Showing posts with label story. Show all posts
Showing posts with label story. Show all posts

Wednesday, June 10, 2026

Menulis untuk Bertahan: Perjalanan Sunyi Seorang Perempuan Kuat

Konten [Tampil]


Ada masa dalam hidup ketika kita tidak diberi pilihan selain bertahan. Bukan karena kita hebat, bukan karena kita siap, tetapi karena tidak ada jalan lain kecuali melangkah. Aku merasa, jika hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang, maka luka-luka yang singgah di dada adalah penanda bahwa aku pernah berjuang.

Tanpa pernah kusadari, perjalanan itulah yang membawaku sampai ke titik ini—menulis sebagai cara untuk bertahan, sembuh, dan mengerti bahwa Allah tak pernah meninggalkanku.

Hidupku berubah drastis pada usia yang begitu muda, ketika dokter mengatakan ada tumor di otakku. Ruang tunggu rumah sakit mendadak terasa sempit, udara seperti menolak masuk ke paru-paruku. Aku hanya terduduk, mendengar detak jantungku sendiri yang seakan berlari tanpa tujuan.

Apa ini benar terjadi padaku?

Pertanyaan itu menghantam berkali-kali.

Saat itu, aku masih mahasiswi analis kimia semester tiga—penuh mimpi, penuh harapan. Kejang pertama di usia 20 tahun kukira hanya kelelahan. Namun, ia datang lagi, dan lagi, hingga CT Scan menunjukkan kebenaran yang tak ingin kuterima—ada tumor di otakku.

Duniaku runtuh seketika. Namun, dari titik runtuh itulah kekuatan dalam diriku mulai tumbuh.

Operasi Pertama dan Tahun-Tahun Panjang Menjaga Asa
Setelah berobat ke sana-sini dan mencari second opinion, keluargaku memutuskan operasi kraniotomi. Alhamdulillah, hasilnya menunjukkan Astrocytoma grade 1—tumor jinak. Aku tak perlu kemoterapi ataupun radiasi, hanya harus berdamai dengan obat anti kejang.

Aku melanjutkan hidup—kuliah, wisuda, menikah, membangun keluarga. Namun, setiap kali tubuh lelah, kejang itu datang lagi. Aku belajar hidup dengan waspada, tetapi tetap bersyukur karena masih diberi usia.

Dua Puluh Tahun Kemudian: Ketakutan yang Mengetuk Kembali
Setelah hampir dua dekade, kejang itu semakin sering. Dokter menyarankan MRI ulang, dan hasilnya membuatku kembali terdiam lama—tumor itu tumbuh lagi, pelan tetapi pasti.

“Operasi kedua adalah pilihan terbaik,” kata dokter.

Hatiku remuk. Aku takut. Bagaimana dengan suami dan anak-anakku? Mampukah aku kembali menjadi ibu?

Namun, Allah selalu punya cara menguatkan hati seorang perempuan. Aku dipertemukan dengan seorang teman dari komunitas penyintas tumor otak, salah satunya Lilia—perempuan yang sudah enam kali operasi dan tetap tersenyum.

“Kamu akan baik-baik saja,” katanya. “Selalu ada cahaya di ujung terowongan. Kita hanya perlu terus berjalan ke arahnya.”

Kata-katanya menempel di hatiku seperti doa.

Di sepertiga malam, aku bersujud, menyerahkan ketakutan kepada Allah. Dengan hati yang pasrah sekaligus kuat, aku menjalani operasi kedua pada bulan Agutus 2016. Alhamdulillah, tumor itu bersih. Dokter tersenyum sambil berkata, “Kamu pulih.”

Tiga Bulan Mendampingi Suami Menjelang Kepergiannya
Setahun setelah aku sembuh, Allah mengujiku lagi. Suamiku divonis sakit dan dirawat selama tiga bulan. Aku mendampinginya setiap hari, sambil masih memulihkan diri.

“Aku tahu kamu pasti bisa,” katanya pelan malam sebelum Allah memanggilnya pulang pada 27 Oktober 2017, hari Jumat.

Hatiku hancur. Aku ingin jatuh, tetapi anak-anakku memegang tanganku—dan aku tahu aku harus tetap berdiri.

Ketika Dunia Menguji Lagi: Penipuan Developer Syariah
Setelah suamiku tiada, aku berusaha menata hidup dan menyiapkan masa depan anak-anakku. Namun, perjalanan itu tidak mudah. Ketika seorang teman menawarkan investasi perumahan berbasis syariah, aku tergoda dan justru menjadi luka baru. Dana peninggalan suamiku lenyap ditelan tipu muslihat developer nakal. Pembangunan tak ada, jawaban pengembang hanya janji kosong.

Kecemasan lamaku pun kambuh. Aku bersujud kepada Allah, memohon jalan keluar. Dengan dukungan keluarga, aku memperjuangkan hakku. Berbulan-bulan aku datang ke kantor mereka, sering dipingpong, dan pulang dengan tangan hampa. Tapi aku tidak menyerah.

Alhamdulillah, sebelum akhir 2019, dana itu kembali. Tidak mudah, tetapi aku berhasil melewatinya.

Menulis: Cahaya yang Menuntunku Kembali Pulih
Dari semua perjalanan panjang itu—tumor otak, dua operasi, kehilangan suami, penipuan yang meluluhlantakkan hati, hingga kecemasan berulang—aku hanya punya satu cara untuk tetap waras: menulis.

Menulis membuatku bisa bernapas.
Menulis menghubungkanku dengan diri sendiri.
Menulis menjadi jembatan dari luka menuju harapan.

Ada satu kutipan yang selalu menemani malam-malam panjangku:
“Allah tidak menjanjikan hidup tanpa badai.
Tapi Dia menjanjikan pelangi setelahnya.”

Pelangi itu datangnya perlahan—tidak sekaligus.

Meskipun badai besar itu telah berlalu, bukan berarti hidupku mulus. Sampai hari ini, aku masih belajar mengendalikan anxiety dan serangan panic attack yang kadang datang tanpa permisi. Ada hari ketika napasku terasa pendek, dada diremas, dan dunia mengecil. Rasanya seperti luka lama kembali mengetuk.

Namun, aku mengerti bahwa kesembuhan bukan berarti rasa takut itu hilang. Kesembuhan adalah keberanian untuk tetap melangkah meskipun rasa takut berjalan di samping kita. Ia adalah kemampuan duduk tenang, menenangkan diri, dan berkata:
“Tidak apa-apa. Aku aman. Aku hadir untuk diriku sendiri.”

Mungkin di situlah aku makin memahami bahwa Allah tidak menjanjikan hidup tanpa ujian—tetapi Dia menitipkan kekuatan pada hati yang bersandar kepada-Nya.

Kini aku berdiri bukan karena aku sempurna, melainkan karena aku belajar bangkit dari setiap runtuhan. Aku masih belajar. Masih merawat luka. Masih berjalan pelan dan tegak, karena aku tahu Allah akan selalu menuntun.

Penutup
Untukmu, perempuan kuat yang sedang berjuang,
di fase hidup yang gelap. Izinkan aku memelukmu lewat kata-kata:

“Sembuh bukan tentang cepat.
Sembuh adalah proses pelan-pelan memahami apa yang kamu rasakan,
mengakui luka-lukamu,
dan memberi ruang bagi dirimu untuk bernapas,
tanpa memaksa diri untuk ‘baik-baik saja’ dalam semalam.”

Jika keberanianmu hari ini hanya cukup untuk bangun dari tempat tidur, ketahuilah bahwa itu pun sudah sebuah kemenangan.

Wahai perempuan, jangan pernah meremehkan kekuatanmu. Kamu mungkin tak selalu merasa kuat, tetapi setiap langkah kecilmu adalah bukti bahwa kamu masih bertahan. Jika kamu punya luka—ceritakan, tuliskan, dan lepaskan perlahan. Jika kamu merasa sendiri—ingatlah, banyak perempuan yang diam-diam berjuang sepertimu. Dan jika kamu sedang tenggelam—ulurkan tangan kepada siapa pun yang bisa menggenggamnya.

Aku pun di sini masih belajar sembuh. Namun, aku percaya:
Allah selalu memberi cahaya, bahkan untuk perjalanan yang paling sunyi.

***

Note: 

Tulisan ini saat mengikuti event Perempuan Kuat, Perempuan Menulis: Sisterlillah






Friday, June 5, 2026

Ketika Menulis Menemukan Jalannya Sendiri

Konten [Tampil]

Photo by Sixteen Miles Out on Unsplash

Sudah lama sekali aku tidak menulis di blog ini. Blog ini sepi, ide-ide sering datang dan pergi, sementara kehidupan terus berjalan dengan segala kesibukan dan kecemasannya.

Bukan aku berhenti menulis. Aku hanya belum bisa mengelola waktu agar dapat kembali menulis di blog. Di sisi lain, waktuku juga banyak tersita untuk mengikuti berbagai event menulis dan mengedit template CapCut.

Namun, rupanya menulis tidak benar-benar pergi.

Ia hanya berpindah tempat.

Menjadi catatan-catatan kecil yang kutulis sejak 2018. Catatan itu tidak selalu rapi dan panjang. Kadang hanya beberapa kalimat yang kutuliskan. Kadang berupa jurnal yang kutulis ketika pikiranku terasa terlalu ramai dan sulit kujelaskan ke siapapun.

Di masa-masa tertentu, terutama ketika panic attack hadir tanpa aba-aba, menulis menjadi salah satu cara yang membantuku tetap berpijak.

Aku menuliskan apa yang kurasakan. Apa yang kutakutkan. Apa yang membuat dadaku terasa sesak. Apa yang membuat pikiranku berlari ke mana-mana.

Bukan untuk mencari jawaban, Bukan pula untuk menghilangkan kecemasan itu sepenuhnya.

Aku hanya ingin mendengarkan diriku sendiri.

Seiring waktu, aku mulai menyadari bahwa kecemasan bukan sesuatu yang selalu bisa dilawan hingga hilang. Ada hal-hal dalam hidup yang memang tidak dapat kita kendalikan. Ada kekhawatiran yang datang tanpa diundang. Ada ketakutan yang tetap hadir meskipun semuanya tampak baik-baik saja.

Mungkin, yang perlu kupelajari bukanlah cara mengusirnya, melainkan cara hidup berdampingan bersamanya dengan lebih tenang.

Bertahun-tahun kemudian, sebagian dari catatan kecil itu berkembang menjadi sebuah kisah berjudul "Berdamai dengan Kecemasan (Jurnal Kecil Seorang Ibu yang Belajar Tenang)."

Sebuah kisah yang tidak lahir dari sebuah keberhasilan besar, melainkan dari proses panjang belajar menerima diriku sendiri.

Dokumen pribadi
Ketika kisah tersebut terpilih dalam Festival Kisah Inspiratif Nasional 2026 dan menjadi bagian dari buku antologi Akar yang Mencari Tumbang Jilid 3, ada perasaan hangat yang sulit kujelaskan.

Bukan semata karena namaku tercetak dalam sebuah buku. Melainkan karena aku merasa sedang diingatkan pada sesuatu yang pernah sangat dekat denganku: menulis.

Saat itulah aku menyadari, dengan menulis ternyata aku menemukan jalannya sendiri.

Aku yang mengira sedang menjauh darinya.

Padahal selama ini ia tetap ada. Tumbuh diam-diam di antara catatan-catatan kecil yang kutulis untuk bertahan melewati hari. Bersembunyi dalam jurnal-jurnal yang menjadi saksi kecemasan, ketakutan, sekaligus proses penerimaan diri.

Kini, catatan yang dulu hanya kutulis untuk diriku sendiri telah menemukan bentuk dan jalannya yang baru.

Insyaallah, buku antologi Akar yang Mencari Tumbang Jilid 10 akan diluncurkan pada 21 Juni 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Sebuah langkah kecil yang mengingatkanku: setiap tulisan memiliki waktunya sendiri dan setiap kata memiliki perjalanan yang tidak selalu bisa kita tebak.






Wednesday, May 6, 2026

Rumah Itu… Kamu

Konten [Tampil]
Photo by Danielle Dolson on Unsplash


Sebuah prosa reflektif tentang cinta dalam pernikahan—tentang tetap memilih, meski dalam hal-hal kecil yang kadang terasa menyakitkan.

Suamiku…

tulisan ini lahir dari hal yang sederhana.

Dari sebuah momen kecil—
saat aku berbicara,
dan kamu masih sibuk dengan ponselmu.

Aku sempat kesal.
Merasa diabaikan,
walau mungkin tidak sepenuhnya begitu.

Namun, entah kenapa,
dari rasa kesal itu, aku justru belajar memahami—

bahwa cinta kita
tidak selalu hadir dalam bentuk yang sempurna.

Meski kadang aku merasa kesal padamu,
aku tahu—itu hanya bagian kecil dari caraku mencintaimu.

Sebab semakin lama kita berjalan bersama,
aku mulai mengerti…

bahwa cinta tidak selalu hadir dalam bentuk yang manis dan mudah.

Kadang ia datang sebagai
diam yang panjang,

sebagai lelah
yang tak sempat diceritakan,

atau sebagai kesalahpahaman kecil
yang perlahan kita pelajari untuk pahami.

Dan dari semua itu, aku tahu satu hal—

aku tetap memilihmu.

Jujur saja,
kata syukur terasa tak pernah cukup
untuk menggambarkan hadirnya dirimu dalam hidupku.

Bukan karena semuanya selalu baik-baik saja,
melainkan karena di tengah segala yang tidak sempurna,
kita tetap menemukan alasan untuk bertahan.

Ada hari-hari yang terasa begitu berat.

Hari ketika pikiran terasa penuh,
hati terasa lelah,
dan dunia seolah berjalan terlalu cepat tanpa memberi kita jeda.

Di hari-hari seperti itu,
aku sering kali tak banyak bicara.

Aku hanya diam—

menyimpan segala rasa
yang bahkan sulit untuk kujelaskan.

Namun, setiap kali melihatmu tetap berjuang—
untukku, untuk kita, untuk keluarga ini—

hatiku selalu kembali tenang.

Seolah ada sesuatu yang berbisik pelan:

kamu tidak sedang berjalan sendirian.

Tak pernah sedikit pun aku menyesal memilikimu.

Bahkan di hari-hari yang terasa paling sulit,
aku justru belajar—

bahwa mencintaimu adalah keputusan
yang ingin kupilih, lagi dan lagi, setiap hari.

Bukan karena semuanya mudah,

melainkan karena
kamu tetap tinggal.

Kamu bukan hanya rumah bagiku,

tapi juga seseorang
yang memilih tetap tinggal—

bahkan saat segalanya terasa berat.

Dalam diam yang sederhana,
dalam lelah yang mungkin tak selalu kamu ceritakan,

aku tahu—

ada cinta yang tetap kamu jaga.

Terima kasih…

karena telah memilihku,
dan terus memilihku, setiap hari.

Bahkan saat aku mungkin
tidak selalu mudah untuk dipahami.

Aku mencintaimu—

lebih dari yang bisa dijelaskan
oleh kata-kata sederhana ini.

Dan mungkin, pada akhirnya…

rumah bukan tentang tempat kita pulang—

melainkan tentang siapa yang tetap tinggal.

Dan bagiku,
rumah itu… kamu.

Mungkin cinta memang sesederhana itu—
tetap tinggal, meski sedang tidak baik-baik saja.

Bogor, 28 April 2026

Note: diterbitkan juga di Medium



Thursday, February 12, 2026

Jejak yang Ditinggalkan dengan Tenang

Konten [Tampil]

Photo by Dicko Yudhatama on Unsplash

Aku tidak mengenal beliau sedalam suamiku mengenalnya. Namun aku mengenal jejaknya—dari cara suamiku menyebut namanya dengan hormat, dari cerita-cerita yang disampaikan dengan mata yang hangat, dan dari kehilangan yang terasa begitu dalam ketika beliau berpulang.

Bagi suamiku, beliau bukan sekadar om. Ia adalah sahabat, orang tua, sekaligus teman perjalanan. Tumbuh bersama, berjalan menapaki waktu di kota Curup, saling menemani dalam tugas dan perjalanan hidup, seperti dua pejalan yang saling menjaga arah.

Tahun 2023, hidup mengujinya dengan stroke. Sebagian tubuhnya melemah, langkahnya bergantung pada kursi roda. Namun, ada yang tidak pernah lumpuh—hatinya tetap berjalan. Dalam keterbatasan itu, ia tetap memenuhi panggilan menuju Tanah Suci pada tahun 2024. Dengan tubuh yang rapuh tetapi iman yang tegak, ia menunaikan ibadah haji. Tawaf yang dilaluinya di atas kursi roda, sa’i yang ditempuh dengan kelelahan, hingga panas Arafah yang membakar, semuanya dijalani dengan kesabaran yang sunyi.

Seakan ia sedang menyempurnakan perjalanan panjangnya sebagai seorang hamba.

Sepulang dari Tanah Suci, langkah hidupnya terasa semakin tenang. Ada keteduhan yang sulit dijelaskan, seolah hatinya telah menemukan arah pulang.

Tahun lalu, tepat di bulan Februari, beliau mendatangi saudara dan karyawan di kantornya. Silaturahim yang tampak sederhana—senyum, percakapan hangat, dan doa yang panjang. Kini aku memahami, mungkin ia sedang merapikan jejak, membersihkan hubungan, dan menenangkan hati orang-orang yang akan ditinggalkannya.

Ada satu kebiasaan beliau yang selalu dikenang keluarga. Setiap pulang ke Bengkulu, ia tidak pernah melewatkan makan bersama di Pantai Panjang. Bukan jamuan mewah, melainkan masakan dari rumah yang dinikmati bersama di tepi laut—ditemani angin dan suara ombak. Bagi beliau, silaturahim adalah pertemuan yang dihangatkan oleh kebersamaan.

Aku masih mengingat akhir tahun 2023. Suamiku diminta menemani anak sulungnya menelusuri harta miliknya—rumah, tanah, dan kendaraan yang menjadi bagian dari perjalanan hidup beliau. Setelah itu kami diminta makan bersama di Pantai Panjang bersama adiknya dan anak sulungnya, seolah kebersamaan itu adalah sesuatu yang harus tetap terjaga, seperti tradisi yang tak boleh terlewat.

Perjalanan belum selesai. Kami diminta membelikan ikan laut aku lupa nama ikannya, di pasar ikan Bengkulu, lalu membawanya ke rumah sepupunya untuk dimasak sesuai selera beliau. Bagiku, itu terasa unik sekaligus menghangatkan—cara sederhana yang ia pilih untuk merajut kedekatan, mempertemukan keluarga, dan menciptakan kenangan.

Kini kupahami, barangkali semua itu bukan sekadar kebiasaan. Bagiku, itu seperti pelajaran yang ingin beliau tunjukkan kepada anak sulungnya—dan kepada kami semua: beginilah cara menjaga hubungan, beginilah cara merawat keluarga, sahabat, dan relasi. Tanpa banyak kata, ia mengajarkan bahwa silaturahim adalah warisan yang harus dijaga.

Agustus 2024 menjadi pertemuan terakhir kami, saat aku dan suami mengantar anak bungsu ke Yogyakarta untuk memulai perjalanannya sebagai mahasiswa baru di Universitas Gadjah Mada. Pertemuan itu hangat dan sederhana, tanpa firasat apa pun. Namun kini, ketika diingat kembali, ada ketenangan yang tertinggal lebih lama—seakan beliau sedang menitipkan restu terakhir.

Barangkali begitulah cara Allah memanggil hamba-Nya—dengan kelembutan yang tak selalu disadari. Ia diberi kesempatan menyempurnakan ibadah, mempererat silaturahim, meninggalkan teladan, lalu menutup perjalanan dunia dengan hati yang lapang.

Kini aku memahami, ada manusia yang kehadirannya menjadi rumah bagi banyak orang. Dan ketika rumah itu dipanggil kembali oleh Pemiliknya, yang tertinggal bukan hanya duka, tetapi juga jejak keteladanan.

Tubuh boleh melemah, langkah boleh terbatas, tetapi iman selalu menemukan jalannya.  Ketika waktunya tiba, langkah itu akhirnya sampai—pulang kepada Allah dengan tenang.

Untukmu, suamiku—semoga tulisan ini menjadi teman bagi hatimu yang sedang berduka.


Sunday, November 23, 2025

Qodarullah… Malam yang Menghangatkan Hati di Kinara Cozy Kost

Konten [Tampil]

Aku bersama Teh Indari Mastuti. (Dokumen Pribadi)

Jujur, aku tidak pernah menduga bahwa malam itu menjadi salah satu momen yang akan membekas dalam hatiku. Hari-hariku sebelumnya cukup melelahkan. HP-ku baru saja selesai diservice setelah terkena virus—gara-gara banyak game yang diunduh cucuku, Arumi. Padahal, aku sedang dikejar deadline editing video. Biasanya aku jarang membuka pesan masuk, apalagi saat sedang fokus.

Tapi Qodarullah… malam itu berbeda. Ada sesuatu yang membuatku membuka notifikasi. Dan di sanalah aku membaca kabar bahwa Teh Indari Mastuti sedang berada di Bogor.

Seakan semuanya sudah diatur oleh Allah.
Allah menggerakkan hatiku untuk membuka pesan itu.
Allah pula yang menggerakkan hati suamiku untuk mengizinkan aku pergi.
Tidak ada satu pun yang terasa kebetulan.

Aku sempat mengira jarak ke tempat beliau hanya sekitar 10–15 menit. Ternyata 20 menit juga perjalanan menuju Kinara Cozy Kost—sebuah kost-an yang menurutku sangat mewah. Sebagai alumni IPB, aku tahu betul bagaimana Dramaga dulu. Kini daerah itu berubah pesat, begitu hidup, begitu maju.

Sepanjang perjalanan aku hanya bertanya dalam hati:
Apa rencana Allah di balik undangan pertemuan mendadak ini?
Wallahu’alam. Tapi aku percaya, selalu ada pesan di balik setiap pergerakan hati.

Sebenarnya aku sudah dua kali melewatkan momen bertemu Teh Indari—saat kopdar Bogor aku sakit, dan saat ulang tahun Indscript kondisiku tidak memungkinkan. Maka ketika mendengar beliau berada di Bogor, aku hanya ingin hadir. Tidak ingin kehilangan kesempatan lagi. Tidak ingin menyesal untuk ketiga kalinya.

Saat pintu kamar dibuka dan Teh Indari langsung memelukku erat, rasanya seperti bertemu sahabat lama yang sudah lama tak bersua. Hangat. Haru. Ada getaran syukur yang sulit kuceritakan dengan kata-kata.

Beliau begitu hangat, begitu manusiawi. Sambil berbincang dengan kami, beliau tetap melayani suaminya dan menata makanan yang baru datang. Sederhana, tetapi bagi seorang murid sepertiku—itu adalah teladan nyata tentang penghormatan, keseimbangan, dan dedikasi.

Obrolan kami mengalir tentang banyak hal—hidup, proses, perjalanan bisnis, hingga keputusan-keputusan besar yang tidak semua orang tahu. Dan aku belajar satu hal penting malam itu:
bahwa setiap orang punya perjuangan yang tidak terlihat, dan bahwa langkah teguh selalu lahir dari hati yang ditopang Allah.

Aku pulang dengan hati yang penuh.
Penuh hangat.
Penuh syukur.
Penuh semangat baru.

Pertemuan itu menguatkanku sebagai murid, sebagai penulis, sebagai seseorang yang sedang berproses menjadi lebih baik.

Qodarullah… tidak ada yang kebetulan.
Malam itu bukan hanya pertemuan di Kota Hujan,
tapi pengingat bahwa Allah selalu punya cara yang indah
untuk menguatkan langkah-langkah kecilku.

Terima kasih, Teh Indari. Semoga Allah menjaga dan memberkahi setiap langkahmu.

telah terbit di Facebook:


Thursday, July 3, 2025

Senandika: "Gema Kecemasan"

Konten [Tampil]

Ilustrasi: seseorang duduk memeluk lutut, penuh overthinking dan anxiety.(leonardo.ai

/meliafamelia)  

Ada suara di dalam kepalaku. Ia berbisik tanpa henti, seolah tak pernah lelah. Katanya, aku tak cukup baik. Katanya, dunia terlalu besar, terlalu bising, terlalu berbahaya untuk seseorang sepertiku. Setiap detik, setiap langkah, ada perasaan yang membekap, seakan aku terus-menerus berada di tepi jurang.

Kenapa hal-hal sederhana bisa terasa begitu rumit? Napasku tersengal hanya memikirkan kemungkinan yang belum tentu terjadi. Saat semua orang tampak tenang, aku dilanda badai di dalam diri sendiri. Jantungku berpacu, tanganku gemetar, dan tiba-tiba, aku kehilangan kendali atas atas diriku sendiri.

 Orang bilang, “Santai saja, itu hanya di kepalamu.”

Seakan aku bisa mematikan tombol dan semuanya akan baik-baik saja. Mereka tak tahu bagaimana rasanya terjebak dalam labirin pikiran yang tak pernah berhenti berputar. Bagaimana semua pintu seolah tertutup, kecuali satu pintu, yaitu kecemasan.

Aku ingin keluar, tapi bagaimana caranya? Ketakutan ini bukan hanya sekadar bayangan yang bisa kuabaikan. Ia nyata. Ia hadir setiap kali aku mencoba melangkah keluar dari zona nyamanku. Ia mengekangku, membisikkan ketidakmampuan, kelemahan, serta ketidakpastian. 

Namun, di tengah semua itu, ada secercah harapan. Mungkin suara itu tak akan pernah benar-benar hilang, tetapi aku bisa belajar untuk tidak selalu mendengarkannya. Aku bisa belajar untuk bernapas di tengah deru kecemasan, untuk berdiri di tengah gempuran pikiran yang meruntuhkan.

Mungkin hari ini aku masih di sini, di dalam perangkap kecemasanku. Tapi siapa tahu? Mungkin besok aku akan menemukan jalan keluar, meskipun hanya selangkah. Itupun sudah cukup, karena melawan kecemasan bukan tentang menang atau kalah, tetapi tentang bertahan dan menyadari bahwa aku lebih dari ketakutanku itu.


B0gor, 04 Juli 2025

 


Tuesday, June 3, 2025

Jejak Kata Ibu Rumah Tangga, Istri, dan Penyintas

Konten [Tampil]


Tulisan ini lahir bukan dari hidup yang sempurna, melainkan dari serpihan kisah yang mengajarkanku arti sebuah perjuangan. Kutuliskan dalam setiap jejaknya dengan hati, air mata dan iman.

Adakala sebagai ibu rumah tangga, aku merasa tidak berharga. Hari-hariku dilalui terasa monoton, tenggelam dalam rutinitas tanpa jeda. Namun, dari sanalah aku belajar tentang cinta tak bersyarat, bahwa mencintai tak selalu butuh ucapan, tetapi hadir dalam diam, kesabaran dan Ikhlas yang tak terlihat.

Sebagai istri, pastinya aku pernah menghadapi badai rumah tangga. Ada luka yang kupendam, lelah yang tak sempat kuceritakan. Rumah tangga bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan siapa yang ingin memperbaiki diri demi kebaikan bersama.

Aku sebagai seorang penyintas tumor otak, yang telah melalui perjalanan panjang untuk kesembuhan. Hari demi hari selalu diselimuti rasa takut dan cemas. Dari sana, aku belajar bahwa menuliskan kisah bisa menjadi doa panjang dan pelipur luka, bagi diri sendiri maupun orang lain.

Lewat platform KBM, kutuliskan semuanya. Kisah-kisah itu kini, kubagikan dalam tulisan yang bisa dibaca melalui platform KBM App. Tiga karyaku di sana bukan hanya catatan harian, melainkan cerminan dari perjalanan seorang perempuan yang ingin menyembuhkan dirinya sambil menguatkan orang lain:


🔹 Pernak-pernik Kehidupan Ibu Rumah Tangga

🔹 Untukmu, Lelaki yang Kupilih untuk Menggapai Surga-Nya

🔹 Secercah Mentari Bagi Penyintas Tumor Otak

 

"Semoga jejak kata ini menjadi cahaya kecil untukmu yang sedang berjuang. Aku percaya, setiap perempuan memiliki kisah yang layak ditulis, dan setiap luka bisa disembuhkan lewat kejujuran yang ditulis dengan cinta."


Temukan tulisan-tulisanku melalui link di bawah ini:

https://read.kbm.id/profile/penulis/a0298c80-1d43-7448-ab93-ceb3469f7ebc

 

Tuesday, May 13, 2025

Dua Tahun Bersama: Refleksi dari Hati

Konten [Tampil]



Dua tahun bukan waktu yang panjang, tetapi cukup untuk mengajarkan kami makna keteguhan. Baik dalam suka maupun duka, kami belajar bahwa pernikahan bukan tentang siapa yang paling kuat, tetapi tentang bagaimana kami saling menguatkan. 


Aku semakin percaya, bahwa ketika dua hati saling bersandar dalam keimanan kepada Allah, segala badai bisa dilalui. Kami bukan pasangan sempurna, tetapi kami berusaha untuk saling menerima, saling memahami, dan saling memperbaiki. 


Setiap tawa dan air mata menjadi bukti perjalanan ini merupakan anugerah dari Allah. Di balik setiap tantangan, ada tangan Allah yang selalu menggenggam, menuntun kami untuk tetap bersama dalam kebaikan. 


Anniversary ini bukan hanya selebrasi, melainkan pengingat bahwa cinta kami terus bertumbuh—bukan karena kami hebat, tetapi karena kami mau terus belajar mencintai dalam ridha-Nya. 


Semoga Allah senantiasa menjaga hati kami, menyatukan langkah kami, dan menjadikan rumah tangga ini bagian dari jalan menuju surga-Nya. Aamiin Ya Rabbal'alamiin 👐


Selamat milad cinta, kita.

💗💖

Bogor, 13 Mei 2025

Tuesday, May 6, 2025

Pesan Cinta di Ujung Ramadan

Konten [Tampil]
Ilustrasi sebuah pesan, (Canva.com/cindianafamelia06)

Lebaran tahun ini membawa kejutan yang tak terduga. Awalnya, aku dan suami tidak memiliki rencana untuk mudik ke kampung halaman di Curup, Bengkulu. Namun, Allah berkehendak lain. Tanpa diduga, kami akhirnya bisa kembali ke tanah kelahiran untuk merayakan Idulfitri bersama keluarga besar.

Malam pertama Lebaran, suasana rumah orang tuaku terasa hangat. Setelah seharian bersilaturahmi, Ibu dan Apak mengumpulkan semua anak dan menantu. Aku tidak tahu apa yang akan mereka sampaikan, tetapi firasatku mengatakan bahwa ini bukan sekadar obrolan biasa.

Ketika mereka mulai berbicara, hatiku bergetar. "Kami sudah tua," ujar Apak, suaranya berat namun penuh ketegasan. "Kami tidak tahu kapan Allah akan memanggil kami."

Aku membeku. Kata-kata itu menyentakku seperti angin dingin yang menusuk. Tiba-tiba, ruangan terasa begitu hening. Apak dan Ibu melanjutkan pembicaraan tentang warisan yang mereka tinggalkan diatur sesuai syariah Islam. Hatiku semakin sesak ketika Ibu mengeluarkan perhiasan emas yang selama ini disimpannya dengan penuh kasih sayang. Satu per satu, perhiasan itu diberikan kepada anak perempuan dan menantu perempuan.

Tanganku gemetar saat menerimanya. Ada kehangatan di sana, tapi juga rasa sakit yang sulit dijelaskan. Aku masih memiliki luka yang belum sembuh tentang kehilangan orang tercinta. Mendengar orang tuaku berbicara tentang kepergian mereka membuatku merasa seolah-olah duniaku runtuh seketika.

Beberapa hari setelahnya, aku masih terguncang. Setiap kali melihat perhiasan itu, hatiku kembali perih. Aku bertanya dalam doa, "Ya Allah, apa yang harus aku lakukan dengan ini?"

Dalam keheningan malam, aku merenung. Mungkin ini bukan sekadar pemberian materi. Ini adalah simbol kasih sayang, amanah, dan doa dari seorang ibu kepada anak-anaknya. Aku sadar, perhiasan ini bukan hanya tentang emas, tetapi tentang warisan nilai-nilai, cinta, dan harapan.

Dengan hati yang mulai lapang, aku memutuskan untuk memanfaatkannya dengan bijak. Mungkin sebagian bisa menjadi tabungan masa depan, mungkin juga bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat bagi keluarga dan sesama. Yang pasti, aku ingin menjadikannya sesuatu yang bernilai bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Bisa menjadi amal jariyah yang tak akan putus bagi kedua orangtuaku.

Aku belajar bahwa setiap pemberian, sekecil apa pun, memiliki makna lebih dalam jika kita melihatnya dengan hati yang terbuka. Dan mungkin, inilah cara Allah mengajarkan aku tentang arti kehilangan, penerimaan, dan keberkahan di balik setiap takdir-Nya.

Tuesday, April 8, 2025

Dear Allah

Konten [Tampil]


Dear Allah, 

Sampaikan do'a panjangku ini kepada suamiku

Aku memang belum bisa menjadi istri yang sholihah baginya. 

Aku memang belum menjadi istri yang terbaik baginya.

Sampai detik ini, aku terus berusaha untuk memperbaiki diri ini 


Ya Allah, Yang Maha Membolak-balikkan hati,

Engkau yang telah menakdirkan kami bersatu dalam pernikahan ini.
Aku yakin, bukan tanpa maksud Engkau mempertemukan kami—dua hati, dua masa lalu, dua cara mencintai yang berbeda.
Ya Allah, aku bersyukur atas suamiku, atas kehadirannya yang Engkau utus dalam hidupku.
Meski jalan kami tidak selalu mudah, aku yakin Engkau tidak pernah salah memberi takdir.

Ya Allah, lembutkan hati suamiku,
Lunakkanlah segala beban yang mungkin tersembunyi dalam diamnya,
Jernihkanlah pikirannya saat marah,
Berikan padanya rasa tenang dan kasih sayang yang lapang terhadap istrinya.
Ajarkan ia untuk memaafkan, seperti Engkau selalu memaafkan hamba-hamba-Mu yang berdosa.

Ya Allah, kuatkan hatiku sebagai istri,
Berikan aku kesabaran dalam menghadapi luka yang tak terlihat,
Berikan aku kekuatan untuk tidak membalas dingin dengan dingin,
Tapi untuk terus menjadi pelita, meski kadang rasanya cahaya ini hampir padam.

Ya Allah, perbaiki kami, bimbing kami,
Satukan hati kami dalam cinta yang Kau ridhoi,
Jadikan rumah tangga ini jalan ibadah menuju surga-Mu,
Bukan hanya dalam bahagia, tapi juga dalam sabar dan perjuangan.

Ya Allah, jangan biarkan kami saling menjauh karena luka dan diam.
Jika ada keras dalam dirinya, ajarkan aku cara melembutkannya.
Jika ada keras dalam diriku, ajarkan aku cara meredakannya.
Karena aku ingin mencintainya bukan hanya di dunia, tapi juga sampai jannah-Mu.

Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.


Bogor, 08 April 2025

Tuesday, February 25, 2025

Cahaya di Balik Kelamnya Masa Lalu

Konten [Tampil]

Ilustrasi sosok Rania sedang duduk di depan meja rias.

Rania duduk di depan meja rias, menatap bayangan dirinya di cermin. Sudah berbulan-bulan ia mencoba berubah, meninggalkan kebiasaan lama yang buruk dan memperbaiki dirinya. Ia lebih banyak beribadah mendekat diri kepada Allah, belajar bersikap lebih sabar, dan selalu berusaha membantu orang lain yang sedang mengalami kesusahan. Namun, tetap saja selalu ada bisikan-bisikan sumbang di sekitarnya. 

"Percuma, dia cuma pura-pura baik." 
"Ah, dulu kan dia sering buat masalah. Nggak mungkin berubah." 
"Orang seperti dia? Hanya pencitraan!" 

Tak hanya hinaan dan cacian yang ia terima, bahkan orang-orang mulai menjauhinya. Tidak ada yang mau berbicara dengannya, tidak ada yang menyapanya lebih dulu. Jika ia mencoba mendekat, mereka berbisik dan berpaling seolah kehadirannya adalah aib. 

Hatinya Rania pun terluka terasa perih tersayat sembilu. Dulu ia memang pernah berbuat salah, tapi apakah tidak ada kesempatan kedua? Apakah ia harus selamanya terperangkap dalam bayang-bayang kelam masa lalunya? 

Malam itu, di tengah sujudnya, Rania menangis.  

"Ya Allah, hanya Engkau yang benar-benar memahami apa yang ada di dalam hatiku. Aku tak butuh pengakuan manusia, tetapi aku hanya ingin menjadi lebih baik di hadapan-Mu." 

Namun, Rania pun menyadari, membuktikan penyesalan dan perubahan dirinya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ibarat kata pepatah, nila setitik rusak susu sebelangasatu kesalahan di masa lalu sering kali menutupi seribu kebaikan yang telah dilakukannya. 

Tak peduli seberapa keras ia berusaha memperbaiki diri, masih saja ada orang yang hanya mengingat keburukannya. Tatapan sinis, bisikan di belakangnya, dan keraguan terus menghantuinya. Namun, Rania memilih untuk tetap melangkah. Ia tidak ingin hidup dalam bayang-bayang penilaian manusia yang selalu berubah. 

Bangkit dari Penghakiman 

Rania memutuskan untuk berhenti berharap diterima oleh semua orang. Ia mulai sibuk dengan dunianya sendiri, mulai dari belajar lebih banyak, memperdalam ilmu agama, hingga mengisi waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat. 

Daripada memikirkan omongan orang, Rania memilih membantu anak-anak di panti asuhan, mengajarkan mereka membaca dan menulis. Ia juga mulai aktif dalam kegiatan sosial, membagikan makanan kepada kaum dhuafa, serta membantu tetangga yang membutuhkan. 

Awalnya, orang-orang masih meragukan sikapnya. Namun, perlahan-lahan akhirnya mereka mulai melihat ketulusan Rania. Seorang ibu yang dulu selalu menghindarinya kini tersenyum manis saat bertemu dengannya. Anak-anak kecil yang dulu takut mendekat, kini mereka berlari menghampirinya dengan riang. 

Rania sadar, perubahan sejati bukan tentang membuat semua orang percaya, tetapi tentang tetap melakukan kebaikan meskipun tidak dihargai. 

"Aku tak perlu membuktikan apa pun kepada mereka," gumamnya dalam hati.

"Cukup Allah saja yang mengetahui perjuanganku." 

Dan pada akhirnya, bukan penghakiman manusia yang menentukan, melainkan penilaian Allah yang Maha Mengetahui isi hati. 

Rania tidak lagi peduli dengan masa lalu yang terus menghantuinya. Ia memilih berjalan menuju cahaya, meninggalkan bayang-bayang kelam yang dulu mengurungnya. 

Karena ia tahu, seburuk apa pun masa lalu seseorang, selalu ada jalan untuk menjadikan lebih baik.