Showing posts with label lifestyle. Show all posts
Showing posts with label lifestyle. Show all posts

Wednesday, August 5, 2026

Naisar Garden, Kebun Harapan Keluarga

Konten [Tampil]

Ilustrasi:Satu bibit = satu harapan, 
sebagai solusi ketahanan pangan keluarga melalui pekarangan rumah
Photo by Madara on Unsplash

Naisar Garden mengajarkan bahwa harapan tidak selalu lahir dari langkah besar. Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap krisis pangan, perubahan iklim, dan persoalan sampah, gerakan ini mengajak masyarakat memulai perubahan dari rumah sendiri. Pekarangan yang sebelumnya dibiarkan kosong dapat menjadi sumber pangan, sementara sampah rumah tangga yang dipilah dengan baik dapat kembali memberi manfaat. Dari langkah-langkah sederhana itulah, Naisar Garden menghadirkan harapan bagi keluarga dan lingkungan.

Bagi aku, gerakan ini bukan sekadar tentang berkebun. Naisar Garden mengingatkan bahwa ketahanan keluarga dibangun melalui kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari. Ketika keluarga mampu menghasilkan sebagian kebutuhan pangannya sendiri dan peduli terhadap lingkungan, mereka telah mengambil bagian dalam menciptakan masa depan yang lebih tangguh.

Naisar Garden dan Solusi Ketahanan Pangan Keluarga

Melalui berbagai programnya, Naisar Garden memperkenalkan solusi ketahanan pangan keluarga yang dapat diterapkan oleh siapa saja. Ketahanan pangan tidak selalu identik dengan lahan yang luas atau biaya yang besar. Sebaliknya, gerakan ini mengajak masyarakat memanfaatkan setiap jengkal lahan yang tersedia agar lebih produktif.

Gagasan tersebut menjadi semakin relevan ketika berbagai pihak mulai mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan krisis di masa depan. Memiliki sumber pangan sendiri, meski dalam skala kecil, menjadi salah satu bentuk ikhtiar agar keluarga lebih mandiri dan tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar.

Kebun Sayur Organik dari Pekarangan Rumah

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membangun Kebun Sayur Organik di pekarangan rumah. Menanam cabai, tomat, kangkung, atau bayam tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan dapur, tetapi juga menghadirkan pangan yang lebih segar dan sehat bagi keluarga.

Berkebun juga mengajarkan kesabaran dan rasa syukur. Melihat benih tumbuh hingga siap dipanen menjadi pengalaman berharga yang dapat dinikmati bersama seluruh anggota keluarga. Dari kebun sederhana inilah tumbuh kesadaran bahwa pangan yang berkualitas membutuhkan proses dan kepedulian.

Cara Membuat Hutan Pangan di Rumah

Ilustrasi hutan pangan di rumah untuk
mendukung ketahanan pangan keluarga. 
Photo by Pankaj Shah on Unsplash
Selain kebun sayur, Naisar Garden juga mengenalkan konsep cara membuat hutan pangan di rumah. Berbeda dengan kebun biasa, hutan pangan menggabungkan berbagai tanaman produktif seperti pohon buah, tanaman rempah, tanaman obat, dan sayuran dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Konsep ini bukan hanya menghasilkan sumber pangan yang berkelanjutan, tetapi juga membantu menjaga keseimbangan lingkungan. Pohon-pohon yang ditanam akan memberikan keteduhan, meningkatkan kualitas udara, sekaligus menjadi investasi bagi generasi mendatang. Semua itu dapat dimulai dari satu bibit yang ditanam hari ini.

Dari Sampah Menjadi Manfaat

Naisar Garden tidak hanya berbicara tentang menanam, tetapi juga mengajarkan pentingnya mengelola sampah sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan. Melalui pengelolaan yang tepat, sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sumber daya yang masih memiliki nilai.

Cara Menukar Sampah dengan Sayuran

Salah satu program yang menarik adalah cara menukar sampah dengan sayuran. Masyarakat diajak memilah sampah dari rumah sebelum disetorkan. Sebagai bentuk apresiasi, sampah yang telah dipilah dapat ditukar dengan kebutuhan pangan, termasuk sayuran.

Program ini mendorong masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan sekaligus membangun kebiasaan baru yang bermanfaat bagi keluarga.

Sampah Organik Menjadi Kompos untuk Kebun

Sementara itu, sampah organik diolah menjadi kompos untuk menyuburkan tanaman di kebun. Cara sederhana ini mampu mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir sekaligus mengurangi penggunaan pupuk kimia. Siklus alam pun berjalan lebih seimbang karena apa yang dihasilkan bumi kembali dimanfaatkan untuk menyuburkan kehidupan.

Gerakan Peduli Lingkungan dari Pekarangan Rumah

Ilustrasi Gerakan peduli lingkungan
melalui urban farming dan pengelolaan sampah
Photo by Brian Wangenheim on Unsplash
Lebih dari sekadar tempat berkebun, Naisar Garden merupakan gerakan peduli lingkungan dari pekarangan rumah. Setiap keluarga diajak menjadi bagian dari perubahan melalui tindakan yang mudah dilakukan dan berkelanjutan.

Belajar Berkebun Sayur untuk Pemula

Bagi yang baru memulai, tersedia berbagai kesempatan untuk belajar berkebun sayur untuk pemula. Edukasi yang diberikan membuat siapa saja dapat memulai tanpa harus memiliki pengalaman sebelumnya.

Manfaat Urban Farming untuk Lingkungan

Selain memenuhi kebutuhan pangan keluarga, gerakan ini juga menunjukkan manfaat urban farming untuk lingkungan. Semakin banyak pekarangan yang ditanami, semakin banyak pula ruang hijau yang tercipta. Lingkungan menjadi lebih asri, kualitas udara meningkat, dan masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga bumi.

Penutup

Naisar Garden membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil. Melalui solusi ketahanan pangan keluarga, pengelolaan sampah, dan pemanfaatan pekarangan rumah, gerakan ini mengajak setiap keluarga menjadi bagian dari masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Dari satu bibit yang ditanam hari ini, tumbuh harapan yang kelak memberi manfaat bagi banyak orang.

Ingin Mengenal Naisar Garden Lebih Dekat?

Aku berharap semakin banyak keluarga yang terinspirasi memulai langkah kecil dari rumah. Jika Kamu ingin mengenal lebih dekat gerakan Naisar Garden, bergabunglah melalui kanal resmi WhatsApp yang berisi informasi seputar solusi ketahanan pangan, tata kelola sampah, serta program penukaran sampah menjadi sembako.

📱 Channel WhatsApp Naisar Garden


Tuesday, April 14, 2026

Review Na Willa 2026: Seorang Ibu Tak Selalu Benar

Konten [Tampil]

 

Dokumen pribadi

Tidak ada orangtua yang benar-benar siap.
Kita hanya belajar sambil berjalan—mengambil keputusan, membuat kesalahan, lalu berharap tidak terlalu banyak yang terlambat untuk diperbaiki.

Di situlah Na Willa (2026) menemukan kekuatannya—bukan pada cerita besar yang dramatis, melainkan pada hal-hal kecil yang terasa sangat dekat: kesalahan, penyesalan, dan keberanian untuk memperbaiki.

Film yang disutradarai Ryan Adriandhy ini membawa kita ke Surabaya tahun 80-an. Sebuah masa ketika hidup berjalan lebih pelan, tetapi justru memberi ruang bagi banyak hal untuk benar-benar dirasakan.

Dan mungkin, dalam perjalanan yang serba tidak pasti itu, kita sering lupa bahwa masa kecil tidak pernah butuh untuk dipercepat.

Masa Kecil yang Tidak Tergesa

Tidak ada layar yang menyita perhatian.
Tidak ada notifikasi yang terburu-buru.

Yang ada adalah langkah kaki menuju sekolah, suara radio di ruang keluarga, dan tawa anak-anak yang berlarian hingga senja.

Dunia dalam film ini terasa sederhana, tetapi justru di situlah letak kejujurannya. Masa kecil digambarkan sebagai ruang yang luas—tempat anak-anak belajar tanpa merasa sedang diajari.

Permainan engklek, layang-layang, hingga perjalanan dengan sepeda bukan sekadar latar, melainkan bagian dari proses tumbuh itu sendiri.

Di ruang yang lapang itulah, rasa ingin tahu itu tumbuh—tidak selalu rapi, dan tidak selalu mudah dipahami oleh orang dewasa.

idmb.com

Rasa Ingin Tahu yang Tidak Selalu Nyaman

Na Willa adalah anak yang tidak bisa diam dengan rasa ingin tahunya.
Ia bukan hanya melihat dunia—ia ingin memahaminya.

Ketika ia membongkar radio untuk mencari “di mana penyanyi itu berada,” kita tidak hanya melihat kenakalan anak kecil. Kita melihat cara seorang anak mencoba berdialog dengan dunia.

Namun, rasa ingin tahu seperti itu tidak selalu mudah diterima.

Emak, sebagai ibu, tidak selalu hadir sebagai sosok yang tenang dan tahu segalanya. Ia bisa marah. Ia bisa salah. Tetapi yang membuatnya berbeda adalah satu hal: ia memilih kembali.

Ia memilih menjelaskan.
Ia memilih memperbaiki.

Dan di situlah film ini terasa sangat manusiawi.

Namun, dari rasa ingin tahu yang sering dianggap “merepotkan” itu, ada satu hal yang diam-diam sedang dibentuk: sebuah kejujuran.

Tentang Kebohongan Kecil yang Tidak Pernah Benar-Benar Kecil

Ada satu metafora yang diam-diam menetap lama setelah film selesai:
kebohongan itu seperti kerikil di dalam sepatu.

Ia tidak selalu langsung melukai.
Tetapi ia membuat langkah terasa tidak nyaman.

Pelajaran ini menjadi benang merah yang mengikat perjalanan Na Willa. Ketika ia merasa diperlakukan tidak adil di sekolah—tidak dipercaya, tidak diberi ruang—ia tidak memilih diam.

Ia pulang. Ia bercerita.

Dan mungkin, di situlah pendidikan yang sebenarnya terjadi.
Bukan di ruang kelas, tetapi di ruang aman antara anak dan orangtua.

Ketika kejujuran itu benar-benar diuji, bukan hanya anak yang belajar—orangtua pun ikut dihadapkan pada cermin yang sama.

Ketika Orangtua Belajar dari Pilihannya Sendiri

Film ini tidak mencoba menjadikan orangtua sebagai sosok yang selalu benar.

Sebaliknya, ia menunjukkan sesuatu yang jarang diakui:
bahwa orangtua juga sedang belajar.

Pilihan sekolah yang kurang tepat.
Keputusan yang diambil berdasarkan rekomendasi, bukan pemahaman.

Namun alih-alih bertahan pada ego, Emak memilih untuk mencari ulang. Ia berjalan lagi. Ia mempertimbangkan lagi.

Ada keberanian yang sunyi di sana—keberanian untuk mengakui bahwa kita belum tahu segalanya.

Pada titik itulah, cerita ini perlahan berubah arah—bukan lagi hanya tentang anak yang tumbuh, melainkan tentang orangtua yang ikut berproses.

Lebih dari Cerita Anak, Ini Tentang Melepaskan Perlahan

Pada akhirnya, Na Willa bukan hanya tentang seorang anak yang tumbuh.

Ini adalah cerita tentang seorang ibu yang perlahan belajar melepaskan—
melepaskan rasa ingin selalu benar,
melepaskan kendali yang berlebihan,
dan mulai percaya pada proses tumbuh anaknya.

Film ini tidak berteriak.
Ia berbicara pelan.

Namun, justru karena itu, ia tinggal lebih lama.

Dan mungkin, setelah lampu bioskop kembali menyala, yang tersisa bukan hanya cerita tentang Na Willa.

Melainkan pertanyaan yang diam-diam kita bawa pulang:
sudahkah kita menjadi tempat yang cukup aman bagi anak untuk jujur—tanpa harus menyembunyikan kerikil di sepatunya?


Penutup

Barangkali, tidak ada orangtua yang benar-benar selesai belajar.
Tidak ada juga cara yang sepenuhnya sempurna untuk mencintai.

Kita hanya mencoba—di antara lelah, ragu, dan keinginan untuk tidak melukai terlalu dalam.

Dan seperti langkah yang pernah terasa mengganjal karena kerikil kecil itu, mungkin yang bisa kita lakukan hanyalah sesekali berhenti, melepasnya perlahan, lalu berjalan kembali dengan lebih ringan.

Bukan untuk menjadi orangtua yang tanpa salah,
melainkan menjadi tempat pulang yang tidak membuat anak takut untuk kembali.

Monday, February 2, 2026

Review Film Miracle in Cell No. 7: Cinta Ayah dan Anak Tak Terpenjara

Konten [Tampil]

Sumber foto: idmb.com


Identitas Film

Judul: Miracle in Cell No. 7
Sutradara: Lee Hwan-kyung
Tahun rilis: 2013
Negara: Korea Selatan
Genre: Drama, Keluarga
Durasi: ±127 menit

Review Film

Miracle in Cell No. 7 (2013) adalah film yang tidak datang dengan janji akhir bahagia. Ia hadir seperti surat yang ditulis dengan tangan gemetar—sederhana, jujur, dan pelan-pelan menyentuh bagian hati yang paling rapuh. Disutradarai oleh Lee Hwan-kyung, film ini mengisahkan Lee Yong-gu, seorang ayah dengan keterbatasan intelektual, dan Ye-seung, putri kecilnya yang tumbuh di dalam cinta yang polos dan tanpa syarat.

Di awal cerita, hidup mereka digambarkan seperti pagi yang selalu sama: rutinitas kecil, tawa sederhana, dan dunia yang cukup selama mereka saling punya. Yong-gu bukan ayah yang pandai menjelaskan dunia, tapi ia tahu satu hal penting—bagaimana mencintai anaknya sepenuh hati. Namun, hidup seperti pintu besi yang ditutup terlalu keras, tiba-tiba mengubah segalanya. Sebuah tragedi membuat Yong-gu salah tuduh dan dijatuhi hukuman mati. Dari titik ini, film tidak berusaha menjadi heroik. Ia justru memilih sunyi sebagai bahasa utama.

Penjara dalam film ini bukan sekadar ruang fisik, melainkan simbol bagaimana sistem bisa mencabut rasa kemanusiaan seseorang hanya dengan satu label. Namun, keajaiban kecil muncul dari tempat yang tidak terduga: para narapidana lain. Di antara dinding kusam dan jeruji dingin, mereka menjadi saksi bahwa empati masih bisa tumbuh, bahkan di tanah yang paling gersang. Mereka membantu Yong-gu agar Ye-seung tetap bisa bertemu ayahnya, seolah ingin berkata bahwa hukum mungkin kaku, tapi hati manusia tidak selalu ikut membeku.

Adegan perpisahan terakhir menjadi inti emosi film ini. Tidak ada musik yang memaksa tangis. Tidak ada dialog berlebihan. Hanya seorang anak kecil yang mengucapkan terima kasih karena sudah memiliki ayah, dan seorang ayah yang bersyukur pernah menjadi rumah bagi anaknya. Mereka berjalan berdampingan di lorong penjara, tangan kecil menggenggam tangan besar, seperti dua musafir yang tahu perjalanan ini akan segera berakhir. Momen itu terasa seperti lilin yang menyala di tengah badai—kecil, rapuh, tapi cukup untuk menerangi satu langkah terakhir.

Film ini seakan berbisik bahwa hidup tidak selalu memberi keadilan, dan doa tidak selalu berujung keajaiban. Namun, di antara vonis, hukuman, dan kehilangan, masih ada ruang untuk memeluk sebentar, mengucap terima kasih, dan mengakui cinta. Miracle in Cell No. 7 mengingatkan kita bahwa yang paling bertahan bukanlah sistem atau kekuasaan, melainkan hubungan antara orang tua dan anak—cinta yang tidak bisa dipenjara, bahkan ketika waktu dan nyawa harus dibayar mahal.



Menonton Miracle in Cell No. 7 membuatku menatap ulang makna cinta dan perpisahan, mengingatkan kembali lorong-lorong sunyi dalam hidup yang pernah aku lalui. Adegan terakhir, tangan kecil menggenggam tangan ayah, seolah membawa aku kembali ke bangsal rumah sakit—keheningan, napas yang menipis, dan doa yang lirih.

Semua itu aku tuangkan dalam tulisan untuk event Between Nostalgia Pages hari ke-6 berjudul Lorong Terakhir Bernama Ikhlas.
Kamu bisa menyimaknya lebih lengkap di Instagram atau Facebook melalui tautan ini:


Thursday, January 29, 2026

The Pursuit of Happyness: Belajar Bertahan Saat Hidup Terasa Berat

Konten [Tampil]

sumber foto: idmb.com
Review The Pursuit of Happyness (2006), film kisah nyata Chris Gardner tentang perjuangan, ayah tunggal, dan belajar bertahan saat hidup tidak mudah.

Ada film yang tidak datang membawa jawaban cepat atau kata-kata penyemangat yang lantang. Ia justru memilih menemani kita lebih lama di ruang lelah yang sering tak terucap. The Pursuit of Happyness adalah film seperti itu.

Aku kembali menontonnya—kali ini bersama suami lewat nobar online—dan perasaan yang muncul masih sama: tenang, tapi menghunjam. Film ini tidak mendesak kita untuk segera bangkit, tidak menyuruh kita berpura-pura kuat. Ia berjalan perlahan, setia, seperti seseorang yang duduk di sampingmu tanpa banyak bicara, hanya memastikan kamu tidak sendirian. Seolah berkata, lelah boleh, menyerah jangan.

Film ini tidak menjual mimpi tentang hidup yang mudah. Ia hanya mengingatkan satu hal sederhana: selama kita terus melangkah, harapan tak pernah benar-benar hilang.

Identitas Film

Judul: The Pursuit of Happyness
Tahun: 2006
Genre: Drama, Biografi
Durasi: 117 menit
Sutradara: Gabriele Muccino
Pemeran: Will Smith (Chris Gardner), Jaden Smith (Christopher Gardner Jr.)
Berdasarkan kisah nyata: Chris Gardner

Chris Gardner digambarkan berada di fase hidup paling rapuh. Pekerjaan yang tak menentu, tekanan finansial yang mencekik, kehilangan tempat tinggal, dan tanggung jawab sebagai orang tua tunggal datang bersamaan—tanpa jeda, tanpa belas kasihan.

Namun yang membuat cerita ini begitu kuat bukanlah daftar kesulitannya, melainkan pilihannya untuk tetap hadir bagi sang anak. Di tengah hidup yang nyaris runtuh, Chris tetap berusaha menjadi tempat paling aman bagi putranya.

Will Smith memerankan Chris dengan kejujuran yang terasa. Tidak dramatis berlebihan, tidak dibuat heroik. Justru lewat keheningan, tatapan kosong, dan jeda panjang, kita diajak masuk ke dalam kelelahan yang nyata. Tidak ada orasi motivasi, hanya keteguhan seseorang yang terus berdiri meski lututnya gemetar.

Sementara Jaden Smith hadir sebagai Christopher kecil yang sederhana, namun penuh makna. Ia menjadi alasan mengapa seseorang tetap bertahan—karena cinta. Karena ada yang harus dijaga, meski langkah terasa berat dan jalan terasa panjang.

idmb.com
Film ini menyentil kenyataan yang sering ingin kita sangkal: proses hidup tidak selalu adil. Usaha keras tidak selalu dibalas cepat. Kadang yang kita miliki hanyalah hari demi hari yang harus dilalui, tanpa jaminan apa pun di ujungnya.

Dan justru di sanalah makna happyness itu bersembunyi. Bukan hanya pada hasil, melainkan pada keberanian untuk terus melangkah, bahkan ketika arah terasa kabur.

Ejaan happyness yang tidak biasa pun terasa simbolis. Seolah ingin mengatakan bahwa kebahagiaan tidak selalu rapi dan sempurna. Ia bisa datang lewat jalan yang salah, tertunda, bahkan terasa menyakitkan di awal. Tapi tetap pantas diperjuangkan.

Menonton film ini saat hidup sedang berat membuatku mengingat satu hal penting: lelah bukan dosa, berhenti yang berbahaya. Tidak semua orang mendapat jalan lurus. Sebagian dari kita memang harus melewati lorong sempit, gelap, dan sunyi—sebelum akhirnya sampai.

The Pursuit of Happyness bukan sekadar film inspiratif. Ia adalah cermin. Tentang hidup, peran sebagai manusia, tanggung jawab, dan harapan yang dijaga pelan-pelan dengan kesabaran.

Mungkin itulah alasan film ini tak pernah usang. Ia selalu menemukan jalannya kembali ke hati kita—terutama saat kita sedang berjuang.

Kalau kamu, bagaimana?
Apakah film ini juga pernah menemanimu di masa-masa berat?



Thursday, January 8, 2026

Pelajaran Sunyi dari Jumbo (2025): Menjadi Rumah yang Mendengar Anak

Konten [Tampil]



Sumber foto: IMDb.com

Review Jumbo (2025): Film animasi keluarga yang pelan tapi menyentuh hati. Pelajaran parenting, hubungan anak-orang tua, dan belajar menjadi rumah yang aman bagi anak.

Film Jumbo (2025) selesai lebih cepat daripada perenunganku.

Anak-anak masih tertawa, berpindah tempat, berebut cemilan. Televisi sudah berganti tampilan. Tapi ada satu adegan dari film keluarga ini yang tidak ikut mati bersama layar—ia tinggal, diam-diam, di dadaku.

Aku tidak langsung menulis apa-apa hari itu.
Tidak membuka catatan.
Tidak membuat poin.

Aku hanya duduk dan memperhatikan:
bagaimana anak-anak mengekspresikan perasaan mereka, dan bagaimana orang dewasa—termasuk aku—sering terburu-buru menafsirkan.




Ketika Anak Datang dengan Rasa, Bukan Kalimat 

Ada satu momen dalam film ini ketika Jumbo tidak menangis. Tidak berteriak. Tidak meminta.
Ia hanya diam.

Dan justru di situlah aku tercekat.

Karena aku mengenali diam itu.
Diam yang bukan berarti baik-baik saja, tapi kelelahan karena tidak tahu bagaimana menjelaskan isi hati.

Berapa kali anak datang kepadaku membawa perasaan, sementara aku menyambutnya dengan solusi?
Bukan karena tak peduli, tapi karena ingin cepat menolong.

Film animasi keluarga ini tidak menegur. Ia hanya menunjukkan.
Dan dari sana aku belajar: mungkin yang dibutuhkan anak bukan jawaban, tapi kehadiran.

Aku, Ibu yang Pernah Menjadi Anak 

Menonton Jumbo (2025) tidak hanya mengingatkanku pada anak-anakku, tetapi juga pada diriku yang dulu.

Anak yang ingin dimengerti, tapi takut dianggap berlebihan.
Anak yang belajar menahan rasa karena dunia terlalu sibuk untuk mendengar.

Ternyata, menjadi orang tua tidak otomatis menyembuhkan luka masa kecil.
Ia justru membuka kembali ruang-ruang lama—dan memberi kesempatan untuk tidak mengulangnya.

Rumah yang Tidak Selalu Sempurna 

Film ini mengajarkanku satu hal penting: rumah tidak harus sunyi dari konflik, tapi aman untuk perasaan.

Menjadi rumah bukan berarti selalu benar,
melainkan bersedia tinggal—bahkan ketika suasana tidak nyaman.

Aku teringat sosok nenek dalam film itu.
Tidak banyak bicara. Tidak sibuk membenahi.
Ia hanya ada. Dan keberadaannya cukup.

Mungkin, begitulah bentuk cinta yang paling tenang.

Catatan untuk Diriku Sendiri 

Sejak menonton film Jumbo 2025, aku menulis satu pengingat kecil di kepalaku: Jika anak datang dengan diam, jangan buru-buru memecahnya.

Duduklah. Tunggu. Biarkan ia tahu: aku tidak pergi.

Aku tidak selalu berhasil.
Tapi aku ingin belajar.

Penutup 

Jumbo bukan film yang membuatku terharu seketika.
Ia bekerja pelan. Menyusup. Menetap.

Dan barangkali, itulah jenis cerita yang paling jujur—
yang tidak meminta kita menjadi orang tua sempurna,
hanya manusia yang mau hadir, dan pulang lebih utuh.

Sunday, December 28, 2025

Surat untuk Diriku Setelah Setahun Menulis

Konten [Tampil]

 

Dibuat AI, dreamina.capcut.com

Hai, diriku yang dulu,

Aku menuliskan surat ini bukan untuk menegurmu, melainkan untuk memelukmu. Aku tahu, setahun lalu kau menulis dengan hati yang sering bergetar—antara ingin didengar dan takut tak cukup baik. Kau menulis sambil bertanya-tanya: apakah kata-katamu akan sampai, atau justru tenggelam tanpa sempat disapa siapa pun.

Hari ini, aku ingin memberitahukanmu satu hal penting: caraku menulis telah berubah.

Dulu, aku menulis untuk segera selesai. Untuk merasa layak. Untuk memastikan bahwa apa yang kutulis cukup “pantas” dibaca orang lain. Kini, aku menulis untuk mengendapkan. Aku memberi jarak antara rasa dan kata, agar yang lahir bukan sekadar luapan, melainkan pemahaman.

Aku tak lagi terburu-buru mengejar hasil. Aku belajar menghormati proses. Jika dulu satu tulisan terasa gagal hanya karena tak ramai, kini aku tahu: tidak semua yang sunyi kehilangan makna. Ada tulisan yang memang ditakdirkan menjadi teman diam—cukup hadir untuk satu hati, termasuk hatiku sendiri.

Caraku mendengar pun berubah. Aku lebih sering mendengarkan diriku sendiri sebelum memikirkan suara di luar. Aku belajar menulis tanpa menghakimi perasaan yang datang. Sedih, lelah, cemburu, rindu—semuanya kini boleh duduk di meja yang sama, tanpa harus disunting agar tampak rapi.

Aku juga belajar melepaskan. Melepaskan perfeksionisme yang sering menyamar sebagai standar tinggi. Melepaskan kebiasaan membandingkan langkahku dengan langkah penulis lain. Melepaskan keinginan untuk selalu terlihat kuat. Ternyata, dari melepaskan itulah tulisanku justru bernapas lebih panjang.

Jika ada satu hal yang paling berubah, itu adalah niatku. Menulis tak lagi kuposisikan sebagai panggung, melainkan sebagai ruang pulang. Tempat aku boleh jujur, bahkan ketika kejujuran itu tak selalu indah. Tempat aku boleh berhenti sejenak, lalu kembali, tanpa merasa bersalah.

Untukmu, diriku yang setahun lalu: terima kasih karena tidak menyerah. Karena tetap menulis meski ragu, meski sunyi, meski tak selalu yakin pada arah. Hari ini aku menulis dengan langkah yang lebih pelan, tapi hati yang lebih lapang.

Teruslah menulis, bukan untuk menjadi siapa-siapa, melainkan untuk tetap menjadi dirimu sendiri.

Di tahun 2026 nanti, aku berharap bisa menulis dengan hati yang lebih tenang. Tidak tergesa mengejar bentuk, tidak gelisah menunggu gema. Aku ingin menulis dengan kejujuran yang terjaga—cukup jujur untuk diriku sendiri, cukup lapang untuk orang lain yang mungkin singgah dan menemukan sepotong dirinya di sana.

Dengan penuh kesadaran,
Aku, yang masih belajar menulis—dan kembali ke diri sendiri.

Tuesday, December 9, 2025

Mengejar Restu: Ketika Cinta, Keyakinan, dan Luka Keluarga Bertemu di Titik yang Sama

Konten [Tampil]

Poster resmi film “Mengejar Restu”. (Sumber: Sisterlillah)

“Ulasan Film Mengejar Restu (2025) Garapan Puadin Redi: Sebuah drama keluarga Indonesia yang tidak hanya berbicara tentang restu, tetapi juga tentang cinta, keyakinan, dan luka lama yang perlahan disembuhkan. Kisah yang menyentuh bagi siapa pun yang sedang belajar memahami hubungan, diri sendiri, dan perjalanan hidup.”

Ada banyak film yang mencoba mengangkat konflik antara cinta dan restu orang tua, tetapi tidak semuanya terasa dekat. Mengejar Restu justru menghadirkan keintiman emosional yang pelan, jujur, dan menyentuh bagian diri yang sering kita hindari untuk dibicarakan. 

Saat menontonnya, aku merasa seolah sedang membuka kembali ruangan-ruangan kecil dalam hati—ruangan yang berisi cinta yang ingin diperjuangkan, ketakutan yang tak sempat kita ucapkan, dan proses panjang memahami keluarga apa adanya.

Kemarin, Sabtu, 06 Desember 2025, aku berkesempatan ikut Nonton Bareng Mengejar Restu bersama komunitas Sisterlillah—sebuah pengalaman hangat yang meninggalkan banyak renungan. Suasananya penuh keakraban; para perempuan yang hadir bukan hanya datang untuk menonton, tetapi juga untuk memahami kisah keluarga dari sudut yang lebih jujur. 

Mungkin karena itulah film ini begitu ramai dibicarakan—bukan semata karena ceritanya menyentuh, tetapi karena setiap orang seperti membawa pulang kenangannya sendiri setelah lampu bioskop kembali menyala. Menonton bersama komunitas justru membuat pesan film ini terasa lebih dekat, lebih personal, dan entah bagaimana… lebih mengena.

Identitas Film

Judul: Mengejar Restu (2025)
Sutradara: Puadin Redi
Penulis Naskah: Titien Wattimena
Genre: Drama
Durasi: 107 menit
Rating-ku: ⭐️ 9/10

Ketika Restu Menjadi Ujian yang Tidak Terduga

Sejak menit awal, film ini sudah memberi nuansa lembut namun menekan. Tidak ada konflik yang meledak-ledak, tetapi ada ketegangan halus yang terus terasa. Di situ aku mulai berpikir: 

 “Betapa banyak cinta yang retak bukan karena kurangnya rasa, tetapi karena sejarah panjang keluarga yang belum tuntas.” 

Tokoh utama dalam film, Dania, digambarkan sebagai perempuan yang memikul banyak peran sekaligus. Ia bukan hanya seorang istri atau ibu—tetapi penjaga keseimbangan di antara ekspektasi, cinta, dan keyakinan. Dan di titik itulah aku merasa film ini berbicara langsung pada para perempuan yang pernah merasa berdiri di tengah badai, tapi tetap berusaha lembut. 

Sisi Manusiawi yang Jarang Diceritakan Film Keluarga

Yang membuat film ini berbeda adalah keberaniannya untuk jujur. Bukan jujur dalam bentuk kata-kata, tapi dalam keheningan, tatapan, dan cara para tokoh menahan diri. Restu dalam film ini tidak ditampilkan sebagai “izin” semata. Ia hadir sebagai perjalanan panjang yang berkaitan dengan nilai keluarga, pengalaman masa lalu, dan luka lama yang tidak semua orang siap membuka kembali. Dan seperti kehidupan nyata, restu bukan sekadar diberikan—ia disembuhkan. 



Pelajaran yang Kubawa Pulang 

Tanpa membocorkan alurnya, film ini membuatku merenung lebih panjang daripada yang kukira. Beberapa hal yang paling terasa adalah: Cinta yang dewasa selalu bekerja sama dengan tanggung jawab. Restu tidak datang tergesa-gesa, tetapi dari proses saling memahami. Perempuan sering menjadi pusat keteguhan keluarga, meski ia juga manusia yang kadang rapuh. Terkadang, Allah menunda sesuatu bukan untuk menyulitkan, tapi untuk mematangkan. Film ini mungkin tidak penuh konflik besar, tapi ia kaya akan pesan yang pelan-pelan masuk ke hati. 

Siapa yang Akan Menyukai Film Ini? 

Jika kamu suka film tentang keluarga, nilai, dan perjalanan batin, film ini akan sangat cocok. Jika kamu sedang berada dalam fase menjalani hubungan yang diuji restu, kamu mungkin akan merasa ini bukan sekadar film, melainkan teman bercerita. Dan jika kamu seorang perempuan yang sedang belajar memaafkan masa lalu, ini bisa menjadi cermin yang lembut. 

Penutup

Setelah menonton Mengejar Restu, aku menyadari bahwa perjalanan mendapatkan restu bukan hanya tentang memperoleh izin. Ia adalah tentang menjadi versi paling bijak dari diri sendiri—tanpa kehilangan cinta, keyakinan, atau arah hidup yang ingin kita pilih. Pada akhirnya, mungkin bukan restu dari manusia yang paling berat untuk dikejar, tetapi restu untuk berdamai dengan hati kita sendiri.



Saturday, November 29, 2025

Kuliner Wajib Dicoba Saat Berkunjung ke Kota Curup

Konten [Tampil]




www.indonesia-tourism.com

Kalau kamu belum pernah mendengar tentang Kota Curup, kamu tidak sendirian. Kota kecil di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, ini sering luput dari peta wisata, padahal menyimpan sejuta rasa dan cerita. Udara Curup sangat sejuk, alamnya tenang, dan yang paling kuingat sejak kecil adalah aroma makanan tradisional yang seakan menempel di udara setiap sudut kotanya.

Sebagai seseorang yang lahir dan besar di Curup, aku selalu merasa kota ini punya pesona unik—bukan hanya dari pegunungan dan sayur-mayurnya yang segar, tetapi juga dari kuliner khas Curup yang membuat siapa pun ingin kembali lagi.
Di blog ini, izinkan aku mengajakmu mencicipi satu per satu kuliner yang wajib kamu coba jika berkunjung ke Curup.

1. Gunjing: Kudapan Pagi yang Legendaris

Setiap pagi, aroma gunjing adalah tanda hari baru dimulai.
Kue tradisional ini dibuat dari tepung beras dan kelapa parut, dimasak dalam loyang kecil—mirip bandros khas Bogor.

Ada dua varian:

  • Original, gurih dan lembut.

  • Gula merah, manis dan harum.

Sederhana sekali, tetapi rasanya selalu berhasil menghangatkan suasana pagi di Curup. Kalau aku pulang kampung, gunjing biasanya jadi makanan pertama yang kucari.

2. Pempek Panggang Lapangan Setia Negara: Ikon Nongkrong Anak Muda

Siang atau sore, Lapangan Setia Negara selalu hidup.
Anak-anak muda biasa nongkrong sambil menikmati pempek panggang khas Curup yang dibakar perlahan di atas bara.

Bukan memakai cuko.
Pempek ini dibelah di tengah, diisi:

  • ebi halus,

  • sambal cabai merah kriting,

  • dan kecap.

Aromanya pedas–manis–asin sekaligus, dan percayalah… itu adalah aroma rindu. Aroma yang membuatku selalu ingin pulang.

3. Mie Pangsit Curup: Sarapan Andalan Warga

Belum sah ke Curup kalau belum makan mie pangsit Curup.
Mienya lembut, kuahnya ringan tapi berbumbu, dan pangsitnya punya karakter rasa khas yang hanya bisa ditemukan di kota ini.

Ini adalah menu sarapan yang tak pernah gagal mengingatkanku saat sarapan pagi bersama kelurga.

4. Kerupuk Kemplang (Kerupuk Bakar)

Oleh-oleh wajib dari Curup!
Kemplang dibakar hingga mengembang, menghasilkan aroma smokey yang khas. Gurihnya pas dan cocok dimakan kapan saja—entah sebagai camilan atau teman lauk.

Hasil tangkapan layar searching google.com

5. Lemea: Cita Rasa Asli Suku Rejang

Yang satu ini adalah identitas kuliner masyarakat Rejang.
Lemea dibuat dari ikan yang difermentasi dengan batang tebu muda parut.

Rasanya:

  • gurih,

  • sedikit asam,

  • dengan aroma fermentasi yang khas.

Meskipun aku bukan asli suku Rejang, lemea tetap menjadi hidangan wajib setiap kali pulang kampung. Bagiku, lemea bukan sekadar makanan—ia adalah simbol rumah, budaya, dan ingatan masa kecil yang tidak tergantikan.

6. Mie Celor & Miso Mang Midi: Dua Cita Rasa yang Sama-sama Melegenda

Curup memang memiliki beragam kuliner hasil pertemuan berbagai budaya. Salah satunya adalah Mie Celor yang populer dengan cita rasa khas Palembang, Sumatra Selatan.

Mie Celor menghadirkan kuah santan yang creamy dengan kaldu udang yang gurih. Semangkuk mi hangat ini terasa semakin nikmat disantap di tengah udara sejuk Kota Curup.

Berbeda dengan Mie Celor, Miso Mang Midi merupakan salah satu kuliner legendaris yang telah menjadi ikon Kota Curup. Miso di sini bukanlah miso seperti dalam kuliner Jepang, melainkan singkatan dari mi soun, kuliner lokal yang mendapat pengaruh masakan Tionghoa. Semangkuk miso berisi mi kuning, soun, irisan daging atau ayam, pangsit, bakso, serta kuah bening yang gurih dan kaya cita rasa.

Yang membuat Miso Mang Midi istimewa bukan hanya rasanya yang konsisten sejak puluhan tahun lalu, tetapi juga kenangan yang melekat di hati masyarakat Curup. Jika bertanya kepada warga setempat, hampir setiap orang memiliki cerita atau memori tentang semangkuk Miso Mang Midi yang selalu menghangatkan suasana bersama keluarga atau sahabat.

7. Lemang Tapai: Manis, Hangat, Mengenyangkan

Perpaduan lemang yang dibakar dalam bambu dan tapai manis adalah hidangan favorit saat sore. Teksturnya lembut, manisnya pas, dan sangat cocok dinikmati sambil duduk santai melihat kabut turun.

8. Sate Padang

Sate Padang di Curup juga terkenal nikmat. Kuahnya kental, pedas, dan wangi rempah. Biasanya dijadikan pilihan cemilan malam bukan hanya porsinya mengenyangkan tetapi rasanya juga bikin nagih.

9. Sambal Tempoyak: Primadona Musim Durian

Di Curup, musim durian adalah musim penuh kebahagiaan.
Tempoyak—fermentasi durian yang dimasak dengan cabai—adalah bintangnya.

Rasanya:

  • pedas,

  • asam,

  • creamy,

  • dan unik.

Paling enak disantap bersama ikan bakar. Ini adalah menu khas yang hanya muncul di momen tertentu, sehingga terasa sangat spesial.

10. Kopi Khas Curup: Penutup Perjalanan Kuliner

Jangan lupa mencicipi kopi Curup—kopi dari dataran tinggi Rejang yang aromanya kuat tapi lembut di lidah. Cocok jadi teman bersantai sambil menikmati udara pegunungan yang dingin dan tenang.

Penutup

Curup bukan hanya kota kelahiranku; ia adalah rumah bagi rasa-rasa yang membentuk kenangan masa kecil dan kedewasaanku. Setiap makanan di kota ini punya cerita, punya jiwa, dan membawa kehangatan tersendiri.

Bagaimana kuliner khas dari kota kelahiranmu?


Wednesday, November 12, 2025

Ayah: Cinta yang Bekerja dalam Diam

Konten [Tampil]

Ilustrasi ayah dan anak perempuannya. (freepik.com)

Ayah mungkin tak pandai mengungkapkan cinta dengan kata, tapi setiap lelah dan doanya adalah bukti kasih yang bekerja dalam diam. Sebuah refleksi hangat tentang cinta, tanggung jawab, dan ketulusan seorang ayah yang sering terabaikan tetapi selalu dirasakan.

Ayah sering kali terlihat sederhana—tak banyak bicara, tak pandai mengekspresikan kasih sayang seperti ibu. Namun di balik diamnya, tersimpan lautan makna yang jarang disadari. Ia adalah sosok yang bangun paling pagi dan pulang paling malam, bukan karena ingin jauh, tetapi karena cinta yang ia tunjukkan berbentuk tanggung jawab.


Dalam setiap langkahnya, ada perjuangan yang tak selalu diceritakan. Ia menahan lelah, menutupi cemas, dan tetap tersenyum agar keluarga merasa tenang. Ayah jarang berkata “aku sayang kamu”, tetapi cara ia memperbaiki atap bocor, memperbaiki mainan yang rusak, atau memastikan dapur tetap berasap—itulah bentuk cintanya yang paling nyata.

Kita mungkin tumbuh tanpa banyak pelukan darinya, tetapi perlindungannya terasa setiap kali kita jatuh dan belajar bangkit. Ia mengajarkan kita arti tangguh, bukan dengan kata-kata, melainkan dengan keteladanan. Dari ayah, kita belajar bahwa cinta tidak selalu lembut—kadang ia hadir dalam teguran, keheningan, atau bahkan ketegasan yang membuat kita mengerti arti hidup.

Seiring waktu, kita mulai memahami bahwa di balik wajahnya yang tampak keras, tersimpan hati yang lembut dan doa yang tak pernah putus. Ayah tak menuntut balasan, cukup melihat keluarganya bahagia sudah menjadi kebahagiaan baginya.

Kini, setiap kali rindu, kita sadar—betapa besar pengorbanan yang ia lakukan dalam diam. Ayah adalah cinta yang tak selalu diucapkan, tetapi selalu dirasakan. Ia adalah pahlawan tanpa jubah, yang mencintai tanpa pamrih, bekerja tanpa banyak kata, dan berdoa tanpa pernah berhenti.

Friday, November 7, 2025

Budaya Suku Rejang Sejarah Aksara Kaganga dan Tradisinya

Konten [Tampil]

Pakaian Adat Rejang Lebong. (Galeri Nusantara/2022)


Pagi menyingsing di kaki Bukit Barisan. Kabut perlahan naik dari dataran tinggi Bengkulu, seolah membawa bisikan masa lalu dari suku yang telah lama mengakar di tanah pegunungan, yakni Suku Rejang. Meskipun zaman telah bergerak ke arah modern, budaya Suku Rejang tetap menjadi identitas penting masyarakatnya, diwariskan dari generasi ke generasi.

Artikel ini akan membimbing pembaca mengenal lebih dekat Rejang dan budaya Suku Rejang secara edukatif tetapi ringan, mengalir seperti cerita yang tak lekang oleh waktu.

1. Asal Usul Rejang: Jejak Leluhur di Pedalaman Bengkulu

Suku Rejang. (Wikipedia)

Banyak cerita turun-temurun menyebut bahwa leluhur Suku Rejang berasal dari seorang tokoh bernama Rhe Jang Hyang (atau Rhe Hyang), yang dipercaya datang dari daerah utara Asia dan menetap di Napal Putih, Bengkulu Utara, sekitar dua ribu tahun sebelum masehi. Di sanalah ia membangun permukiman awal bernama Kutai Nuak, sebelum akhirnya kelompoknya berpindah ke wilayah Pinang Belapis (sekarang Kabupaten Lebong).

Walau unsur mitos masih kuat, para peneliti sepakat bahwa Rejang adalah salah satu suku tertua di Bengkulu, yang berkembang secara mandiri di kawasan pedalaman Bukit Barisan. Alam yang kaya hutan, sungai, dan perbukitan membentuk karakter masyarakat Rejang yang tangguh, bersahaja, dan sangat dekat dengan alam.

Sistem sosial mereka pun sudah teratur sejak dulu. Ada petulai (keluarga besar adat) dan kutei (pemimpin adat) yang menjaga hukum dan keseimbangan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa walau hidup jauh dari pesisir, masyarakat Rejang sudah memiliki struktur sosial yang rapi dan beradab.

2. Aksara Kaganga: Warisan Tertulis Identitas Rejang

Aksara Kaganga.(wikipedia)

Salah satu kebanggaan terbesar Suku Rejang adalah Aksara Kaganga, sistem tulisan tradisional yang menjadi bukti kecerdasan lokal mereka. Nama “Kaganga” diambil dari tiga huruf pertamanya: Ka-Ga-Nga.

Aksara ini merupakan bagian dari keluarga besar Surat Ulu di Sumatra Selatan, dan berakar dari aksara Brahmi/Palawa India kuno. Dulu, masyarakat Rejang menulis dengan aksara ini di atas bambu, tanduk, kulit kayu, atau rotan, mencatat pesan, hukum adat, doa, dan kisah rakyat.

Kini, Aksara Kaganga mulai diajarkan kembali di sekolah-sekolah Rejang Lebong sebagai muatan lokal (MULOK). Pemerintah daerah juga membuat buku panduan dan alat belajar agar generasi muda tidak melupakan jati dirinya. Meski tantangan besar datang dari arus modernisasi dan dominasi huruf Latin, semangat untuk melestarikannya terus tumbuh.

Aksara Kaganga bukan sekadar tulisan—ia adalah simbol kebanggaan dan kecerdasan budaya Rejang, bukti bahwa nenek moyang mereka pernah memiliki sistem pengetahuan sendiri jauh sebelum pendidikan modern masuk.

3. Tradisi Pernikahan Adat Rejang

Acara adat suku Rejang. (bengkulu.sahabatrakyat.com)

Upacara pernikahan dalam masyarakat Rejang sangat sakral. Setiap tahapannya penuh makna tentang tanggung jawab, kehormatan, dan penyatuan dua jiwa.Beberapa tahap penting antara lain:

  • Bekulo 
Musyawarah antara dua keluarga sebelum pernikahan. Ini menegaskan bahwa perkawinan bukan hanya urusan dua orang, tapi penyatuan dua keluarga besar.
  • Meletak Uang 
Simbol penyerahan tanggung jawab dan niat baik dari pihak laki-laki kepada keluarga perempuan.
  • Mengasen 
Ritual penyucian untuk menandai kesiapan kedua mempelai memasuki kehidupan baru.
  • Sembah Sujud 
Bentuk penghormatan dan permohonan maaf kepada orang tua serta leluhur.
  • Jemejai 
Tahap penyatuan dua mempelai secara adat, biasanya disertai jamuan besar bagi seluruh masyarakat.

Setiap prosesi mengajarkan nilai luhur, diantaranya menghargai keluarga, menjaga kehormatan, serta menyatukan dua hati dengan restu masyarakat dan leluhur. Pernikahan adat Rejang bukan sekadar pesta, melainkan ritual sosial dan spiritual yang mempererat hubungan antar-keluarga.

4. Tari Kejai: Gerak yang Sarat Akan Makna

Tari kejei. (pojokseni.com)

Salah satu warisan budaya paling indah dari Rejang adalah Tari Kejai. Dulu, tarian ini hanya dipentaskan pada acara adat besar seperti pernikahan atau syukuran. Gerakannya lembut, penuh penghormatan, dan diiringi musik tradisional yang khas.

Beberapa gerakannya memiliki makna simbolik, seperti:

  • Gerak Sembah – bentuk penghormatan kepada leluhur dan tamu;

  • Metik Jari – menggambarkan kerja sama antara laki-laki dan perempuan;

  • Mateak Dayung – simbol penyerahan diri kepada Tuhan;

  • Gerak Mendayung – tanda perpisahan yang indah di akhir pertunjukan.

Melalui tarian ini, masyarakat Rejang mengekspresikan rasa syukur dan harmoni hidup dengan alam serta sesama.

5. Tantangan dan Harapan Budaya Rejang

Seiring kemajuan zaman, penggunaan bahasa Rejang dan aksara Kaganga mulai jarang dipakai. Namun, upaya pelestarian terus dilakukan oleh pemerintah, komunitas budaya, dan generasi muda yang bangga akan warisannya.

Budaya Rejang tetap relevan hingga kini karena nilai-nilainya universal: kebersamaan, hormat kepada orang tua, dan keselarasan dengan alam. Nilai-nilai ini penting bagi generasi muda untuk menjaga identitas di tengah globalisasi.

Penutup

Budaya Rejang bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan cermin kearifan dan jati diri masyarakat Bengkulu. Saat seorang siswa menulis huruf “Ka” dari Aksara Kaganga, sesungguhnya ia sedang menghidupkan kembali sejarah panjang suku yang penuh makna.

Mari kita kenali dan lestarikan budaya lokal kita—karena dari sanalah akar kebanggaan sebagai bangsa tumbuh kuat dan tidak mudah goyah oleh waktu.


Daftar Referensi

Agus, I. (2013). Aksara Ka-Ga-Nga: Identitas dan Tradisi Literasi Masyarakat Bengkulu. Jurnal Humaniora, Universitas Indonesia.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (1996). Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Rejang Lebong. (2019). Modul Muatan Lokal Aksara Kaganga. Curup: Disdikbud Rejang Lebong.

Fitriani, D. & Yuliani, E. (2021). Pelestarian Aksara Kaganga sebagai Identitas Budaya Rejang Lebong. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Daerah, Vol. 5 No. 2.

Hidayat, R. (2017). Sistem Sosial dan Struktur Adat Masyarakat Rejang di Bengkulu. Jurnal Antropologi Indonesia, Universitas Indonesia.

Nasution, S. (2020). Kehidupan Sosial dan Tradisi Pernikahan Suku Rejang di Bengkulu. Jurnal Kebudayaan Nusantara, Vol. 4 No. 1.

Pemerintah Provinsi Bengkulu. (2022). Warisan Budaya Takbenda Indonesia: Aksara Kaganga dan Tari Kejai. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI.

Suharto, A. & Mansyur, S. (2015). Naskah dan Aksara Tradisional Sumatera Bagian Selatan. Jakarta: Balai Litbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI.

Tempo.co. (2023, 12 Juni). “Mengenal Suku Rejang, Suku Tertua di Bengkulu dengan Aksara Kaganga yang Unik.” 

Wikipedia Bahasa Indonesia. (2024). “Suku Rejang.” Wikipedia.org.