selama hampir dua
dekade, Indscript Creative menghadirkan ruang tersebut melalui berbagai program
yang mendorong lahirnya penulis, karya, dan kolaborasi yang memberi manfaat
lebih luas.
Didirikan oleh Indari Mastuti pada 8 September 2007, Indscript Creative berawal dari sebuah komunitas kepenulisan. Seiring waktu, Indscript berkembang menjadi agensi penulis yang menghadirkan berbagai layanan, mulai dari pendampingan penulisan buku, ghostwriter profesional, copywriting, hingga penerbitan buku.
Di saat yang sama, Indscript Creative terus membuka ruang
belajar bagi siapa saja yang ingin mengembangkan kemampuan menulis melalui
kelas, komunitas, dan berbagai program literasi.
Kekuatan Indscript Creative tidak hanya terletak pada
beragam program yang diselenggarakan, tetapi juga pada kemampuannya membangun
ekosistem berkarya. Di dalamnya, para penulis tidak hanya belajar teknik
menulis, tetapi juga didorong untuk berani memulai, terus belajar, saling
berbagi pengalaman, serta berkembang bersama.
Semangat tersebut sejalan dengan tema Milad ke-19, From
Writing to Inspiring, yang menjadikan menulis sebagai awal untuk menghadirkan
manfaat yang lebih luas. Menulis tidak lagi dipandang sekadar menghasilkan
tulisan, tetapi juga menjadi sarana berbagi pengalaman, membangun kolaborasi,
dan menginspirasi banyak orang.
Salah satu wujud nyata semangat tersebut terlihat melalui
penerbitan buku Beyond the Profession: 47 Kisah Inspiratif Para Profesionaldi Indonesia. Buku solo karya Indari Mastuti ini mempertemukan puluhan profesional dari berbagai
bidang untuk membagikan perjalanan hidup, tantangan, pembelajaran, serta
nilai-nilai yang mereka pegang selama menekuni profesinya.
Yang menarik, buku ini tidak hanya berbicara tentang
keberhasilan. Pembaca diajak melihat proses panjang di balik setiap pencapaian,
mulai dari kegagalan, ketekunan, hingga keberanian untuk bangkit. Melalui
kisah-kisah tersebut, pengalaman hidup menjadi lebih bermakna ketika dituliskan
dan dibagikan kepada orang lain.
Seperti kutipan yang terdapat dalam buku tersebut,
Kutipan tersebut menjadi pengingat bahwa tulisan memiliki
usia yang jauh lebih panjang daripada penulisnya. Apa yang ditulis hari ini
dapat terus hidup, dibaca, dan memberi manfaat lintas generasi.
Perjalanan Indscript Creative tidak berhenti pada dunia
kepenulisan. Melalui berbagai program, Indscript menunjukkan bahwa menulis
dapat menjadi titik awal lahirnya kolaborasi, kepedulian sosial, dan gerakan
yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Salah satu contohnya adalah kegiatan Sehat Berdampak yang
mempertemukan pegiat literasi, pendidik, pemerhati kesehatan, pelaku usaha
sosial, hingga penggerak lingkungan dalam satu ruang untuk berbagi pengalaman
dan membangun kolaborasi. Kegiatan ini menunjukkan bahwa literasi dapat
berjalan berdampingan dengan pendidikan, kesehatan, dan pelestarian lingkungan.
Komitmen tersebut juga tampak melalui pemberian apresiasikepada para guru pegiat literasi. Mereka tidak hanya mengajar di ruang kelas,
tetapi juga menghidupkan budaya membaca dan menulis melalui taman bacaan
masyarakat, pendampingan penulisan buku, serta berbagai program literasi di
sekolah. Upaya-upaya tersebut membuktikan bahwa perubahan dapat dimulai dari
langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Berbagai program tersebut memperlihatkan bahwa menulis
bukanlah tujuan akhir. Menulis menjadi awal untuk membangun jejaring,
menggerakkan kolaborasi, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas. Inilah makna
tema From Writing to Inspiring, ketika sebuah tulisan tidak berhenti sebagai
karya, tetapi berkembang menjadi inspirasi yang mendorong lahirnya aksi nyata.
19 Tahun Indscript Creative Menumbuhkan Penulis bukan
hanya terlihat dari banyaknya buku yang diterbitkan atau program yang
diselenggarakan, tetapi juga dari kemampuannya membangun ekosistem berkarya
yang saling menguatkan. Dari keberanian untuk memulai, mengubah pengalaman
menjadi warisan, menghadirkan kolaborasi yang berdampak, hingga menjaga
semangat berkarya para anggotanya, Indscript Creative membuktikan bahwa menulis
adalah proses bertumbuh yang mampu menginspirasi banyak orang.
Memasuki usia ke-19, semangat From Writing to Inspiring diharapkan terus melahirkan penulis, karya, dan kolaborasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat serta memperkuat budaya literasi Indonesia.
![]() |
| Perjalanan menulis bersama Indscript Creative yang membawa kembali ke blog Photo by Christin Hume on Unsplash |
Ada masa ketika aku mengira perjalanan menulisku akan selalu berawal dari blog dan suatu hari kembali ke sana. Di ruang sederhana itulah aku belajar menyusun artikel, membagikan pengalaman, serta menyimpan jejak setiap proses bertumbuh sebagai penulis.
Namun, perjalanan ternyata membawaku ke banyak persimpangan. Aku mulai menjelajahi berbagai ruang kepenulisan, dari Medium, dunia editor, penulis lepas, hingga eksplorasi konten visual dan berbagai event menulis. Aku menikmati setiap prosesnya, tetapi tanpa kusadari ada satu ruang yang semakin jarang kusapa: blog pribadiku.
Sampai akhirnya, pengumuman Blog Competition Milad ke-19 Indscript Creative mengingatkanku pada tempat pertama yang mengajarkanku
mencintai proses menulis. Bukan sekadar mengikuti sebuah kompetisi, melainkan
kembali ke rumah yang pernah menjadi saksi perjalanan awalku sebagai penulis.
Sudah beberapa kali aku membuka dashboard blog pribadiku di
Blogger. Jemariku sempat menari di atas papan ketik, tetapi selalu berhenti
sebelum satu paragraf pun selesai kutulis. Bukan karena kehabisan ide,
melainkan karena terlalu lama meninggalkan ruang yang dulu begitu akrab.
Padahal, aku tidak pernah berhenti menulis. Dalam dua tahun
terakhir, perjalananku justru berkembang ke berbagai arah. Aku aktif menulis di
Medium, menjadi editor di Publikasi Perspektif Perempuan, belajar menjadi
penulis lepas, membuat konten visual berbasis kutipan, serta terus belajar
menulis prosa reflektif dan kisah inspiratif.
Tanpa kusadari, semua perjalanan itu membuat blog pribadiku
semakin jarang terisi. Bukan karena aku kehilangan kecintaan pada dunia
kepenulisan, melainkan karena aku sedang belajar menemukan bentuk tulisan yang
paling dekat dengan diriku.
Kini, melalui Blog Competition Milad ke-19, aku ingin
kembali menghidupkan blog sebagai ruang untuk mendokumentasikan perjalanan,
berbagi pengalaman, dan terus bertumbuh sebagai penulis.
![]() |
Proses belajar menulis bersama Indscript Creative |
Perjalanan itu berlanjut ketika aku mengikuti kelas artikel dan blog. Sedikit demi sedikit aku memahami bahwa blog bukan hanya tempat memublikasikan tulisan, tetapi juga ruang untuk membangun portofolio, mendokumentasikan proses belajar, dan berbagi manfaat kepada pembaca.
Semakin mengenal Indscript Creative, semakin aku
memahami bahwa tempat ini bukan sekadar penyelenggara kelas menulis.
Didirikan oleh Indari Mastuti pada 8 September 2007,
Indscript Creative berawal sebagai agensi naskah yang menjembatani penulis
dengan penerbit. Kini, setelah hampir dua dekade, Indscript Creative berkembang
menjadi writing agency sekaligus ekosistem literasi yang menghadirkan
pelatihan kepenulisan, pendampingan penulis, pengembangan komunitas, personal
branding, hingga layanan penulisan profesional.
Selama 19 tahun, Indscript Creative terus mempertemukan penulis, pendidik, pelaku usaha, komunitas, dan berbagai mitra untuk bertumbuh bersama melalui ilmu, karya, dan kolaborasi. Perjalanan itulah yang membuatku memahami bahwa menulis tidak berhenti ketika sebuah tulisan selesai dipublikasikan.
Perjalanan bersama Indscript Creative tidak berhenti setelah
kelas selesai. Justru dari sanalah aku mulai berani menjelajahi berbagai ruang
kepenulisan.
Aku aktif menulis di Medium, dipercaya menjadi editor di
Publikasi Perspektif Perempuan, mencoba menjadi penulis lepas, hingga
mengeksplorasi CapCut sebagai media untuk menyampaikan kutipan-kutipan
inspiratif dalam bentuk visual.
Aku menyadari bahwa tulisan tidak harus selalu hadir dalam
bentuk buku atau artikel. Selama mampu memberi manfaat, sebuah tulisan dapat
hidup dalam berbagai media.
Tema Milad ke-19 "From Writing to Inspiring" terasa begitu dekat dengan perjalanan yang sedang kujalani.
Aku memahami bahwa menulis bukanlah tujuan akhir. Sebuah
tulisan tidak berhenti ketika selesai diterbitkan, tetapi terus hidup melalui
manfaat yang dirasakan pembacanya.
Seperti yang disampaikan oleh pendiri Indscript Creative, Teh Indari Mastuti,
Kalimat itu membuatku semakin yakin bahwa setiap pengalaman yang kutulis, sekecil apa pun, dapat menjadi pengingat, penguat, atau bahkan inspirasi bagi orang lain.
![]() |
| Notebook dan pena simbol perjalanan menulis Indscript Creative Photo by Hayley Maxwell on Unsplash |
Blog Competition Milad ke-19 bukan sekadar ajang menulis bagiku. Kompetisi ini menjadi momentum untuk kembali menghidupkan blog yang pernah menjadi rumah pertamaku sebagai penulis.
Di tengah berbagai media yang terus berkembang, blog tetap
memiliki tempat yang istimewa. Di sanalah aku bisa bercerita lebih utuh,
menuliskan pengalaman dengan lebih leluasa, dan mendokumentasikan perjalanan
yang mungkin suatu hari nanti ingin kubaca kembali.
Perayaan Milad ke-19 juga mengingatkanku bahwa sejak berdiri
pada tahun 2007, Indscript Creative terus membangun ekosistem literasi yang
mempertemukan penulis, pendidik, pelaku usaha, komunitas, dan pegiat sosial.
Semangat kolaborasi itulah yang membuat perjalanan menulis terasa tidak pernah
sepi.
Agustus ini, aku ingin kembali menjadikan blog sebagai ruang
untuk belajar, berbagi, dan bertumbuh. Bersamaan dengan itu, aku juga menantang
diriku untuk menulis cerita bersambung setiap hari sebagai bagian dari proses
belajar menjadi penulis yang lebih baik.
Barangkali, setiap penulis memang memiliki rumah yang selalu
ingin ia pulangi. Bagiku, rumah itu adalah blog.
Terima kasih, Indscript Creative, karena telah menjadi
bagian dari perjalanan yang membawaku kembali membuka halaman baru. Semoga
setiap tulisan yang lahir dari sini bukan hanya selesai dibaca, tetapi juga
meninggalkan manfaat bagi siapa pun yang singgah.
Tanpa pernah kusadari, perjalanan itulah yang membawaku sampai ke titik
ini—menulis sebagai cara untuk bertahan, sembuh, dan mengerti bahwa Allah tak
pernah meninggalkanku.
Hidupku berubah drastis pada usia yang begitu muda, ketika dokter
mengatakan ada tumor di otakku. Ruang tunggu rumah sakit mendadak terasa
sempit, udara seperti menolak masuk ke paru-paruku. Aku hanya terduduk,
mendengar detak jantungku sendiri yang seakan berlari tanpa tujuan.
Apa ini benar terjadi padaku?
Pertanyaan itu menghantam berkali-kali.
Saat itu, aku masih mahasiswi analis kimia semester tiga—penuh mimpi,
penuh harapan. Kejang pertama di usia 20 tahun kukira hanya kelelahan. Namun,
ia datang lagi, dan lagi, hingga CT Scan menunjukkan kebenaran yang tak ingin
kuterima—ada tumor di otakku.
Duniaku runtuh seketika. Namun, dari titik runtuh itulah kekuatan dalam
diriku mulai tumbuh.
Operasi Pertama dan Tahun-Tahun Panjang Menjaga Asa
Setelah berobat ke sana-sini dan mencari second opinion, keluargaku
memutuskan operasi kraniotomi. Alhamdulillah, hasilnya menunjukkan Astrocytoma
grade 1—tumor jinak. Aku tak perlu kemoterapi ataupun radiasi, hanya harus
berdamai dengan obat anti kejang.
Aku melanjutkan hidup—kuliah, wisuda, menikah, membangun keluarga. Namun,
setiap kali tubuh lelah, kejang itu datang lagi. Aku belajar hidup dengan
waspada, tetapi tetap bersyukur karena masih diberi usia.
Dua Puluh Tahun Kemudian: Ketakutan yang Mengetuk Kembali
Setelah hampir dua dekade, kejang itu semakin sering. Dokter menyarankan MRI
ulang, dan hasilnya membuatku kembali terdiam lama—tumor itu tumbuh lagi, pelan
tetapi pasti.
“Operasi kedua adalah pilihan terbaik,” kata dokter.
Hatiku remuk. Aku takut. Bagaimana dengan suami dan anak-anakku?
Mampukah aku kembali menjadi ibu?
Namun, Allah selalu punya cara menguatkan hati seorang perempuan. Aku
dipertemukan dengan seorang teman dari komunitas penyintas tumor otak, salah
satunya Lilia—perempuan yang sudah enam kali operasi dan tetap tersenyum.
“Kamu akan baik-baik saja,” katanya. “Selalu ada cahaya di ujung
terowongan. Kita hanya perlu terus berjalan ke arahnya.”
Kata-katanya menempel di hatiku seperti doa.
Di sepertiga malam, aku bersujud, menyerahkan ketakutan kepada Allah.
Dengan hati yang pasrah sekaligus kuat, aku menjalani operasi kedua pada bulan
Agutus 2016. Alhamdulillah, tumor itu bersih. Dokter tersenyum sambil berkata,
“Kamu pulih.”
Tiga Bulan Mendampingi Suami Menjelang Kepergiannya
Setahun setelah aku sembuh, Allah mengujiku lagi. Suamiku divonis sakit dan
dirawat selama tiga bulan. Aku mendampinginya setiap hari, sambil masih
memulihkan diri.
“Aku tahu kamu pasti bisa,” katanya pelan malam sebelum Allah
memanggilnya pulang pada 27 Oktober 2017, hari Jumat.
Hatiku hancur. Aku ingin jatuh, tetapi anak-anakku
memegang tanganku—dan aku tahu aku harus tetap berdiri.
Ketika Dunia Menguji Lagi: Penipuan Developer Syariah
Setelah suamiku tiada, aku berusaha menata hidup dan menyiapkan
masa depan anak-anakku. Namun, perjalanan itu tidak mudah. Ketika seorang teman menawarkan investasi
perumahan berbasis syariah, aku tergoda dan justru menjadi luka baru. Dana
peninggalan suamiku lenyap ditelan tipu muslihat developer nakal. Pembangunan
tak ada, jawaban pengembang hanya janji kosong.
Kecemasan lamaku pun kambuh. Aku bersujud kepada Allah, memohon jalan
keluar. Dengan dukungan keluarga, aku memperjuangkan hakku. Berbulan-bulan aku
datang ke kantor mereka, sering dipingpong, dan pulang dengan tangan hampa.
Tapi aku tidak menyerah.
Alhamdulillah, sebelum akhir 2019, dana itu kembali. Tidak mudah, tetapi
aku berhasil melewatinya.
Menulis: Cahaya yang Menuntunku Kembali Pulih
Dari semua perjalanan panjang itu—tumor otak, dua operasi, kehilangan suami,
penipuan yang meluluhlantakkan hati, hingga kecemasan berulang—aku hanya punya
satu cara untuk tetap waras: menulis.
Menulis membuatku bisa bernapas.
Menulis menghubungkanku dengan diri sendiri.
Menulis menjadi jembatan dari luka menuju harapan.
Ada satu kutipan yang selalu menemani malam-malam panjangku:
“Allah tidak menjanjikan hidup tanpa badai.
Tapi Dia menjanjikan pelangi setelahnya.”
Pelangi itu datangnya perlahan—tidak sekaligus.
Meskipun badai besar itu telah berlalu, bukan berarti hidupku mulus.
Sampai hari ini, aku masih belajar mengendalikan anxiety dan serangan panic
attack yang kadang datang tanpa permisi. Ada hari ketika napasku terasa pendek,
dada diremas, dan dunia mengecil. Rasanya seperti luka lama kembali mengetuk.
Namun, aku mengerti bahwa kesembuhan bukan
berarti rasa takut itu hilang. Kesembuhan adalah keberanian untuk tetap melangkah meskipun rasa takut
berjalan di samping kita. Ia adalah kemampuan duduk tenang, menenangkan diri,
dan berkata:
“Tidak apa-apa. Aku aman. Aku hadir untuk diriku sendiri.”
Mungkin di situlah aku makin
memahami bahwa Allah tidak menjanjikan hidup tanpa ujian—tetapi Dia menitipkan
kekuatan pada hati yang bersandar kepada-Nya.
Kini aku berdiri bukan karena aku
sempurna, melainkan karena aku belajar bangkit dari setiap runtuhan. Aku masih
belajar. Masih merawat luka. Masih berjalan pelan dan tegak, karena aku tahu
Allah akan selalu menuntun.
Penutup
Untukmu, perempuan kuat yang sedang berjuang, di
fase hidup yang gelap. Izinkan aku memelukmu lewat kata-kata:
“Sembuh bukan tentang cepat.
Sembuh adalah proses pelan-pelan memahami apa yang kamu rasakan,
mengakui luka-lukamu,
dan memberi ruang bagi dirimu untuk bernapas,
tanpa memaksa diri untuk ‘baik-baik saja’ dalam semalam.”
Jika keberanianmu hari ini hanya cukup untuk bangun dari tempat tidur,
ketahuilah bahwa itu pun sudah sebuah kemenangan.
Wahai perempuan, jangan pernah meremehkan kekuatanmu. Kamu mungkin tak
selalu merasa kuat, tetapi setiap langkah kecilmu adalah bukti bahwa kamu masih
bertahan. Jika kamu punya luka—ceritakan, tuliskan, dan lepaskan perlahan. Jika
kamu merasa sendiri—ingatlah, banyak perempuan yang diam-diam berjuang
sepertimu. Dan jika kamu sedang tenggelam—ulurkan tangan kepada siapa pun yang
bisa menggenggamnya.
Aku pun di sini masih belajar sembuh. Namun, aku percaya:
Allah selalu memberi cahaya, bahkan untuk perjalanan yang paling sunyi.
***
Note:
Tulisan ini saat mengikuti event Perempuan Kuat, Perempuan Menulis: Sisterlillah