![]() |
| Photo by Sixteen Miles Out on Unsplash |
Sudah lama sekali aku tidak menulis di blog ini. Blog ini sepi, ide-ide sering datang dan pergi, sementara kehidupan terus berjalan dengan segala kesibukan dan kecemasannya.
Bukan aku berhenti menulis. Aku hanya belum bisa mengelola waktu agar dapat kembali menulis di blog. Di sisi lain, waktuku juga banyak tersita untuk mengikuti berbagai event menulis dan mengedit template CapCut.
Namun, rupanya menulis tidak benar-benar pergi.
Ia hanya berpindah tempat.
Menjadi catatan-catatan kecil yang kutulis sejak 2018. Catatan itu tidak selalu rapi dan panjang. Kadang hanya beberapa kalimat yang kutuliskan. Kadang berupa jurnal yang kutulis ketika pikiranku terasa terlalu ramai dan sulit kujelaskan ke siapapun.
Di masa-masa tertentu, terutama ketika panic attack hadir tanpa aba-aba, menulis menjadi salah satu cara yang membantuku tetap berpijak.
Aku menuliskan apa yang kurasakan. Apa yang kutakutkan. Apa yang membuat dadaku terasa sesak. Apa yang membuat pikiranku berlari ke mana-mana.
Bukan untuk mencari jawaban, Bukan pula untuk menghilangkan kecemasan itu sepenuhnya.
Aku hanya ingin mendengarkan diriku sendiri.
Seiring waktu, aku mulai menyadari bahwa kecemasan bukan sesuatu yang selalu bisa dilawan hingga hilang. Ada hal-hal dalam hidup yang memang tidak dapat kita kendalikan. Ada kekhawatiran yang datang tanpa diundang. Ada ketakutan yang tetap hadir meskipun semuanya tampak baik-baik saja.
Mungkin, yang perlu kupelajari bukanlah cara mengusirnya, melainkan cara hidup berdampingan bersamanya dengan lebih tenang.
Bertahun-tahun kemudian, sebagian dari catatan kecil itu berkembang menjadi sebuah kisah berjudul "Berdamai dengan Kecemasan (Jurnal Kecil Seorang Ibu yang Belajar Tenang)."
Sebuah kisah yang tidak lahir dari sebuah keberhasilan besar, melainkan dari proses panjang belajar menerima diriku sendiri.
| Dokumen pribadi |
Bukan semata karena namaku tercetak dalam sebuah buku. Melainkan karena aku merasa sedang diingatkan pada sesuatu yang pernah sangat dekat denganku: menulis.
Saat itulah aku menyadari, dengan menulis ternyata aku menemukan jalannya sendiri.
Aku yang mengira sedang menjauh darinya.
Padahal selama ini ia tetap ada. Tumbuh diam-diam di antara catatan-catatan kecil yang kutulis untuk bertahan melewati hari. Bersembunyi dalam jurnal-jurnal yang menjadi saksi kecemasan, ketakutan, sekaligus proses penerimaan diri.
Kini, catatan yang dulu hanya kutulis untuk diriku sendiri telah menemukan bentuk dan jalannya yang baru.
Insyaallah, buku antologi Akar yang Mencari Tumbang Jilid 10 akan diluncurkan pada 21 Juni 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Sebuah langkah kecil yang mengingatkanku: setiap tulisan memiliki waktunya sendiri dan setiap kata memiliki perjalanan yang tidak selalu bisa kita tebak.
