![]() |
Photo by Carter Hightower on Unsplash |
Kualitas tulisan hari ini, benarkah harus bersaing dengan algoritma?
![]() |
Photo by Carter Hightower on Unsplash |
![]() |
| Ilustrasi: Menulis adalah awal sebuah perjalanan. (Photo by Clay Banks on Unsplash) |
Pertanyaan itu sederhana, tetapi mengingatkan saya bahwa buku bukan garis akhir. Di baliknya ada tujuan, peluang, dan dampak yang perlu dipikirkan sejak awal sebelum karya menemukan jalannya.
Lalu, ke mana sebenarnya sebuah karya hendak dibawa? Dari resume sharing Teh Indari Mastuti, saya menemukan bahwa jawabannya bermula dari dua hal penting: niat dan tujuan.
Dari catatan sharing tersebut, Teh Indari Mastuti mengingatkan bahwa kemampuan sales dan marketing saja tidak cukup untuk mengembangkan sebuah karya. Seorang penulis juga perlu memiliki niat dan arah yang jelas sejak awal.
Segala sesuatu sebaiknya dimulai dengan mengharap ridho Allah. Bagi saya, pesan ini mengingatkan bahwa menulis tidak selalu tentang materi. Income memang dapat menjadi salah satu tujuan, tetapi karya juga bisa menjadi bentuk ikhtiar untuk memberikan manfaat.
Setelah niat diluruskan, pertanyaan berikutnya adalah: apa goal dari karya tersebut? Tujuan setiap buku bisa berbeda. Ada yang ingin mendapatkan penghasilan, membangun personal branding, memperoleh klien, membuka peluang speaking atau mengajar, hingga mengembangkan bisnis.
Karena itu, sejak awal penulis perlu mengetahui arah karyanya. Niat memberikan landasan, sementara goal membantu menentukan langkah agar karya tidak berhenti sebagai tulisan. Ketika niat dan tujuan sudah jelas, sebuah karya dapat berkembang menjadi bagian dari perjalanan penulis untuk membangun diri, membuka peluang, dan memberikan manfaat.
Dari sinilah saya melihat relevansi perjalanan Indscript Creative dengan gagasan From Writing to Inspiring yang menjadi tema Milad ke-19. Menulis bukan hanya tentang menghasilkan naskah, tetapi juga tentang bagaimana sebuah karya diarahkan agar menemukan pembacanya, membuka peluang, dan memberikan manfaat. Sebuah buku dapat menjadi produk, sumber income, alat personal branding, hingga pintu networking dan peluang baru. Karena itu, sejak awal penulis perlu bertanya: karya ini ingin membawa saya ke mana? Jawabannya dapat membantu menentukan langkah setelah tulisan selesai.
Menentukan target pembaca membantu penulis memahami siapa yang ingin dijangkau dan kebutuhan yang ingin dijawab. Semakin jelas sasarannya, semakin mudah menentukan pesan, gaya bahasa, serta manfaat yang relevan bagi pembaca.
Sebuah karya dapat menjadi bagian dari personal branding. Ketika konsisten menulis dalam bidang tertentu, pembaca perlahan mengenali identitas, kompetensi, dan nilai yang dibawa penulis. Karena itu, buku bukan sekadar kumpulan tulisan, tetapi juga sarana untuk memperkenalkan siapa kita dan apa yang ingin kita perjuangkan.
Pertanyaan ini sering terlewat. Kita sibuk menyelesaikan buku, tetapi lupa memikirkan langkah setelah terbit. Padahal, karya dapat membuka peluang promosi, kolaborasi, networking, hingga bisnis dengan goal yang jelas.
Pesan Teh Indari Mastuti membuat saya memahami bahwa sales dan marketing penting untuk mengembangkan karya, tetapi penjualan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Dampak menulis juga dapat hadir melalui manfaat bagi pembaca, perubahan, relasi, peluang baru, bahkan sebuah pesan sederhana yang menunjukkan bahwa tulisan kita pernah berarti bagi seseorang.
![]() |
Karya membuka jalan menuju peluang dan dampak. (Photo by Kourosh Qaffari on Unsplash) |
Dari insight sharing Teh Indari Mastuti, saya merangkumnya menjadi beberapa langkah sederhana yang bisa menjadi pengingat bagi penulis.
1. Luruskan Niat Tentukan alasan mengapa kita menulis dan berkarya. Jadikan proses tersebut sebagai ikhtiar yang memiliki nilai dan manfaat.
2. Tentukan Goal Jangan menulis tanpa mengetahui arah. Tentukan apakah karya ditujukan untuk income, personal branding, networking, peluang bisnis, atau kebermanfaatan.
3. Kenali Target Pembaca Ketahui siapa yang ingin kita jangkau dan masalah apa yang ingin kita bantu melalui tulisan.
4. Siapkan Strategi Setelah mengetahui goal dan target, tentukan bagaimana karya akan diperkenalkan, dipasarkan, dan dikembangkan.
5. Pikirkan Dampaknya Jangan hanya bertanya berapa banyak buku yang terjual. Tanyakan juga manfaat apa yang akan dirasakan pembaca dan peluang apa yang dapat tumbuh dari karya tersebut.
Tema From Writing to Inspiring dalam Milad ke-19 Indscript Creative mengingatkan saya bahwa menulis adalah awal sebuah perjalanan. Dari tulisan lahir karya, pesan, dan dampak. Ketika sampai kepada pembaca, sebuah karya dapat menginspirasi, membuka percakapan, bahkan mengubah cara seseorang memandang dirinya.
Perjalanan menulis tidak selalu harus dilakukan seorang diri. Komunitas penulis perempuan dapat menjadi ruang untuk belajar, berbagi, berdiskusi, dan saling menguatkan. Ada penulis yang awalnya hanya berani menulis untuk diri sendiri, kemudian percaya diri membagikan karyanya. Ada pula yang berani menerbitkan buku karena mendapat dukungan. Dari komunitas, penulis bertumbuh dan dampak karyanya pun semakin luas.
![]() |
Iluystasi refleksi pribadi sebagai penulis. |
Gagasan yang disampaikan Teh Indari Mastuti membuat saya merenungi kembali perjalanan menulis selama ini. Menulis menjadi ruang untuk menuangkan cerita, pengalaman, dan keresahan. Namun, pertanyaan “karya ini mau dibawa ke mana?” membuat saya ingin tulisan tidak berhenti pada publikasi, tetapi menjadi ruang berbagi yang menemani, menguatkan, dan menginspirasi pembaca.
Indscript Creative melalui semangat From Writing to Inspiring mengingatkan saya bahwa menulis bukan sekadar menghasilkan buku, tetapi tentang niat, goal, target, strategi, dan dampak. Pemikiran Teh Indari Mastuti juga membuka pemahaman bahwa karya dapat menjadi sumber income, personal branding, networking, sekaligus jalan kebermanfaatan. Sebab, tulisan akan menemukan maknanya ketika mampu memberi dampak.
![]() |
| Ilustrasi: ruang kerja penulis. (Photo by Marcel R on Unsplash) |
19 Tahun Indscript Creative Menumbuhkan Penulis bukan sekadar tema perayaan Milad, melainkan cerminan perjalanan panjang sebuah komunitas yang konsisten membangun budaya literasi di Indonesia.
Banyak orang memulai perjalanan menulis dengan penuh
semangat. Mereka mengikuti kelas kepenulisan, membuat blog, atau bercita-cita
menerbitkan buku. Namun, tidak sedikit yang berhenti di tengah jalan ketika ide
mulai buntu, kesibukan mengambil alih, atau rasa percaya diri perlahan memudar.
Menjadi penulis bukan hanya tentang kemampuan merangkai
kata. Dibutuhkan ruang belajar, komunitas yang saling mendukung, serta
ekosistem yang mampu menjaga semangat untuk terus bertumbuh. Selama hampir dua
dekade, Indscript Creative menghadirkan ruang tersebut melalui berbagai program
yang mendorong lahirnya penulis, karya, dan kolaborasi yang memberi manfaat
lebih luas.
Didirikan oleh Indari Mastuti pada 8 September 2007, Indscript Creative berawal dari sebuah komunitas kepenulisan. Seiring waktu, Indscript berkembang menjadi agensi penulis yang menghadirkan berbagai layanan, mulai dari pendampingan penulisan buku, ghostwriter profesional, copywriting, hingga penerbitan buku.
Di saat yang sama, Indscript Creative terus membuka ruang
belajar bagi siapa saja yang ingin mengembangkan kemampuan menulis melalui
kelas, komunitas, dan berbagai program literasi.
Kekuatan Indscript Creative tidak hanya terletak pada
beragam program yang diselenggarakan, tetapi juga pada kemampuannya membangun
ekosistem berkarya. Di dalamnya, para penulis tidak hanya belajar teknik
menulis, tetapi juga didorong untuk berani memulai, terus belajar, saling
berbagi pengalaman, serta berkembang bersama.
Semangat tersebut sejalan dengan tema Milad ke-19, From
Writing to Inspiring, yang menjadikan menulis sebagai awal untuk menghadirkan
manfaat yang lebih luas. Menulis tidak lagi dipandang sekadar menghasilkan
tulisan, tetapi juga menjadi sarana berbagi pengalaman, membangun kolaborasi,
dan menginspirasi banyak orang.
Salah satu wujud nyata semangat tersebut terlihat melalui
penerbitan buku Beyond the Profession: 47 Kisah Inspiratif Para Profesionaldi Indonesia. Buku solo karya Indari Mastuti ini mempertemukan puluhan profesional dari berbagai
bidang untuk membagikan perjalanan hidup, tantangan, pembelajaran, serta
nilai-nilai yang mereka pegang selama menekuni profesinya.
Yang menarik, buku ini tidak hanya berbicara tentang
keberhasilan. Pembaca diajak melihat proses panjang di balik setiap pencapaian,
mulai dari kegagalan, ketekunan, hingga keberanian untuk bangkit. Melalui
kisah-kisah tersebut, pengalaman hidup menjadi lebih bermakna ketika dituliskan
dan dibagikan kepada orang lain.
Seperti kutipan yang terdapat dalam buku tersebut,
Kutipan tersebut menjadi pengingat bahwa tulisan memiliki
usia yang jauh lebih panjang daripada penulisnya. Apa yang ditulis hari ini
dapat terus hidup, dibaca, dan memberi manfaat lintas generasi.
Perjalanan Indscript Creative tidak berhenti pada dunia
kepenulisan. Melalui berbagai program, Indscript menunjukkan bahwa menulis
dapat menjadi titik awal lahirnya kolaborasi, kepedulian sosial, dan gerakan
yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Salah satu contohnya adalah kegiatan Sehat Berdampak yang
mempertemukan pegiat literasi, pendidik, pemerhati kesehatan, pelaku usaha
sosial, hingga penggerak lingkungan dalam satu ruang untuk berbagi pengalaman
dan membangun kolaborasi. Kegiatan ini menunjukkan bahwa literasi dapat
berjalan berdampingan dengan pendidikan, kesehatan, dan pelestarian lingkungan.
Komitmen tersebut juga tampak melalui pemberian apresiasikepada para guru pegiat literasi. Mereka tidak hanya mengajar di ruang kelas,
tetapi juga menghidupkan budaya membaca dan menulis melalui taman bacaan
masyarakat, pendampingan penulisan buku, serta berbagai program literasi di
sekolah. Upaya-upaya tersebut membuktikan bahwa perubahan dapat dimulai dari
langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Berbagai program tersebut memperlihatkan bahwa menulis
bukanlah tujuan akhir. Menulis menjadi awal untuk membangun jejaring,
menggerakkan kolaborasi, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas. Inilah makna
tema From Writing to Inspiring, ketika sebuah tulisan tidak berhenti sebagai
karya, tetapi berkembang menjadi inspirasi yang mendorong lahirnya aksi nyata.
19 Tahun Indscript Creative Menumbuhkan Penulis bukan
hanya terlihat dari banyaknya buku yang diterbitkan atau program yang
diselenggarakan, tetapi juga dari kemampuannya membangun ekosistem berkarya
yang saling menguatkan. Dari keberanian untuk memulai, mengubah pengalaman
menjadi warisan, menghadirkan kolaborasi yang berdampak, hingga menjaga
semangat berkarya para anggotanya, Indscript Creative membuktikan bahwa menulis
adalah proses bertumbuh yang mampu menginspirasi banyak orang.
Memasuki usia ke-19, semangat From Writing to Inspiring diharapkan terus melahirkan penulis, karya, dan kolaborasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat serta memperkuat budaya literasi Indonesia.
![]() |
| Perjalanan menulis bersama Indscript Creative yang membawa kembali ke blog Photo by Christin Hume on Unsplash |
Ada masa ketika aku mengira perjalanan menulisku akan selalu berawal dari blog dan suatu hari kembali ke sana. Di ruang sederhana itulah aku belajar menyusun artikel, membagikan pengalaman, serta menyimpan jejak setiap proses bertumbuh sebagai penulis.
Namun, perjalanan ternyata membawaku ke banyak persimpangan. Aku mulai menjelajahi berbagai ruang kepenulisan, dari Medium, dunia editor, penulis lepas, hingga eksplorasi konten visual dan berbagai event menulis. Aku menikmati setiap prosesnya, tetapi tanpa kusadari ada satu ruang yang semakin jarang kusapa: blog pribadiku.
Sampai akhirnya, pengumuman Blog Competition Milad ke-19 Indscript Creative mengingatkanku pada tempat pertama yang mengajarkanku
mencintai proses menulis. Bukan sekadar mengikuti sebuah kompetisi, melainkan
kembali ke rumah yang pernah menjadi saksi perjalanan awalku sebagai penulis.
Sudah beberapa kali aku membuka dashboard blog pribadiku di
Blogger. Jemariku sempat menari di atas papan ketik, tetapi selalu berhenti
sebelum satu paragraf pun selesai kutulis. Bukan karena kehabisan ide,
melainkan karena terlalu lama meninggalkan ruang yang dulu begitu akrab.
Padahal, aku tidak pernah berhenti menulis. Dalam dua tahun
terakhir, perjalananku justru berkembang ke berbagai arah. Aku aktif menulis di
Medium, menjadi editor di Publikasi Perspektif Perempuan, belajar menjadi
penulis lepas, membuat konten visual berbasis kutipan, serta terus belajar
menulis prosa reflektif dan kisah inspiratif.
Tanpa kusadari, semua perjalanan itu membuat blog pribadiku
semakin jarang terisi. Bukan karena aku kehilangan kecintaan pada dunia
kepenulisan, melainkan karena aku sedang belajar menemukan bentuk tulisan yang
paling dekat dengan diriku.
Kini, melalui Blog Competition Milad ke-19, aku ingin
kembali menghidupkan blog sebagai ruang untuk mendokumentasikan perjalanan,
berbagi pengalaman, dan terus bertumbuh sebagai penulis.
![]() |
Proses belajar menulis bersama Indscript Creative |
Perjalanan itu berlanjut ketika aku mengikuti kelas artikel dan blog. Sedikit demi sedikit aku memahami bahwa blog bukan hanya tempat memublikasikan tulisan, tetapi juga ruang untuk membangun portofolio, mendokumentasikan proses belajar, dan berbagi manfaat kepada pembaca.
Semakin mengenal Indscript Creative, semakin aku
memahami bahwa tempat ini bukan sekadar penyelenggara kelas menulis.
Didirikan oleh Indari Mastuti pada 8 September 2007,
Indscript Creative berawal sebagai agensi naskah yang menjembatani penulis
dengan penerbit. Kini, setelah hampir dua dekade, Indscript Creative berkembang
menjadi writing agency sekaligus ekosistem literasi yang menghadirkan
pelatihan kepenulisan, pendampingan penulis, pengembangan komunitas, personal
branding, hingga layanan penulisan profesional.
Selama 19 tahun, Indscript Creative terus mempertemukan penulis, pendidik, pelaku usaha, komunitas, dan berbagai mitra untuk bertumbuh bersama melalui ilmu, karya, dan kolaborasi. Perjalanan itulah yang membuatku memahami bahwa menulis tidak berhenti ketika sebuah tulisan selesai dipublikasikan.
Perjalanan bersama Indscript Creative tidak berhenti setelah
kelas selesai. Justru dari sanalah aku mulai berani menjelajahi berbagai ruang
kepenulisan.
Aku aktif menulis di Medium, dipercaya menjadi editor di
Publikasi Perspektif Perempuan, mencoba menjadi penulis lepas, hingga
mengeksplorasi CapCut sebagai media untuk menyampaikan kutipan-kutipan
inspiratif dalam bentuk visual.
Aku menyadari bahwa tulisan tidak harus selalu hadir dalam
bentuk buku atau artikel. Selama mampu memberi manfaat, sebuah tulisan dapat
hidup dalam berbagai media.
Tema Milad ke-19 "From Writing to Inspiring" terasa begitu dekat dengan perjalanan yang sedang kujalani.
Aku memahami bahwa menulis bukanlah tujuan akhir. Sebuah
tulisan tidak berhenti ketika selesai diterbitkan, tetapi terus hidup melalui
manfaat yang dirasakan pembacanya.
Seperti yang disampaikan oleh pendiri Indscript Creative, Teh Indari Mastuti,
Kalimat itu membuatku semakin yakin bahwa setiap pengalaman yang kutulis, sekecil apa pun, dapat menjadi pengingat, penguat, atau bahkan inspirasi bagi orang lain.
![]() |
| Notebook dan pena simbol perjalanan menulis Indscript Creative Photo by Hayley Maxwell on Unsplash |
Blog Competition Milad ke-19 bukan sekadar ajang menulis bagiku. Kompetisi ini menjadi momentum untuk kembali menghidupkan blog yang pernah menjadi rumah pertamaku sebagai penulis.
Di tengah berbagai media yang terus berkembang, blog tetap
memiliki tempat yang istimewa. Di sanalah aku bisa bercerita lebih utuh,
menuliskan pengalaman dengan lebih leluasa, dan mendokumentasikan perjalanan
yang mungkin suatu hari nanti ingin kubaca kembali.
Perayaan Milad ke-19 juga mengingatkanku bahwa sejak berdiri
pada tahun 2007, Indscript Creative terus membangun ekosistem literasi yang
mempertemukan penulis, pendidik, pelaku usaha, komunitas, dan pegiat sosial.
Semangat kolaborasi itulah yang membuat perjalanan menulis terasa tidak pernah
sepi.
Agustus ini, aku ingin kembali menjadikan blog sebagai ruang
untuk belajar, berbagi, dan bertumbuh. Bersamaan dengan itu, aku juga menantang
diriku untuk menulis cerita bersambung setiap hari sebagai bagian dari proses
belajar menjadi penulis yang lebih baik.
Barangkali, setiap penulis memang memiliki rumah yang selalu
ingin ia pulangi. Bagiku, rumah itu adalah blog.
Terima kasih, Indscript Creative, karena telah menjadi
bagian dari perjalanan yang membawaku kembali membuka halaman baru. Semoga
setiap tulisan yang lahir dari sini bukan hanya selesai dibaca, tetapi juga
meninggalkan manfaat bagi siapa pun yang singgah.
![]() |
| Ilustrasi penulis di era digital modern. (Di buat: leonardo.ai) |
Memasuki era digital, dunia kepenulisan mengalami perubahan besar. Kini, menjadi penulis tak hanya soal kemampuan merangkai kata, tapi juga tentang menjadi penulis serba bisa di era digital. Artinya, penulis dituntut untuk menguasai banyak keterampilan: menulis, berbicara, berjejaring, hingga memahami strategi pemasaran digital agar karya tak berhenti di tumpukan naskah.
Di tahun-tahun menjelang 2030, teknologi berkembang pesat, platform digital semakin beragam, dan pembaca semakin kritis. Penulis yang ingin terus relevan perlu beradaptasi. Tak cukup hanya menulis bagus, tapi juga harus mampu menyebarkan makna dengan cara yang kreatif, menarik, dan menjangkau pembaca luas melalui berbagai media.
Menjadi penulis serba bisa di era digital berarti siap
keluar dari zona nyaman. Penulis bukan lagi sosok yang hanya bersembunyi di
balik layar, tetapi juga menjadi komunikator, kreator, bahkan pebisnis.
Perubahan ini bisa terasa menakutkan, namun juga membuka
banyak peluang. Kini, penulis dapat menerbitkan buku secara indie, memasarkan
karya lewat media sosial, membangun komunitas pembaca, hingga menghasilkan
pendapatan dari konten digital.
Namun, untuk mampu melakukan itu semua, penulis harus terus belajar. Belajar storytelling, branding diri, public speaking, copywriting, dan digital marketing. Semua keterampilan ini saling melengkapi agar pesan dalam tulisan bisa sampai dan berdampak.
Untuk menjadi penulis serba bisa di era digital, ada
beberapa kemampuan penting yang perlu diasah:
Tulisan bukan sekadar kata, tapi sarana menyampaikan pesan
dan nilai. Penulis yang tahu arah pesannya akan lebih mudah membangun pembaca
setia.
Menguasai platform seperti blog, YouTube, Medium, atau
podcast akan membantu memperluas jangkauan karya.
Di dunia digital, nama penulis adalah “merek”. Konsistensi
gaya tulisan dan nilai yang dibawa akan membuat pembaca percaya dan mengenali
karakter karya kita.
Dunia literasi kini erat dengan dunia bisnis dan komunitas.
Penulis perlu tahu cara bernegosiasi dengan penerbit, sponsor, hingga rekan
kolaborasi agar karyanya terus tumbuh.
Karya yang bertahan lama adalah karya yang memberi dampak. Visi literasi akan menjadi kompas agar penulis tidak hanya menulis untuk popularitas, tetapi untuk kebermanfaatan.
Era digital membuka jalan bagi siapa saja untuk menjadi
penulis. Namun, tidak semua penulis bisa menjadi penulis berdampak tanpa arah
dan strategi. Di sinilah pentingnya berpikir jangka panjang.
Seorang penulis serba bisa bukan hanya produktif dalam
menulis, tapi juga mampu menyampaikan nilai hidup, menggerakkan perubahan, dan
menginspirasi banyak orang. Dengan menguasai berbagai skill tambahan, penulis
akan lebih siap menghadapi kompetisi dan perkembangan dunia digital menjelang
2030.
Misalnya, penulis yang memahami digital marketing bisa menjual bukunya secara mandiri. Penulis yang mahir berbicara bisa menjadi narasumber atau mentor literasi. Dan penulis yang kreatif bisa mengekspresikan ide melalui berbagai format—esai, video, atau konten interaktif di media sosial.
Menjelang 2030, dunia menulis tidak akan sama lagi.
Teknologi kecerdasan buatan, platform self-publishing, dan pembaca digital akan
terus berkembang. Maka, penting bagi kita untuk menyiapkan diri menjadi penulis
serba bisa di era digital—penulis yang tidak hanya berkarya, tapi juga berdaya.
Penulis yang mampu beradaptasi dengan perubahan, berani
berinovasi, dan konsisten dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan akan menjadi
bagian dari generasi literasi masa depan.
Karena sejatinya, menulis bukan hanya tentang kata, tapi tentang makna. Dan makna itu akan hidup selamanya ketika penulis terus belajar, beradaptasi, dan berdampak.
Penulis dituntut bukan hanya untuk menulis lebih banyak, tetapi menulis dengan kesadaran, strategi, dan keberanian menghadapi perubahan. Dunia literasi kini menjadi ruang luas bagi mereka yang mau terus belajar dan berkembang. Maka, jadilah penulis yang tidak hanya menorehkan kata, tetapi juga membangun jembatan makna di tengah derasnya arus digital. Sebab, masa depan literasi ada di tangan mereka yang menulis dengan visi, beradaptasi dengan zaman, dan menebar manfaat tanpa henti.
![]() |
Dok: Indscript Creative |
Gerakan Literasi Islami merupakan inisiatif yang
digagas oleh Teh Indari Mastuti bersama Joeragan Artike. Gerakan ini
berfokus pada penyebaran literasi bernuansa Islami di sekolah-sekolah,
pesantren, dan lembaga pendidikan di seluruh Indonesia. Tujuannya sederhana
namun bermakna besar—membangun karakter generasi penerus melalui kekuatan ilmu
dan nilai-nilai Islam.
![]() |
| Dok: Indscript Creative |
Melalui donasi 1000 rupiah per buku dan kolaborasi berbagai pihak, gerakan ini akan menyalurkan buku-buku Islami ke sekolah dan pesantren, menyelenggarakan workshop literasi Islami bagi siswa dan guru, serta membantu mereka membukukan karya terbaiknya. Tidak hanya itu, setiap donatur juga mendapat apresiasi dalam bentuk penyebutan nama di video kegiatan, logo perusahaan di buku, hingga tercantum di backdrop dan flyer acara.
Menulis adalah salah satu bentuk dakwah yang memiliki
kekuatan besar. Sebuah tulisan yang baik dapat menginspirasi pembacanya untuk
berubah menjadi pribadi yang lebih baik, mendekatkan diri kepada Allah, dan
menebar kebaikan di sekitarnya.
Inilah semangat utama dari misi literasi Islami: menjadikan
literasi sebagai jalan dakwah. Ketika seorang siswa membaca buku Islami yang
disumbangkan, atau guru menulis cerita inspiratif tentang keimanan, maka pahala
juga mengalir kepada setiap pihak yang berkontribusi di dalamnya.
Seperti sabda Rasulullah SAW:
“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan
mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)
Setiap buku yang dibaca, setiap ilmu yang dibagikan, dan
setiap ide yang ditulis akan menjadi amal jariyah yang terus hidup meski
penulisnya telah tiada.
Sebagai wadah perempuan penulis, Indscript terus
berkomitmen menjadi bagian dari gerakan yang membawa manfaat bagi umat. Melalui
inisiatif literasi bernuansa Islami, Indscript tidak hanya mendorong para
penulis untuk produktif menulis, tetapi juga menanamkan nilai bahwa tulisan
bisa menjadi ladang pahala.
Para penulis yang tergabung di Indscript diajak untuk ikut
menyumbangkan karya terbaiknya—baik dalam bentuk artikel, buku, maupun konten
dakwah yang menginspirasi. Dengan cara ini, penulis tidak sekadar berkarya
untuk dikenal, tetapi juga untuk memberi nilai bagi kehidupan dan akhirat.
Dok: Indscript Creative
Gerakan Literasi Islami mengundang siapa pun yang
memiliki kepedulian terhadap masa depan generasi Muslim untuk ikut terlibat.
Setiap donasi yang diberikan akan membantu membuka akses ilmu, menghidupkan
semangat menulis, dan menyalakan cahaya dakwah di sekolah-sekolah Indonesia.
Dengan bergabung, Anda tidak hanya menyumbang buku atau
dana—Anda sedang menanam kebaikan yang akan terus tumbuh. Karena dalam setiap
huruf yang dibaca, tersimpan pahala yang tak akan pernah putus.
Beberapa waktu lalu, saat membuka Instagram, saya menemukan sebuah video wawancara sederhana. Sosok dalam video itu bukan pejabat, bukan pula selebritas, melainkan seorang lelaki bersahaja dari Lombok Utara. Namanya Asuddin Ihsan Danisa. Dari perbincangan singkat itu, saya menemukan kisah yang membuat hati bergetar: cerita tentang perpustakaan keliling di jalanan Bayan.
![]() |
| Tangkapan layar dari akun Instagram assudindanisa |
Bayangkan jalan desa di Bayan: berkelok, dikelilingi sawah, dengan udara pegunungan yang khas. Di tengah kesederhanaan itu, ada anak-anak yang menunggu dengan mata berbinar. Mereka menanti bukan mainan mahal atau gawai terbaru, melainkan buku-buku yang datang bersama motor sederhana milik Pak Asuddin.
Berbekal sekitar 120 koleksi bacaan, ia menempuh perjalanan ±13 km setiap pekan. Buku-buku itu dipinjamkan tanpa batas waktu, tanpa biaya, tanpa syarat rumit. Bagi beliau, yang penting anak-anak membaca, mengenal dunia yang lebih luas dari lembaran kertas.
Tentu, perjalanan ini tidak mudah. Bahan bakar motor, perawatan buku, hingga tenaga untuk bolak-balik desa semua ditanggung sendiri. Tidak ada sponsor besar, tidak ada dukungan institusi megah. Hanya semangat literasi yang menjaga langkahnya tetap kokoh.
Namun di balik semua keterbatasan itu, ada hasil yang nyata. Setiap kali ia datang, anak-anak bisa melahap dua hingga tiga buku. Antusiasme mereka adalah bukti bahwa membaca bukanlah kebiasaan yang hanya milik kota besar.
![]() |
| Tangkapan layar dari akun Instagram assudindanisa |
Senyum yang lahir setelah satu-dua buku selesai dibaca adalah hadiah terindah. Buku-buku yang ia bawa menjadi jendela baru, membuka cakrawala pengetahuan. Di desa yang jauh dari hiruk pikuk kota, literasi tumbuh pelan-pelan, namun dengan akar yang kuat.
Kisah ini mengingatkan saya bahwa literasi bukan semata soal gedung perpustakaan megah atau akses internet cepat. Literasi adalah keberanian untuk mengayuh asa, menebar ilmu, meski dengan langkah kecil.
Seringkali kita menganggap membaca adalah hal biasa, bahkan membosankan. Padahal di banyak pelosok, satu buku saja bisa berarti harapan baru. Dari Bayan, kita belajar bahwa perubahan bisa dimulai dari gerakan kecil, dari seorang manusia yang percaya bahwa ilmu layak diperjuangkan.
Pak Asuddin adalah contoh nyata pahlawan literasi—pahlawan yang tidak menunggu gelar, tetapi bekerja dalam senyap.
Jejak buku di jalanan Bayan bukan sekadar cerita tentang sebuah motor dan tumpukan buku. Ia adalah kisah tentang harapan, perjuangan, dan keyakinan bahwa ilmu bisa menjangkau siapa saja. Semoga langkah Pak Asuddin menjadi amal jariyah, dan semoga kisahnya menginspirasi kita untuk ikut menyalakan api literasi, sekecil apa pun caranya.