Showing posts with label kisah inspiratif. Show all posts
Showing posts with label kisah inspiratif. Show all posts

Wednesday, June 10, 2026

Menulis untuk Bertahan: Perjalanan Sunyi Seorang Perempuan Kuat

Konten [Tampil]


Ada masa dalam hidup ketika kita tidak diberi pilihan selain bertahan. Bukan karena kita hebat, bukan karena kita siap, tetapi karena tidak ada jalan lain kecuali melangkah. Aku merasa, jika hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang, maka luka-luka yang singgah di dada adalah penanda bahwa aku pernah berjuang.

Tanpa pernah kusadari, perjalanan itulah yang membawaku sampai ke titik ini—menulis sebagai cara untuk bertahan, sembuh, dan mengerti bahwa Allah tak pernah meninggalkanku.

Hidupku berubah drastis pada usia yang begitu muda, ketika dokter mengatakan ada tumor di otakku. Ruang tunggu rumah sakit mendadak terasa sempit, udara seperti menolak masuk ke paru-paruku. Aku hanya terduduk, mendengar detak jantungku sendiri yang seakan berlari tanpa tujuan.

Apa ini benar terjadi padaku?

Pertanyaan itu menghantam berkali-kali.

Saat itu, aku masih mahasiswi analis kimia semester tiga—penuh mimpi, penuh harapan. Kejang pertama di usia 20 tahun kukira hanya kelelahan. Namun, ia datang lagi, dan lagi, hingga CT Scan menunjukkan kebenaran yang tak ingin kuterima—ada tumor di otakku.

Duniaku runtuh seketika. Namun, dari titik runtuh itulah kekuatan dalam diriku mulai tumbuh.

Operasi Pertama dan Tahun-Tahun Panjang Menjaga Asa
Setelah berobat ke sana-sini dan mencari second opinion, keluargaku memutuskan operasi kraniotomi. Alhamdulillah, hasilnya menunjukkan Astrocytoma grade 1—tumor jinak. Aku tak perlu kemoterapi ataupun radiasi, hanya harus berdamai dengan obat anti kejang.

Aku melanjutkan hidup—kuliah, wisuda, menikah, membangun keluarga. Namun, setiap kali tubuh lelah, kejang itu datang lagi. Aku belajar hidup dengan waspada, tetapi tetap bersyukur karena masih diberi usia.

Dua Puluh Tahun Kemudian: Ketakutan yang Mengetuk Kembali
Setelah hampir dua dekade, kejang itu semakin sering. Dokter menyarankan MRI ulang, dan hasilnya membuatku kembali terdiam lama—tumor itu tumbuh lagi, pelan tetapi pasti.

“Operasi kedua adalah pilihan terbaik,” kata dokter.

Hatiku remuk. Aku takut. Bagaimana dengan suami dan anak-anakku? Mampukah aku kembali menjadi ibu?

Namun, Allah selalu punya cara menguatkan hati seorang perempuan. Aku dipertemukan dengan seorang teman dari komunitas penyintas tumor otak, salah satunya Lilia—perempuan yang sudah enam kali operasi dan tetap tersenyum.

“Kamu akan baik-baik saja,” katanya. “Selalu ada cahaya di ujung terowongan. Kita hanya perlu terus berjalan ke arahnya.”

Kata-katanya menempel di hatiku seperti doa.

Di sepertiga malam, aku bersujud, menyerahkan ketakutan kepada Allah. Dengan hati yang pasrah sekaligus kuat, aku menjalani operasi kedua pada bulan Agutus 2016. Alhamdulillah, tumor itu bersih. Dokter tersenyum sambil berkata, “Kamu pulih.”

Tiga Bulan Mendampingi Suami Menjelang Kepergiannya
Setahun setelah aku sembuh, Allah mengujiku lagi. Suamiku divonis sakit dan dirawat selama tiga bulan. Aku mendampinginya setiap hari, sambil masih memulihkan diri.

“Aku tahu kamu pasti bisa,” katanya pelan malam sebelum Allah memanggilnya pulang pada 27 Oktober 2017, hari Jumat.

Hatiku hancur. Aku ingin jatuh, tetapi anak-anakku memegang tanganku—dan aku tahu aku harus tetap berdiri.

Ketika Dunia Menguji Lagi: Penipuan Developer Syariah
Setelah suamiku tiada, aku berusaha menata hidup dan menyiapkan masa depan anak-anakku. Namun, perjalanan itu tidak mudah. Ketika seorang teman menawarkan investasi perumahan berbasis syariah, aku tergoda dan justru menjadi luka baru. Dana peninggalan suamiku lenyap ditelan tipu muslihat developer nakal. Pembangunan tak ada, jawaban pengembang hanya janji kosong.

Kecemasan lamaku pun kambuh. Aku bersujud kepada Allah, memohon jalan keluar. Dengan dukungan keluarga, aku memperjuangkan hakku. Berbulan-bulan aku datang ke kantor mereka, sering dipingpong, dan pulang dengan tangan hampa. Tapi aku tidak menyerah.

Alhamdulillah, sebelum akhir 2019, dana itu kembali. Tidak mudah, tetapi aku berhasil melewatinya.

Menulis: Cahaya yang Menuntunku Kembali Pulih
Dari semua perjalanan panjang itu—tumor otak, dua operasi, kehilangan suami, penipuan yang meluluhlantakkan hati, hingga kecemasan berulang—aku hanya punya satu cara untuk tetap waras: menulis.

Menulis membuatku bisa bernapas.
Menulis menghubungkanku dengan diri sendiri.
Menulis menjadi jembatan dari luka menuju harapan.

Ada satu kutipan yang selalu menemani malam-malam panjangku:
“Allah tidak menjanjikan hidup tanpa badai.
Tapi Dia menjanjikan pelangi setelahnya.”

Pelangi itu datangnya perlahan—tidak sekaligus.

Meskipun badai besar itu telah berlalu, bukan berarti hidupku mulus. Sampai hari ini, aku masih belajar mengendalikan anxiety dan serangan panic attack yang kadang datang tanpa permisi. Ada hari ketika napasku terasa pendek, dada diremas, dan dunia mengecil. Rasanya seperti luka lama kembali mengetuk.

Namun, aku mengerti bahwa kesembuhan bukan berarti rasa takut itu hilang. Kesembuhan adalah keberanian untuk tetap melangkah meskipun rasa takut berjalan di samping kita. Ia adalah kemampuan duduk tenang, menenangkan diri, dan berkata:
“Tidak apa-apa. Aku aman. Aku hadir untuk diriku sendiri.”

Mungkin di situlah aku makin memahami bahwa Allah tidak menjanjikan hidup tanpa ujian—tetapi Dia menitipkan kekuatan pada hati yang bersandar kepada-Nya.

Kini aku berdiri bukan karena aku sempurna, melainkan karena aku belajar bangkit dari setiap runtuhan. Aku masih belajar. Masih merawat luka. Masih berjalan pelan dan tegak, karena aku tahu Allah akan selalu menuntun.

Penutup
Untukmu, perempuan kuat yang sedang berjuang,
di fase hidup yang gelap. Izinkan aku memelukmu lewat kata-kata:

“Sembuh bukan tentang cepat.
Sembuh adalah proses pelan-pelan memahami apa yang kamu rasakan,
mengakui luka-lukamu,
dan memberi ruang bagi dirimu untuk bernapas,
tanpa memaksa diri untuk ‘baik-baik saja’ dalam semalam.”

Jika keberanianmu hari ini hanya cukup untuk bangun dari tempat tidur, ketahuilah bahwa itu pun sudah sebuah kemenangan.

Wahai perempuan, jangan pernah meremehkan kekuatanmu. Kamu mungkin tak selalu merasa kuat, tetapi setiap langkah kecilmu adalah bukti bahwa kamu masih bertahan. Jika kamu punya luka—ceritakan, tuliskan, dan lepaskan perlahan. Jika kamu merasa sendiri—ingatlah, banyak perempuan yang diam-diam berjuang sepertimu. Dan jika kamu sedang tenggelam—ulurkan tangan kepada siapa pun yang bisa menggenggamnya.

Aku pun di sini masih belajar sembuh. Namun, aku percaya:
Allah selalu memberi cahaya, bahkan untuk perjalanan yang paling sunyi.

***

Note: 

Tulisan ini saat mengikuti event Perempuan Kuat, Perempuan Menulis: Sisterlillah






Friday, June 5, 2026

Ketika Menulis Menemukan Jalannya Sendiri

Konten [Tampil]

Photo by Sixteen Miles Out on Unsplash

Sudah lama sekali aku tidak menulis di blog ini. Blog ini sepi, ide-ide sering datang dan pergi, sementara kehidupan terus berjalan dengan segala kesibukan dan kecemasannya.

Bukan aku berhenti menulis. Aku hanya belum bisa mengelola waktu agar dapat kembali menulis di blog. Di sisi lain, waktuku juga banyak tersita untuk mengikuti berbagai event menulis dan mengedit template CapCut.

Namun, rupanya menulis tidak benar-benar pergi.

Ia hanya berpindah tempat.

Menjadi catatan-catatan kecil yang kutulis sejak 2018. Catatan itu tidak selalu rapi dan panjang. Kadang hanya beberapa kalimat yang kutuliskan. Kadang berupa jurnal yang kutulis ketika pikiranku terasa terlalu ramai dan sulit kujelaskan ke siapapun.

Di masa-masa tertentu, terutama ketika panic attack hadir tanpa aba-aba, menulis menjadi salah satu cara yang membantuku tetap berpijak.

Aku menuliskan apa yang kurasakan. Apa yang kutakutkan. Apa yang membuat dadaku terasa sesak. Apa yang membuat pikiranku berlari ke mana-mana.

Bukan untuk mencari jawaban, Bukan pula untuk menghilangkan kecemasan itu sepenuhnya.

Aku hanya ingin mendengarkan diriku sendiri.

Seiring waktu, aku mulai menyadari bahwa kecemasan bukan sesuatu yang selalu bisa dilawan hingga hilang. Ada hal-hal dalam hidup yang memang tidak dapat kita kendalikan. Ada kekhawatiran yang datang tanpa diundang. Ada ketakutan yang tetap hadir meskipun semuanya tampak baik-baik saja.

Mungkin, yang perlu kupelajari bukanlah cara mengusirnya, melainkan cara hidup berdampingan bersamanya dengan lebih tenang.

Bertahun-tahun kemudian, sebagian dari catatan kecil itu berkembang menjadi sebuah kisah berjudul "Berdamai dengan Kecemasan (Jurnal Kecil Seorang Ibu yang Belajar Tenang)."

Sebuah kisah yang tidak lahir dari sebuah keberhasilan besar, melainkan dari proses panjang belajar menerima diriku sendiri.

Dokumen pribadi
Ketika kisah tersebut terpilih dalam Festival Kisah Inspiratif Nasional 2026 dan menjadi bagian dari buku antologi Akar yang Mencari Tumbang Jilid 3, ada perasaan hangat yang sulit kujelaskan.

Bukan semata karena namaku tercetak dalam sebuah buku. Melainkan karena aku merasa sedang diingatkan pada sesuatu yang pernah sangat dekat denganku: menulis.

Saat itulah aku menyadari, dengan menulis ternyata aku menemukan jalannya sendiri.

Aku yang mengira sedang menjauh darinya.

Padahal selama ini ia tetap ada. Tumbuh diam-diam di antara catatan-catatan kecil yang kutulis untuk bertahan melewati hari. Bersembunyi dalam jurnal-jurnal yang menjadi saksi kecemasan, ketakutan, sekaligus proses penerimaan diri.

Kini, catatan yang dulu hanya kutulis untuk diriku sendiri telah menemukan bentuk dan jalannya yang baru.

Insyaallah, buku antologi Akar yang Mencari Tumbang Jilid 10 akan diluncurkan pada 21 Juni 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Sebuah langkah kecil yang mengingatkanku: setiap tulisan memiliki waktunya sendiri dan setiap kata memiliki perjalanan yang tidak selalu bisa kita tebak.






Thursday, January 29, 2026

The Pursuit of Happyness: Belajar Bertahan Saat Hidup Terasa Berat

Konten [Tampil]

sumber foto: idmb.com
Review The Pursuit of Happyness (2006), film kisah nyata Chris Gardner tentang perjuangan, ayah tunggal, dan belajar bertahan saat hidup tidak mudah.

Ada film yang tidak datang membawa jawaban cepat atau kata-kata penyemangat yang lantang. Ia justru memilih menemani kita lebih lama di ruang lelah yang sering tak terucap. The Pursuit of Happyness adalah film seperti itu.

Aku kembali menontonnya—kali ini bersama suami lewat nobar online—dan perasaan yang muncul masih sama: tenang, tapi menghunjam. Film ini tidak mendesak kita untuk segera bangkit, tidak menyuruh kita berpura-pura kuat. Ia berjalan perlahan, setia, seperti seseorang yang duduk di sampingmu tanpa banyak bicara, hanya memastikan kamu tidak sendirian. Seolah berkata, lelah boleh, menyerah jangan.

Film ini tidak menjual mimpi tentang hidup yang mudah. Ia hanya mengingatkan satu hal sederhana: selama kita terus melangkah, harapan tak pernah benar-benar hilang.

Identitas Film

Judul: The Pursuit of Happyness
Tahun: 2006
Genre: Drama, Biografi
Durasi: 117 menit
Sutradara: Gabriele Muccino
Pemeran: Will Smith (Chris Gardner), Jaden Smith (Christopher Gardner Jr.)
Berdasarkan kisah nyata: Chris Gardner

Chris Gardner digambarkan berada di fase hidup paling rapuh. Pekerjaan yang tak menentu, tekanan finansial yang mencekik, kehilangan tempat tinggal, dan tanggung jawab sebagai orang tua tunggal datang bersamaan—tanpa jeda, tanpa belas kasihan.

Namun yang membuat cerita ini begitu kuat bukanlah daftar kesulitannya, melainkan pilihannya untuk tetap hadir bagi sang anak. Di tengah hidup yang nyaris runtuh, Chris tetap berusaha menjadi tempat paling aman bagi putranya.

Will Smith memerankan Chris dengan kejujuran yang terasa. Tidak dramatis berlebihan, tidak dibuat heroik. Justru lewat keheningan, tatapan kosong, dan jeda panjang, kita diajak masuk ke dalam kelelahan yang nyata. Tidak ada orasi motivasi, hanya keteguhan seseorang yang terus berdiri meski lututnya gemetar.

Sementara Jaden Smith hadir sebagai Christopher kecil yang sederhana, namun penuh makna. Ia menjadi alasan mengapa seseorang tetap bertahan—karena cinta. Karena ada yang harus dijaga, meski langkah terasa berat dan jalan terasa panjang.

idmb.com
Film ini menyentil kenyataan yang sering ingin kita sangkal: proses hidup tidak selalu adil. Usaha keras tidak selalu dibalas cepat. Kadang yang kita miliki hanyalah hari demi hari yang harus dilalui, tanpa jaminan apa pun di ujungnya.

Dan justru di sanalah makna happyness itu bersembunyi. Bukan hanya pada hasil, melainkan pada keberanian untuk terus melangkah, bahkan ketika arah terasa kabur.

Ejaan happyness yang tidak biasa pun terasa simbolis. Seolah ingin mengatakan bahwa kebahagiaan tidak selalu rapi dan sempurna. Ia bisa datang lewat jalan yang salah, tertunda, bahkan terasa menyakitkan di awal. Tapi tetap pantas diperjuangkan.

Menonton film ini saat hidup sedang berat membuatku mengingat satu hal penting: lelah bukan dosa, berhenti yang berbahaya. Tidak semua orang mendapat jalan lurus. Sebagian dari kita memang harus melewati lorong sempit, gelap, dan sunyi—sebelum akhirnya sampai.

The Pursuit of Happyness bukan sekadar film inspiratif. Ia adalah cermin. Tentang hidup, peran sebagai manusia, tanggung jawab, dan harapan yang dijaga pelan-pelan dengan kesabaran.

Mungkin itulah alasan film ini tak pernah usang. Ia selalu menemukan jalannya kembali ke hati kita—terutama saat kita sedang berjuang.

Kalau kamu, bagaimana?
Apakah film ini juga pernah menemanimu di masa-masa berat?



Sunday, November 23, 2025

Qodarullah… Malam yang Menghangatkan Hati di Kinara Cozy Kost

Konten [Tampil]

Aku bersama Teh Indari Mastuti. (Dokumen Pribadi)

Jujur, aku tidak pernah menduga bahwa malam itu menjadi salah satu momen yang akan membekas dalam hatiku. Hari-hariku sebelumnya cukup melelahkan. HP-ku baru saja selesai diservice setelah terkena virus—gara-gara banyak game yang diunduh cucuku, Arumi. Padahal, aku sedang dikejar deadline editing video. Biasanya aku jarang membuka pesan masuk, apalagi saat sedang fokus.

Tapi Qodarullah… malam itu berbeda. Ada sesuatu yang membuatku membuka notifikasi. Dan di sanalah aku membaca kabar bahwa Teh Indari Mastuti sedang berada di Bogor.

Seakan semuanya sudah diatur oleh Allah.
Allah menggerakkan hatiku untuk membuka pesan itu.
Allah pula yang menggerakkan hati suamiku untuk mengizinkan aku pergi.
Tidak ada satu pun yang terasa kebetulan.

Aku sempat mengira jarak ke tempat beliau hanya sekitar 10–15 menit. Ternyata 20 menit juga perjalanan menuju Kinara Cozy Kost—sebuah kost-an yang menurutku sangat mewah. Sebagai alumni IPB, aku tahu betul bagaimana Dramaga dulu. Kini daerah itu berubah pesat, begitu hidup, begitu maju.

Sepanjang perjalanan aku hanya bertanya dalam hati:
Apa rencana Allah di balik undangan pertemuan mendadak ini?
Wallahu’alam. Tapi aku percaya, selalu ada pesan di balik setiap pergerakan hati.

Sebenarnya aku sudah dua kali melewatkan momen bertemu Teh Indari—saat kopdar Bogor aku sakit, dan saat ulang tahun Indscript kondisiku tidak memungkinkan. Maka ketika mendengar beliau berada di Bogor, aku hanya ingin hadir. Tidak ingin kehilangan kesempatan lagi. Tidak ingin menyesal untuk ketiga kalinya.

Saat pintu kamar dibuka dan Teh Indari langsung memelukku erat, rasanya seperti bertemu sahabat lama yang sudah lama tak bersua. Hangat. Haru. Ada getaran syukur yang sulit kuceritakan dengan kata-kata.

Beliau begitu hangat, begitu manusiawi. Sambil berbincang dengan kami, beliau tetap melayani suaminya dan menata makanan yang baru datang. Sederhana, tetapi bagi seorang murid sepertiku—itu adalah teladan nyata tentang penghormatan, keseimbangan, dan dedikasi.

Obrolan kami mengalir tentang banyak hal—hidup, proses, perjalanan bisnis, hingga keputusan-keputusan besar yang tidak semua orang tahu. Dan aku belajar satu hal penting malam itu:
bahwa setiap orang punya perjuangan yang tidak terlihat, dan bahwa langkah teguh selalu lahir dari hati yang ditopang Allah.

Aku pulang dengan hati yang penuh.
Penuh hangat.
Penuh syukur.
Penuh semangat baru.

Pertemuan itu menguatkanku sebagai murid, sebagai penulis, sebagai seseorang yang sedang berproses menjadi lebih baik.

Qodarullah… tidak ada yang kebetulan.
Malam itu bukan hanya pertemuan di Kota Hujan,
tapi pengingat bahwa Allah selalu punya cara yang indah
untuk menguatkan langkah-langkah kecilku.

Terima kasih, Teh Indari. Semoga Allah menjaga dan memberkahi setiap langkahmu.

telah terbit di Facebook:


Tuesday, July 8, 2025

Indari Mastuti: Inspirasi Menulis dan Berdakwah

Konten [Tampil]

 

Ilustrasi seorang wanita muslim menulis di buku harian. (pexels.com/

Oktay Kâseoğlu)

“Menulis adalah bagian dari dakwah. Dengan tulisan, kita bisa menyebarkan kebaikan dan menjangkau lebih banyak orang.”

Indari Mastuti

Aku menulis bukan karena merasa pintar. Bukan pula karena ingin terlihat hebat. Aku menulis karena butuh tempat menumpahkan isi hati dan tak selalu ada orang yang bisa mendengarkan.

Dulu, menulis adalah caraku mencatat hal-hal kecil: rasa marah, cinta diam-diam, dan cerita remaja dalam buku diary. Tapi kini, saat menjadi ibu rumah tangga, menulis menjadi caraku untuk tetap waras di tengah rutinitas.

Hingga suatu hari aku menemukan kembali gairah itu, saat melihat iklan webinar “Nulis Jadi Cuan”. Dari sanalah aku mengenal lebih dekat sosok yang luar biasa,Teh Indari Mastuti, founder Indscript Creative, pelopor inovasi literasi, dan perempuan penggerak perubahan dari balik layar rumahnya.

Meskipun awalnya aku tak sempat ikut sesi utama karena pindahan rumah mendadak, Allah izinkan aku hadir di sesi ulang. Saat itu, sambil mengatur barang-barang di rumah baru, aku menyimak pemaparan Teh Indari dan jujur, aku terpaku.

“Jangan tunggu waktu luang untuk menulis. Sisihkan waktu, minimal 10 menit sehari,” katanya tegas namun hangat.

Kata-kata itu menusuk lembut ke dalam kesadaranku. Dulu aku hanya menulis saat sempat atau saat sedang merasa baik. Namun kini, aku mulai menulis agar tetap baik. Setiap hari 10 menit, dan itu cukup untuk membuatku merasa hadir bagi diriku sendiri.

Ketika aku mengalami kehilangan motivasi, di saat itulah aku mendapat kejutan: video call dari Teh Indari  secara langsung. Itu adalah bagian dari program Video Call Silaturahmi yang sedang dijalankan Indscript Creative. Dalam percakapan singkat tetapi sangat bermakna, beliau berkata:

“Menulis adalah bagian dari dakwah. Melalui tulisan, kita bisa menyebarkan kebaikan.”

Teh Indari juga menekankan pentingnya personal branding dan tidak hanya mengandalkan peluang dari satu platform. Beliau mendorong kami untuk mulai menawarkan jasa menulis sendiri baik review produk, artikel profil, bisnis UMKM, dan banyak lagi.

Dari dorongan itu, aku memberanikan diri bergabung di Sribulancer. Hasilnya? Dalam waktu singkat, 14 job menulis aku kerjakan. Dari menulis, aku tidak hanya sembuh… tapi juga bertumbuh.

Menulis Bukan Lagi Sekadar Kata, Tapi Jalan Kehidupan

Menulis bukan lagi hanya tentang meluapkan perasaan. Ia telah menjadi jalan dakwah—jalan untuk berbagi nilai, menyentuh hati, dan menyampaikan pesan kebaikan kepada dunia. Dalam setiap kalimat yang kutulis, ada niat untuk menebar manfaat. Dalam setiap paragraf, ada harapan agar tulisan ini menjadi bagian dari amal yang terus mengalir.

Tetap Menulis Meski Mood Menghilang

Tak dipungkiri, ada hari-hari saat mood menulis lenyap. Aku termenung di depan layar kosong, jari-jari enggan bergerak, dan pikiranku mengembara ke hal-hal remeh. Tapi aku belajar dari pesan Teh Indari: “Jangan tunggu mood, tapi biasakan menulis.”

Menulis itu seperti shalat—bukan soal sedang ingin atau tidak, tapi tentang komitmen untuk hadir setiap hari.

Kini, meski tak selalu bersemangat, aku tetap menulis. Meski pendek, asal konsisten. Karena aku percaya, dari kebiasaan kecil inilah, semangat besar akan tumbuh kembali.

Penutup

Kini, menulis bukan lagi sekadar pelarian. Ia adalah jalan dakwah, jalan untuk tumbuh, dan langkah kecil menuju ridha-Nya. Meski mood terkadang memudar, aku memilih tetap hadir, tetap menulis, meski hanya satu paragraf sehari.

Karena aku percaya, selama masih ada kata yang bisa ditulis, masih ada kebaikan yang bisa disebarkan. Dan selama masih ada satu orang yang membaca, maka menulis tetap layak diperjuangkan.

Terima kasih, Teh Indari, telah menyalakan kembali bara semangat dalam jiwaku. Aku akan terus menulis. Untuk Allah, untuk sesama, untuk diriku sendiri.

Tuesday, June 3, 2025

Jejak Kata Ibu Rumah Tangga, Istri, dan Penyintas

Konten [Tampil]


Tulisan ini lahir bukan dari hidup yang sempurna, melainkan dari serpihan kisah yang mengajarkanku arti sebuah perjuangan. Kutuliskan dalam setiap jejaknya dengan hati, air mata dan iman.

Adakala sebagai ibu rumah tangga, aku merasa tidak berharga. Hari-hariku dilalui terasa monoton, tenggelam dalam rutinitas tanpa jeda. Namun, dari sanalah aku belajar tentang cinta tak bersyarat, bahwa mencintai tak selalu butuh ucapan, tetapi hadir dalam diam, kesabaran dan Ikhlas yang tak terlihat.

Sebagai istri, pastinya aku pernah menghadapi badai rumah tangga. Ada luka yang kupendam, lelah yang tak sempat kuceritakan. Rumah tangga bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan siapa yang ingin memperbaiki diri demi kebaikan bersama.

Aku sebagai seorang penyintas tumor otak, yang telah melalui perjalanan panjang untuk kesembuhan. Hari demi hari selalu diselimuti rasa takut dan cemas. Dari sana, aku belajar bahwa menuliskan kisah bisa menjadi doa panjang dan pelipur luka, bagi diri sendiri maupun orang lain.

Lewat platform KBM, kutuliskan semuanya. Kisah-kisah itu kini, kubagikan dalam tulisan yang bisa dibaca melalui platform KBM App. Tiga karyaku di sana bukan hanya catatan harian, melainkan cerminan dari perjalanan seorang perempuan yang ingin menyembuhkan dirinya sambil menguatkan orang lain:


πŸ”Ή Pernak-pernik Kehidupan Ibu Rumah Tangga

πŸ”Ή Untukmu, Lelaki yang Kupilih untuk Menggapai Surga-Nya

πŸ”Ή Secercah Mentari Bagi Penyintas Tumor Otak

 

"Semoga jejak kata ini menjadi cahaya kecil untukmu yang sedang berjuang. Aku percaya, setiap perempuan memiliki kisah yang layak ditulis, dan setiap luka bisa disembuhkan lewat kejujuran yang ditulis dengan cinta."


Temukan tulisan-tulisanku melalui link di bawah ini:

https://read.kbm.id/profile/penulis/a0298c80-1d43-7448-ab93-ceb3469f7ebc

 

Monday, December 30, 2024

Hangatnya Kebersamaan di Penghujung Tahun 2024

Konten [Tampil]


Sakit kepala ini masih terasa sejak pagi membuatku hampir ragu untuk menghadiri acara keluarga besar kali ini. Namun, aku tak ingin melewatkan momen berharga bersama Acin’s Family di penghujung tahun. Dengan berusaha menyemangati diri, aku bisa bergabung dalam acara di Villa Omah Sakinah, yang terletak di kaki Gunung Salak Bogor dengan keindahannya sangat memanjakan mata.

Udara sejuk menyambut kami setibanya di villa. Acara utama malam itu adalah “Ngeliwet bareng”, tradisi makan bersama dengan sajian sederhana namun penuh makna. Tak hanya itu, kami saling berbagi cerita, memberikan apresiasi kepada setiap anggota keluarga, dan merencanakan masa depan, termasuk mempersiapkan hari tua bagi kedua orang tua.


Anak-anak yang lebih muda sibuk bermain dan membuat konten, sementara bocah-bocah cilik berlarian atau melompat di tempat tidur, membuat suasana semakin ramai. Di tengah obrolan hangat, kami juga memanggang jagung dan menikmati camilan sederhana. Malam diakhiri dengan sesi nonton bareng bagi anak-anak, sementara para orang tua memilih istirahat lebih awal.

Keesokan harinya, pagi yang dingin diiringi hujan menyapa kami. Setelah salat subuh, mie rebus hangat dan minuman panas menjadi menu sarapan yang sempurna. Ketika hujan mereda, kami berjalan-jalan menikmati pemandangan indah sekitar villa. Namun, hujan kembali turun, membuat kami memilih mengobrol santai di dalam villa sambil menghangatkan tubuh.


Ketika tiba waktunya berkemas, anak-anak yang lebih besar mengusulkan bermain di taman hiburan, sementara bocah-bocah kecil memilih berenang. Akhirnya, kami mengalah untuk memenuhi janji berenang bersama. Meski singkat, tawa dan kebahagiaan mereka membuat semua lelah terbayar sudah.

Menjelang siang, kami menutup dengan pulang ke rumah masing-masing. Momen ini menjadi pengingat, indahnya silaturahim di penghujung tahun sebagai waktu untuk merefleksi diri, memperkuat hubungan keluarga, dan merencanakan langkah menuju tahun yang lebih baik.

Villa Omah Sakinah, dengan segala kehangatan yang tercipta, akan selalu menjadi kenangan manis di hati kami.

Bogor,  29-30 Desember 2024



Publikasi melalui:


Thursday, December 26, 2024

Rintihan Tubuhku, Berakhir dengan Perbaikan Diri

Konten [Tampil]


Sudah beberapa hari ini aku mengalami sakit kepala tegang (
tension headache), tubuhku juga terasa ringkih dan lemas. Aku sudah mengonsumsi minuman herbal yang sederhana dan obat pereda nyeri untuk meredakan sakit kepala ini, tetapi rasa sakitnya tetap bertahan. Aku tidak tahu apa penyebabnya, mungkin ada banyak faktor. Aku telat makan, kurang konsumsi air putih, jam tidur yang kurang, atau bisa juga karena aku kena gerimis hujan berulang kali.

Namun, sakit kepala ini terasa berbeda dari sakit kepala yang pernah aku alami. Aku merasa sangat sensitif dengan cahaya, tak jarang sering terasa mual-mual, sehingga untuk mulai menulis pun tak bisa dilakukan. Lelah pastinya, tetapi aku mencoba dengan mulai memperbaiki imunitas tubuh terlebih dahulu. 

Dimulai dari memperbaiki pola istirahat, dengan jam tidur yang sama setiap harinya. Pola makan teratur dan menu sehat dengan tidak mengonsumsi makanan olahan, mengurangi garam, sayuran yang baru di petik, dan tidak mengonsumsi kopi kesukaanku. Satu hal yang penting, aku beraktivitas fisik yang mengeluarkan keringat walaupun merasa kelelahan selepasnya

Aku benar-benar tidak membuka media sosial, grup-grup di berbagai aplikasi dan termasuk laptop kesayangan. Dengan menikmati kehidupan sehari-hari, tanpa melakukan aktivitas rutin baik menulis maupun membuat template CapCut. Akhirnya, semua mulai terasa berbeda, setelah proses rileksasi secara tidak langsung. Duduk rutin di teras belakang rumah sambil mendengarkan air yang mengalir di kolam ikan dan menikmati tanaman yang sedang mengalami proses tumbuh. 

Sambil menggemburkan tanah di pot, aku bercerita dengan tanaman-tanaman ini dan meminta mereka untuk tumbun sehat. Begitu juga dengan benih-benih ikan yang masih beradaptasi dengan tempat baru di halaman belakang rumah. Aku meminta kepada mereka agar senantiasa tumbuh sehat dan cepat berkembang biak. 

Alhamdulillah ada perbaikan yang dapat aku rasakan, walaupun semua anggota keluarga sering menjadi sasaran omelanku terutama suami tercinta. Masya Allah, sebenarnya aku telah diberikan peringatan sejak mengalami kelelahan awal bulan. Namun, semua hal itu tidak membuat aku bertindak segera untuk lebih peduli pada tubuh sendiri.


Dipublikasikan melalui:

https://www.facebook.com/share/p/1ApjjbddPj/


Tuesday, December 17, 2024

Mengubah Hobi dan Jurnal Trauma Menjadi Jalan Kesuksesan

Konten [Tampil]


Menulis bukan hanya tentang merangkai kata, tetapi juga sebuah perjalanan dalam menemukan diri sendiri. Sejak kecil aku memang sudah sangat suka menuangkan ide, cerita dan pengalaman dalam bentuk untaian kata. Semua itu, aku tuliskan di sebuah buku diary, agenda, kertas kecil atau benda apapun yang bisa digunakan untuk menulis.

Namun, seperti halnya hidup, kebiasaan itu perlahan-lahan memudar, terkubur oleh rutinitas dan kenyataan yang menuntut banyak hal dariku. Aktivitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga, telah menghabiskan seluruh waktuku. Tak ada ruang untuk menuliskan kata-kata yang pernah aku sukai bahkan mendengarkan suara pena yang menari di atas kertas.

 

Menulis Jurnal Menjadi Titik Balik Menemukan Diriku

Hari-hari terus berlalu, hingga suatu hari, trauma hadir menghampiri hidupku. Trauma ini mengguncang segalanya, memaksaku untuk melihat ke dalam diri sendiri. Disanalah aku bertemu kembali dengan pena yang telah lama ditinggalkan. Kali ini, menulis bukan hanya sekadar hobi bagiku. Menulis menjadi caraku untuk bertahan, memunguti serpihan-serpihan yang sempat hilang dari dalam diriku sendiri.

Menulis membantu aku keluar dari trauma, alhamdulillah perjalanan hidup ini terus berlanjut. Sebagai seorang single parent dan bekerja, terasa begitu berat saat pertama kali aku menjalaninya. Namun, dengan rutinitas buku jurnal ini sangat membantuku terus bertahan dan berjuang. Meskipun, rutinitas harian di kantor sangat melelahkan, aku selalu berusaha menuliskan semua hal di buku itu.

Dengan berbekal ilmu menulis otodidak dan pelajaran saat sekolah, aku terus menulis hingga berkembang menjadi passion. Ketika tulisan telah menyatu menjadi bagian hidup, dia akan berkembang dengan sendirinya. Kebetulan pekerjaan di kantor juga menuntutku untuk terus menulis, sehingga semakin mengasah keterampilan menulis ini.

 

Indscript Creative sebagai Tempat Tumbuh dan Pendewasaan

Ketidakpercayaan diri selalu menghantui, apalagi sejak pemutusan kerja dari perusahaan tempat  aku bekerja. Aku mulai mencari pekerjaan untuk terus melanjutkan perjalanan hidup ini. Dengan banyak pertimbangan, aku mulai mencari kelas menulis dan tidak sengaja menemukan iklan kelas menulis dari Indscript Creative di media sosial. Energi semangat dari seorang owner energik ini, mampu membangkitkan semangatku kembali.

Bergabung dan tumbuh bersama Indscript Creative sangat membantu meningkatkan keterampilan menulisku lebih baik dari sebelumnya. Aku terus melatih diri untuk konsisten menulis, pastinya ada saat pasang surut mood untuk menghasilkan sebuah karya.

Ketika mengalami kegalauan kemana aku akan mengarahkan langkah kaki dari skill menulis ini, teh Indari Mastuti memberikan petuah dan motivasi kepadaku. Penulis tidak hanya berhenti dengan sekedar menulis sebuah karya tetapi penulis juga harus mampu mempromosikan karyanya sendiri.

Aku sudah mendapatkan banyak ilmu dan trik terbaik dari beliau untuk memilih jalan terbaik dengan skill menulis ini. Hal inilah, yang menyebabkan aku begitu mencintai Indscript Creative bukan hanya mendapatkan keterampilan menulis tetapi juga bimbingan, motivasi, serta memfasilitasi para penulisnya agar menjadi lebih handal dan mandiri.

Begitu banyak karya yang telah aku hasilkan, semuanya alhamdulillah dapat berdampak baik bagi banyak orang. Saat itulah, aku mulai mencoba membuka peluang menyediakan jasa penulisan kreatif baik berupa artikel, review sebuah brand atau produk, dan copywriting.

Dengan berbekal skill yang ada, aku mencoba menulis artikel mereview resto milik teman masa sekolah. Alhamdulillah, hasil reviewnya berdampak baik. Namun seiring berjalannya waktu, aku baru menyadari jika di dalam dunia bisnis dan pemasaran bukan hanya membutuhkan sekadar tulisan indah semata.

Mereka sangat membutuhkan sebuah konten yang strategis, menarik perhatian dan mampu mendorong pembaca untuk bertindak. Akhirnya aku mulai mendalami dunia seni penulisan copywriting dan artikel yang berbasis SEO.

 

Melangkahkan Kaki sebagai Freelancer di Sribu.com

Langkah selanjutnya, aku mulai bergabung dengan Sribu.com, sebagai peluang untuk menghubungkan passion dengan kebutuhan klien terbuka lebar. Sribu.com, sebagai platform layanan kreatif, telah menjembatani antara aku dengan para pelaku bisnis yang membutuhkan konten berkualitas.

Awal bergabung di Sribu.com, bertepatan dengan sebuah event yang bernama “Sribuin atau Sribuin KOL.” Alhamdulillah, aku dapat mendaftarkan diri pada batch ini dan mendapatkan 14 klien dengan jasa copywriting dan penulisan artikel.

Akhirnya, jasa yang aku miliki di Sribu.com mendapatkan review ulasan terbaik dari para klien dengan nilai angka 5 untuk setiap kategori pelayanan. Semoga akan terus mengalir klien untuk menghampiri meminta jasa yang aku sediakan. Aamiin ya Rabbal’alamiin.

 

Aku belajar bahwa menulis tidak hanya soal kata-kata, tetapi juga soal menemukan kembali diriku yang sempat hilang. Dengan keberanian untuk memulai, sekecil apapun langkahnya, akan membuka pintu kesempatan baru dalam mencapai kesuksesan.

Monday, November 25, 2024

Cahaya di Setiap Sudut Daerah: Sebuah Dedikasi untuk Seorang Guru

Konten [Tampil]


Hai bundaπŸ’–...

Pagi ini, aku baru bisa menuangkan sedikit curhan hatiku tentang dedikasi seorang guru. Meskipun hingga hari ini, serpihan-serpihan memoriku tentang guru yang berperan untuk perjalanan hidupku belum menyatu utuh. Bagiku:

"Guru itu, bagaikan cahaya yang tak akan pernah padam. Meskipun harus menghadapi tantangan begitu besar, cahayanya akan terus menyala dan menerangi jalan yang gelap bagi setiap jiwa yang haus akan ilmu. Mereka mengorbankan waktu, tenaga, dan hati untuk memastikan bahwa anak-anak bangsa dapat tumbuh dengan pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan yang akan membawa mereka menuju masa depan lebih cerah."

Nah bunda, sedikit apresiasiku bagi sebuah dedikasi untuk seorang guru dimanapun mereka berada.

"Cahaya di Setiap Sudut Daerah: Sebuah Dedikasi untuk Seorang Guru"

Di setiap sudut daerah, mulai dari desa terpencil hingga kota besar. Ada cahaya yang terus menyala meskipun tantangan yang dihadapi begitu besar. Cahaya itu adalah guru, sosok yang dengan tulus mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan generasi penerus tanpa pamrih.

Di pedalaman, seorang guru melangkah jauh melewati jalan berbatuan, menyeberangi sungai, bahkan menantang cuaca ekstrem demi untuk bertemu anak-anak yang haus akan ilmu. Di perkotaan, seorang guru harus beradaptasi dengan teknologi, mereka memiliki kreativitas tinggi dalam menerapkan metode baru agar bisa menjangkau siswa di tengah era digital. 

Setiap guru membawa misi yang sama, yakni menyebarkan ilmu, menanamkan nilai-nilai kehidupan, dan membentuk masa depan yang lebih baik. Guru tidak hanya mengajarkan pelajaran di papan tulis, tetapi juga menjadi inspirasi dalam kehidupan. 

Mereka menjadi teladan kesabaran, keikhlasan, dan semangat untuk terus belajar. Melalui kata-kata bijak, perhatian tulus, atau bahkan hanya sekadar senyuman penyemangat. Guru telah menyentuh hati dan membimbing jalan kita.

Di Hari Guru ini, mari kita sampaikan apresiasi kepada mereka. Untuk setiap upaya yang tak terlihat, cinta yang diberikan tanpa batas, serta cahaya yang mereka nyalakan selalu di hati setiap muridnya.

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, yang selalu percaya bahwa setiap anak memiliki potensi masing-masing untuk bersinar. Terima kasih, para guru, atas dedikasi kalian menyinari kegelapan yang ada di setiap sudut daerah. Kalian adalah cahaya yang tak akan pernah padam.

Selamat Hari Guru!πŸ’•πŸ’•πŸ’•

Thursday, November 21, 2024

Inspirasi dari Grup Millionaire Writer

Konten [Tampil]





Pada Kamis pagi, aku mengikuti  π‘β„Žπ‘Žπ‘‘ 
π‘Žπ‘’π‘‘π‘–π‘œ π‘Šβ„Žπ‘Žπ‘‘π‘ π‘Žπ‘π‘ grup π‘€π‘–π‘™π‘™π‘–π‘œπ‘›π‘Žπ‘–π‘Ÿπ‘’ π‘Šπ‘Ÿπ‘–π‘‘π‘’π‘Ÿ, komunitas yang penuh dengan semangat para penulis dari berbagai latar belakang. Meski hanya mendengarkan, aku merasa seperti sedang menghadiri sebuah seminar inspiratif. Setiap kata yang disampaikan oleh Teh Indari Mastuti menjadi bahan refleksi, terutama saat membahas bagaimana setiap penulis harus tumbuh dengan caranya sendiri.

“Setiap penulis memiliki jalur masing-masing,” kata Indari Mastuti seorang penulis senior. “Ada yang fokus menulis buku solo, menjadi π‘”β„Žπ‘œπ‘ π‘‘π‘€π‘Ÿπ‘–π‘‘π‘’π‘Ÿ, menjual buku, atau bahkan memberikan jasa kepenulisan. Tidak ada jalur yang lebih baik dari yang lain, yang terpenting adalah tetap fokus dan konsisten meningkatkan π‘ π‘˜π‘–π‘™π‘™.”

Pernyataan itu seperti membuka pikiranku. Di tengah perjalanan menulis yang sedang kutempuh, sering kali merasa tergoda untuk mencoba berbagai hal sekaligus. Namun, di sini aku diingatkan bahwa menemukan satu jalur yang sesuai dengan diriku dan fokus di sana adalah kunci untuk tumbuh.

Kemudian, teh Indari beralih ke tentang pengelolaan grup. Salah satu ide yang dibahas adalah pentingnya menghadirkan kegiatan produktif di komunitas ini. Salah satunya adalah mengadakan bedah buku, di mana para penulis buku Indscript akan menjadi mentor untuk membina anggota lainnya. Ide ini begitu menarik, menurutku.

Aku membayangkan bagaimana bedah buku ini akan memberikan kesempatan untuk belajar dari pengalaman nyata para penulis sukses. Tidak hanya membahas isi buku, tetapi juga strategi penulisan, teknik pemasaran, hingga bagaimana menghadapi tantangan dalam proses kreatif. Ini akan menjadi ruang yang sangat berharga untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman.

Setelah π‘β„Žπ‘Žπ‘‘ π‘Žπ‘’π‘‘π‘–π‘œ grup selesai, aku termenung sejenak. Hari ini, aku tidak hanya mendapatkan arahan untuk tetap fokus pada jalur kepenulisan, tetapi juga sebuah inspirasi baru: bagaimana pentingnya komunitas yang dikelola dengan baik untuk mendukung setiap anggota tumbuh.

Aku merasa lebih percaya diri untuk terus melangkah. Jika setiap langkah kecil ini dilakukan dengan konsisten, aku yakin jalur yang dipilih akan membawa menuju tujuan besar dalam dunia kepenulisan. Kini, aku lebih semangat untuk mengembangkan diri, sambil berharap suatu saat bisa ikut membina atau bahkan membedah buku di sebuah komunitas. Aamiin Ya Rabbal’alamiinπŸ‘.


Dipublikasikan:

https://www.facebook.com/share/p/12ES9TpDKmC/

Wednesday, November 20, 2024

Reuni Tak Terduga di Dunia Digital

Konten [Tampil]

Ilustrasi notifikasi dari handphone: copilot.microsoft.com-cindiana

Pagi itu, aku mengikuti videocall rutin dari grup Telegram Penulis Indscript. Sudah lama aku tidak mengikuti π‘£π‘–π‘‘π‘’π‘œπ‘π‘Žπ‘™π‘™ rutin ini, sejak kesibukanku di dunia π‘“π‘Ÿπ‘’π‘’π‘™π‘Žπ‘›π‘π‘’π‘Ÿ. Seperti biasa, suasana π‘£π‘–π‘‘π‘’π‘œπ‘π‘Žπ‘™π‘™ penuh antusiasme ketika teh Indari Mastuti sedang berbagi tentang kepenulisan biografi. Kebetulan aku mendapatkan sebuah π‘—π‘œπ‘π‘  menulis artikel tentang sosok diri seseorang, sehingga topik hari ini menarik perhatianku.

Aku belum memunculkan wajah di forum karena rencana hanya ingin mendengarkan saja forum π‘£π‘–π‘‘π‘’π‘œπ‘π‘Žπ‘™π‘™ tersebut. Namun, ternyata teh Indari menyapa aku di forum sehingga mau tak mau aku harus segera muncul di forum. Beliau menanyakan kemana saja, sudah lama tidak hadir π‘£π‘–π‘‘π‘’π‘œπ‘π‘Žπ‘™π‘™ pagi. Aku pun bercerita tentang perjalanan sebagai π‘“π‘Ÿπ‘’π‘’π‘™π‘Žπ‘›π‘π‘’π‘Ÿ di platform Sribu.com

Pertama bergabung dan mengikuti event yang diadakan Sribu.com, aku langsung mendapatkan 14 pekerjaan dari klien. Aku berbagi suka duka, dan bagaimana akhirnya menetapkan bergabung di sana. Semua terjadi sejak aku mendapatkan π‘£π‘–π‘‘π‘’π‘œπ‘π‘Žπ‘™π‘™ silaturrahim dari Teh Indari Mastuti, yang memberikan pesan agar menentukan π‘”π‘œπ‘Žπ‘™π‘  ke depan, meminta fokus di dunia kepenulisan dan bisa menghasilkan cuan dari keahlian menulis. Menulis artikel menjadi pilihanku, meskipun aku masih pemula tetapi setidaknya sudah banyak karya yang dihasilkan.

Tak kusangka, rekaman videocall itu disebarkan ke berbagai grup, termasuk grup π‘Žπ‘“π‘“π‘–π‘™π‘–π‘Žπ‘‘π‘’ π‘šπ‘Žπ‘Ÿπ‘˜π‘’π‘‘π‘–π‘›π‘” yang mempromosikan kelas menulis Indscript Creative. Aku pikir, itu hanya π‘£π‘–π‘‘π‘’π‘œπ‘π‘Žπ‘™π‘™ rutinitas seperti biasanya. Namun, sore harinya, sebuah notifikasi dari aplikasi Telegram mengubah segalanya.



"Assalamu'alaikum, Melly?"

“Benarkah ini kamu?” tertulis pada tangkapan layar foto π‘£π‘–π‘‘π‘’π‘œπ‘π‘Žπ‘™π‘™ tadi pagi yang aku ikuti.

"MasyaAllah sekarang jadi penulis," tulis seorang kontak yang tidak kukenal.

Namun, kontak ini merupakan teman satu grup dengan aku di πΆπ‘œπ‘šπ‘šπ‘’π‘›π‘–π‘‘π‘¦ π‘‡π‘Ÿπ‘–π‘π‘’π‘™π‘–π‘œ π‘Šπ‘Žπ‘Ÿπ‘Ÿπ‘–π‘œπ‘Ÿπ‘ . Ketika kulihat gambar profilnya, membuat aku terkejut. Iya, itu Erlinda adalah teman masa kuliahku!

Seseorang yang dulu sering sebagai tempat berbagi cerita baik suka maupun duka dan bercanda di masa-masa kuliah, tapi hilang kontak cukup lama.

“Ya, ini aku. Serius, ini kamu Lin” balasku dengan antusias.

Percakapan itu menjadi awal dari nostalgia yang hangat. Dia bercerita bahwa selama ini dia sangat aktif sebagai π‘Žπ‘“π‘“π‘–π‘™π‘–π‘Žπ‘‘π‘’ Tribelio yang mempromosikan kelas-kelas menulis Indscript Creative. Dia mengaku tak pernah menyangka akan melihat wajahku di rekaman π‘£π‘–π‘‘π‘’π‘œπ‘π‘Žπ‘™π‘™ grup itu.

“Aku bahkan tidak tahu kalau kamu sekarang seorang penulis,” katanya.

Momen itu benar-benar membahagiakan. Aku merasa seperti dipertemukan kembali oleh takdir, melalui dunia yang sama sekali tidak terduga yakni dunia tulisan. Aku mulai menceritakan perjalananku, bagaimana menulis telah menjadi bagian penting dalam hidupku. Aku juga ingin menyebarkan semangat menulis kepada lebih banyak orang.

“Kamu harus coba menulis juga,” kataku padanya suatu kali.

“Kamu punya akses dan banyak inspirasi. Siapa tahu, tulisanmu bisa menjadi sesuatu yang besar.”

Dia hanya tertawa dari emoticon yang di sematkan pada chat percakapan, mungkin belum sepenuhnya yakin. Tapi aku tahu, benih semangat menulis itu sudah kutanamkan padanya.

Pertemuan ini membuatku menyadari betapa kuatnya tulisan sebagai media untuk menyatukan orang-orang, bahkan yang sudah lama terpisah. Menulis bukan hanya sebagai alat untuk berkarya, tetapi juga sebagai jembatan untuk menjalin kembali hubungan dan menciptakan cerita baru.

Terima kasih Indscript Creative, aku akhirnya dipertemukan kembali dengan seorang teman lama.

Late post (Bogor, 15 November 2024)

Dipublikasikan : 

https://www.facebook.com/share/p/19TSFGktAN/

Monday, November 18, 2024

Jersy Arisana: Sosok Inspiratif di Industri Digital dan Kreatif

Konten [Tampil]

Dalam era digital yang terus berkembang, nama Jersy Arisana muncul sebagai salah satu sosok anak muda yang memberikan inspirasi. Sebagai Duta Muda Sumatera Utara, Putri Ekowisata  kota Tebingtinggi, Putri Culture Ekowisata Sumatera Utara dan Putri Media Sosial Kreatif Indonesia, Jersy berhasil menggabungkan prestasi, kreativitas, dan semangat dalam membangun generasi muda yang berkarya.

Tak hanya itu, ia juga mendirikan Digital Management, Jas Management. Sebuah jasa manajemen yang membuka peluang bagi anak muda untuk terlibat dalam perubahan positif di era digital saat ini. Nah, di artikel ini akan menceritakan seperti apa sosok Jersy Arisana, bagaimana ia mengembangkan diri dalam kreativitas dan inovasinya hingga pesan positif yang ingin disampaikannya untuk semua kalangan.

 

Sosok Jersy Arisana: Inspirasi dari Sumatera Utara

Jersy Arisana dikenal sebagai gadis muda yang penuh semangat dan memiliki segudang aktivitas. Sebagai duta muda, ia sering terlibat dalam kegiatan yang mempromosikan potensi Sumatera Utara, mulai dari pariwisata hingga budaya lokal. Gelar Putri Culture Ekowisata Sumatera Utara  yang disandangnya mencerminkan kepedulian Jersy terhadap kelestarian lingkungan, sedangkan perannya sebagai  Putri Media Sosial Kreatif Indonesia menunjukkan kecakapannya memanfaatkan teknologi untuk kemajuan lebih baik. 

Meskipun usianya masih belia, Jersy memiliki visi dan misi yang besar. Mewujudkan generasi muda Indonesia lebih kreatif dan berdaya saing di dunia digital. Ia percaya bahwa dengan keberanian mencoba dan inovasi, pastinya generasi muda dapat berkontribusi untuk perubahan yang lebih baik.

 

Founder Digital Management: Jas Management

Jersy tidak hanya berprestasi di dunia kompetisi, tetapi juga aktif di dunia profesional. Sebagai pendiri Digital Management; Jas Management,  ia menciptakan platform untuk membantu individu dan bisnis dalam mengelola kehadiran digital mereka. Melalui jasa ini, Jersy Arisana telah memberikan ruang bagi anak muda untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi mereka. 

Digital Management tidak hanya fokus pada hasil, tetapi juga pada proses pemberdayaan. "Saya ingin anak muda Indonesia berani melangkah dan mencoba hal baru, karena di situlah awal dari perubahan," tutur Jersy dalam sebuah wawancara.

 

Menyebarkan Semangat untuk Generasi Muda

Salah satu hal yang membuat Jersy begitu inspiratif adalah kemampuannya untuk memotivasi generasi muda. Ia aktif berbagi pengalaman dan pengetahuan, baik melalui media sosial maupun kegiatan offline. Jersy Arisana sering mengingatkan bahwa setiap orang memiliki potensi untuk sukses, asalkan mau belajar dan tidak takut gagal. 

Sebagai representasi generasi muda, Jersy menjadi bukti bahwa usia bukanlah penghalang untuk berkarya. Dengan sikap rendah hati dan visi yang kuat, ia mengajak anak muda untuk terus berkontribusi, baik di dunia kreatif, sosial, maupun lingkungan.

 

Pesan Positif untuk Semua Kalangan 

Artikel ini bukan hanya tentang Jersy Arisana, tetapi juga tentang pesan yang ia bawa: “beranilah untuk bermimpi besar, mencoba sesuatu yang baru, dan menjadi bagian dari perubahan positif”. Semangat dan kerja keras Jersy menjadi teladan bagi siapa saja yang ingin sukses di dunia yang serba cepat  saat ini. 

Sebagai putri daerah Sumatera Utara, Jersy Arisana telah membuktikan bahwa mimpi besar dapat diraih dengan usaha yang konsisten. Ia adalah inspirasi bagi generasi muda untuk terus maju dan menjadikan dunia digital sebagai sarana untuk berkarya dan membawa manfaat.

 

Penutup

Kesuksesan tidak ditentukan oleh usia seseorang, tetapi oleh semangat, dedikasi dan keberanian untuk bermimpi yang dicontohkan oleh sosok Jersy Arisana. Sebagai Putri ekowisata kota Tebingtinggi, Putri Culture Ekowisata Sumatera Utara, Duta muda Sumatera Utara, Putri media sosial kreatif Indonesia, dan founder Digital Management, Jas Management ia memberikan inspirasi tak hanya bagi anak muda, tetapi juga bagi semua kalangan yang ingin berkontribusi untuk kebaikan.

Jersy Arisana, seorang generasi muda yang memiliki panutan untuk berani melangkah, mencoba, dan menjadikan karya mereka sebagai bagian dari perubahan positif. Sudah siapkah kamu untuk mengikuti jejak Jersy dan membawa dampak bagi dunia? Mari dimulai dari sekarang! 

 

Biodata 

Nama : Jersy Arisana

Nama panggilan: Jeje

Tempat tanggal lahir: Bekasi, 05 September 2004

Sedang berkuliah di Universitas Negeri Medan Jurusan Pendidikan Akuntansi 

Pengalaman: konten kreator, brand ambassador looke cosmetics, brand ambassador Pigeon Teens, muse dan model

Media sosial Instagram: @arisanajeje 


Dipublikasikan:

https://www.facebook.com/share/p/12AqufAwe4j/