Showing posts with label lifestyle. Show all posts
Showing posts with label lifestyle. Show all posts

Monday, February 2, 2026

Review Film Miracle in Cell No. 7: Cinta Ayah dan Anak Tak Terpenjara

Konten [Tampil]

Sumber foto: idmb.com


Identitas Film

Judul: Miracle in Cell No. 7
Sutradara: Lee Hwan-kyung
Tahun rilis: 2013
Negara: Korea Selatan
Genre: Drama, Keluarga
Durasi: ±127 menit

Review Film

Miracle in Cell No. 7 (2013) adalah film yang tidak datang dengan janji akhir bahagia. Ia hadir seperti surat yang ditulis dengan tangan gemetar—sederhana, jujur, dan pelan-pelan menyentuh bagian hati yang paling rapuh. Disutradarai oleh Lee Hwan-kyung, film ini mengisahkan Lee Yong-gu, seorang ayah dengan keterbatasan intelektual, dan Ye-seung, putri kecilnya yang tumbuh di dalam cinta yang polos dan tanpa syarat.

Di awal cerita, hidup mereka digambarkan seperti pagi yang selalu sama: rutinitas kecil, tawa sederhana, dan dunia yang cukup selama mereka saling punya. Yong-gu bukan ayah yang pandai menjelaskan dunia, tapi ia tahu satu hal penting—bagaimana mencintai anaknya sepenuh hati. Namun, hidup seperti pintu besi yang ditutup terlalu keras, tiba-tiba mengubah segalanya. Sebuah tragedi membuat Yong-gu salah tuduh dan dijatuhi hukuman mati. Dari titik ini, film tidak berusaha menjadi heroik. Ia justru memilih sunyi sebagai bahasa utama.

Penjara dalam film ini bukan sekadar ruang fisik, melainkan simbol bagaimana sistem bisa mencabut rasa kemanusiaan seseorang hanya dengan satu label. Namun, keajaiban kecil muncul dari tempat yang tidak terduga: para narapidana lain. Di antara dinding kusam dan jeruji dingin, mereka menjadi saksi bahwa empati masih bisa tumbuh, bahkan di tanah yang paling gersang. Mereka membantu Yong-gu agar Ye-seung tetap bisa bertemu ayahnya, seolah ingin berkata bahwa hukum mungkin kaku, tapi hati manusia tidak selalu ikut membeku.

Adegan perpisahan terakhir menjadi inti emosi film ini. Tidak ada musik yang memaksa tangis. Tidak ada dialog berlebihan. Hanya seorang anak kecil yang mengucapkan terima kasih karena sudah memiliki ayah, dan seorang ayah yang bersyukur pernah menjadi rumah bagi anaknya. Mereka berjalan berdampingan di lorong penjara, tangan kecil menggenggam tangan besar, seperti dua musafir yang tahu perjalanan ini akan segera berakhir. Momen itu terasa seperti lilin yang menyala di tengah badai—kecil, rapuh, tapi cukup untuk menerangi satu langkah terakhir.

Film ini seakan berbisik bahwa hidup tidak selalu memberi keadilan, dan doa tidak selalu berujung keajaiban. Namun, di antara vonis, hukuman, dan kehilangan, masih ada ruang untuk memeluk sebentar, mengucap terima kasih, dan mengakui cinta. Miracle in Cell No. 7 mengingatkan kita bahwa yang paling bertahan bukanlah sistem atau kekuasaan, melainkan hubungan antara orang tua dan anak—cinta yang tidak bisa dipenjara, bahkan ketika waktu dan nyawa harus dibayar mahal.



Menonton Miracle in Cell No. 7 membuatku menatap ulang makna cinta dan perpisahan, mengingatkan kembali lorong-lorong sunyi dalam hidup yang pernah aku lalui. Adegan terakhir, tangan kecil menggenggam tangan ayah, seolah membawa aku kembali ke bangsal rumah sakit—keheningan, napas yang menipis, dan doa yang lirih.

Semua itu aku tuangkan dalam tulisan untuk event Between Nostalgia Pages hari ke-6 berjudul Lorong Terakhir Bernama Ikhlas.
Kamu bisa menyimaknya lebih lengkap di Instagram atau Facebook melalui tautan ini:


Thursday, January 29, 2026

The Pursuit of Happyness: Belajar Bertahan Saat Hidup Terasa Berat

Konten [Tampil]

sumber foto: idmb.com
Review The Pursuit of Happyness (2006), film kisah nyata Chris Gardner tentang perjuangan, ayah tunggal, dan belajar bertahan saat hidup tidak mudah.

Ada film yang tidak datang membawa jawaban cepat atau kata-kata penyemangat yang lantang. Ia justru memilih menemani kita lebih lama di ruang lelah yang sering tak terucap. The Pursuit of Happyness adalah film seperti itu.

Aku kembali menontonnya—kali ini bersama suami lewat nobar online—dan perasaan yang muncul masih sama: tenang, tapi menghunjam. Film ini tidak mendesak kita untuk segera bangkit, tidak menyuruh kita berpura-pura kuat. Ia berjalan perlahan, setia, seperti seseorang yang duduk di sampingmu tanpa banyak bicara, hanya memastikan kamu tidak sendirian. Seolah berkata, lelah boleh, menyerah jangan.

Film ini tidak menjual mimpi tentang hidup yang mudah. Ia hanya mengingatkan satu hal sederhana: selama kita terus melangkah, harapan tak pernah benar-benar hilang.

Identitas Film

Judul: The Pursuit of Happyness
Tahun: 2006
Genre: Drama, Biografi
Durasi: 117 menit
Sutradara: Gabriele Muccino
Pemeran: Will Smith (Chris Gardner), Jaden Smith (Christopher Gardner Jr.)
Berdasarkan kisah nyata: Chris Gardner

Chris Gardner digambarkan berada di fase hidup paling rapuh. Pekerjaan yang tak menentu, tekanan finansial yang mencekik, kehilangan tempat tinggal, dan tanggung jawab sebagai orang tua tunggal datang bersamaan—tanpa jeda, tanpa belas kasihan.

Namun yang membuat cerita ini begitu kuat bukanlah daftar kesulitannya, melainkan pilihannya untuk tetap hadir bagi sang anak. Di tengah hidup yang nyaris runtuh, Chris tetap berusaha menjadi tempat paling aman bagi putranya.

Will Smith memerankan Chris dengan kejujuran yang terasa. Tidak dramatis berlebihan, tidak dibuat heroik. Justru lewat keheningan, tatapan kosong, dan jeda panjang, kita diajak masuk ke dalam kelelahan yang nyata. Tidak ada orasi motivasi, hanya keteguhan seseorang yang terus berdiri meski lututnya gemetar.

Sementara Jaden Smith hadir sebagai Christopher kecil yang sederhana, namun penuh makna. Ia menjadi alasan mengapa seseorang tetap bertahan—karena cinta. Karena ada yang harus dijaga, meski langkah terasa berat dan jalan terasa panjang.

idmb.com
Film ini menyentil kenyataan yang sering ingin kita sangkal: proses hidup tidak selalu adil. Usaha keras tidak selalu dibalas cepat. Kadang yang kita miliki hanyalah hari demi hari yang harus dilalui, tanpa jaminan apa pun di ujungnya.

Dan justru di sanalah makna happyness itu bersembunyi. Bukan hanya pada hasil, melainkan pada keberanian untuk terus melangkah, bahkan ketika arah terasa kabur.

Ejaan happyness yang tidak biasa pun terasa simbolis. Seolah ingin mengatakan bahwa kebahagiaan tidak selalu rapi dan sempurna. Ia bisa datang lewat jalan yang salah, tertunda, bahkan terasa menyakitkan di awal. Tapi tetap pantas diperjuangkan.

Menonton film ini saat hidup sedang berat membuatku mengingat satu hal penting: lelah bukan dosa, berhenti yang berbahaya. Tidak semua orang mendapat jalan lurus. Sebagian dari kita memang harus melewati lorong sempit, gelap, dan sunyi—sebelum akhirnya sampai.

The Pursuit of Happyness bukan sekadar film inspiratif. Ia adalah cermin. Tentang hidup, peran sebagai manusia, tanggung jawab, dan harapan yang dijaga pelan-pelan dengan kesabaran.

Mungkin itulah alasan film ini tak pernah usang. Ia selalu menemukan jalannya kembali ke hati kita—terutama saat kita sedang berjuang.

Kalau kamu, bagaimana?
Apakah film ini juga pernah menemanimu di masa-masa berat?



Sunday, January 25, 2026

Mengapa Aku Memilih Belajar Menulis di Indscript Creative?

Konten [Tampil]

Ilustrasi seorang sedang aktif menulis. (Canva.com)

Keinginan menulis sering kali datang lebih dulu daripada keberanian dan arah. Aku mengalaminya sendiri. Ada hasrat untuk menuangkan isi kepala dan hati, tetapi tak selalu tahu harus memulai dari mana, apalagi bagaimana mengembangkannya agar tidak berhenti sebagai hobi semata.

Di tengah derasnya arus digital dan kemudahan teknologi—termasuk kehadiran AI—menulis menjadi semakin dekat sekaligus menantang. AI memang membantu dalam proses brainstorming, tetapi jika digunakan sebagai jalan pintas, ia justru menjauhkan penulis dari proses berpikir, merasakan, dan bertumbuh. Tak heran jika banyak lomba menulis, bahkan skala nasional seperti Gerakan Literasi Nasional (GLN), menegaskan larangan penggunaan AI demi menjaga orisinalitas karya.

Di titik itulah aku merasa, belajar menulis tidak cukup hanya soal bisa merangkai kata. Menulis perlu arah, proses, dan ekosistem. Dan alasan itulah yang membuatku memilih belajar menulis di Indscript Creative.

Menulis di Era Digital: Peluang Sekaligus Tantangan

Hari ini, siapa pun bisa menulis. Platform terbuka luas, kesempatan berkarya nyaris tanpa batas. Namun justru karena itulah, tantangannya semakin besar. Bagaimana agar tulisan tidak sekadar ada, tetapi juga bermakna? Bagaimana agar penulis tidak kehilangan suara aslinya di tengah tren instan?

Aku belajar bahwa tulisan yang hidup selalu lahir dari proses. Ada pengalaman, kegelisahan, latihan, dan keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Semua itu tidak bisa digantikan oleh mesin.

Indscript Creative, Lebih dari Sekadar Kelas Menulis

Indscript Creative awalnya dikenal sebagai komunitas ibu-ibu yang ingin tetap produktif berkarya dari rumah. Namun, seiring waktu, komunitas ini tumbuh menjadi ekosistem kepenulisan yang menaungi ribuan penulis dari berbagai latar belakang.

Di bawah arah dan keteladanan Teh Indari Mastuti, Indscript Creative telah melangkah selama 18 tahun, konsisten bergerak di bidang kepenulisan, pengembangan diri, hingga literasi berbasis nilai. Di sini, menulis tidak hanya diajarkan sebagai keterampilan teknis, tetapi sebagai jalan bertumbuh—secara mental, emosional, dan profesional.

Pengalamanku bergabung sejak 2023 menjadi titik balik yang penting. Berawal dari rasa penasaran melihat iklan kelas menulis Indscript Creative di media sosial, aku memilih kelas menulis kisah dan blogger-artikel. Latihan menulis rutin, Senin hingga Jumat, perlahan membentuk kebiasaan baru. Pikiran terasa lebih tenang, hari-hari terasa lebih bermakna, dan ada rasa “kurang” ketika tidak menulis.

Meskipun kelas kisah kini telah ditutup, kebiasaan dan mindset menulis pastinya akan terus melekat. Dengan aku terus rutin menulis di Medium seperti tulisan pada kelas kisah dan mengirimkan artikel di infoindscript.com, termasuk blog pribadiku.

Launching Enam Kelas Baru Indscript Creative 2026

Memasuki Januari 2026, Indscript Creative berkolaborasi dengan Joeragan Artikel dan resmi meluncurkan enam kelas baru. Kelas-kelas ini tidak hanya kaya akan ilmu, melainkan juga dirancang dengan prospek nyata bagi penulis yang ingin naik level dan menghasilkan cuan.

  1. Training of Trainer (TOT)
    Dibuka 21 Februari 2026, cocok bagi yang ingin menjadi trainer atau terbiasa berbicara di depan publik. Diampu langsung oleh Teh Indari dan tim.

  2. MaViCo (Mahir Bikin Video & Copywriting)
    Dimulai 7 Februari 2026. Kelas ini membekali peserta dengan skill membuat video estetik, copywriting, hingga live selling.

  3. Bundling Kelas Artikel
    Mencakup artikel dasar, review, dan personal branding, lengkap dengan bonus insight domain terjangkau.

  4. Fiksi Mini (Flash Fiction)
    Dibuka 13 April 2026. Fokus pada cerita pendek dengan plot twist, disertai pendampingan intensif.

  5. Artikel Traveling
    Dilaksanakan 11 April 2026, dipandu mentor penulis bestseller yang karyanya diterbitkan Gramedia dan penerbit besar lainnya.

  6. Membangun Jejak Lewat Blog
    Dimulai 9 Mei 2026. Peserta belajar membangun blog bernilai cuan dan membuka peluang job klien.

Indscript Creative dan Arah Kepemimpinan 2026


Tahun 2026 juga menjadi fase terpenting dengan hadirnya jajaran pimpinan baru Indscript.
Indari Mastuti sebagai Komisaris menjaga visi besar organisasi. Sari Agustia (CEO) mengawal arah strategis, didukung Lita Widi Onett (CMO) di bidang pemasaran dan Renita Oktavia (COO) pada operasional.

Fokus gerak Indscript 2026 meliputi:

  • Penguatan sistem pendukung penulis

  • Perluasan jaringan kolaborasi

  • Pengembangan produk dan layanan yang relevan, termasuk penulisan biografi dan black card books

Semua diarahkan agar penulis tidak hanya produktif, tetapi juga mandiri dan berdaya.

Apa yang Aku Pelajari dari Indscript Creative

Belajar menulis di Indscript Creative mengajarkanku bahwa:

  • menulis butuh latihan yang konsisten,

  • keberanian harus disertai ilmu yang nyata,

  • dan komunitas yang sehat mampu menjaga semangat agar tidak padam.

Di sini, menulis tidak sekadar untuk dilihat atau dipuji, melainkan untuk menebar manfaat dan keberkahan bagi banyak orang.

Penutup

Menulis bukan hanya soal menuangkan kata, melainkan mengolah makna. Ia membutuhkan proses, arah, dan lingkungan yang mendukung. Indscript Creative menjadi tempat yang tepat bagi siapa saja yang ingin belajar menulis dengan kesadaran, bertumbuh bersama komunitas, dan membuka peluang dari karya.

Itulah mengapa aku memilih belajar menulis di Indscript Creative—karena di sini, menulis bukan sekadar bisa, tetapi bermakna dan bertumbuh.




Thursday, January 8, 2026

Pelajaran Sunyi dari Jumbo (2025): Menjadi Rumah yang Mendengar Anak

Konten [Tampil]



Sumber foto: IMDb.com

Review Jumbo (2025): Film animasi keluarga yang pelan tapi menyentuh hati. Pelajaran parenting, hubungan anak-orang tua, dan belajar menjadi rumah yang aman bagi anak.

Film Jumbo (2025) selesai lebih cepat daripada perenunganku.

Anak-anak masih tertawa, berpindah tempat, berebut cemilan. Televisi sudah berganti tampilan. Tapi ada satu adegan dari film keluarga ini yang tidak ikut mati bersama layar—ia tinggal, diam-diam, di dadaku.

Aku tidak langsung menulis apa-apa hari itu.
Tidak membuka catatan.
Tidak membuat poin.

Aku hanya duduk dan memperhatikan:
bagaimana anak-anak mengekspresikan perasaan mereka, dan bagaimana orang dewasa—termasuk aku—sering terburu-buru menafsirkan.




Ketika Anak Datang dengan Rasa, Bukan Kalimat 

Ada satu momen dalam film ini ketika Jumbo tidak menangis. Tidak berteriak. Tidak meminta.
Ia hanya diam.

Dan justru di situlah aku tercekat.

Karena aku mengenali diam itu.
Diam yang bukan berarti baik-baik saja, tapi kelelahan karena tidak tahu bagaimana menjelaskan isi hati.

Berapa kali anak datang kepadaku membawa perasaan, sementara aku menyambutnya dengan solusi?
Bukan karena tak peduli, tapi karena ingin cepat menolong.

Film animasi keluarga ini tidak menegur. Ia hanya menunjukkan.
Dan dari sana aku belajar: mungkin yang dibutuhkan anak bukan jawaban, tapi kehadiran.

Aku, Ibu yang Pernah Menjadi Anak 

Menonton Jumbo (2025) tidak hanya mengingatkanku pada anak-anakku, tetapi juga pada diriku yang dulu.

Anak yang ingin dimengerti, tapi takut dianggap berlebihan.
Anak yang belajar menahan rasa karena dunia terlalu sibuk untuk mendengar.

Ternyata, menjadi orang tua tidak otomatis menyembuhkan luka masa kecil.
Ia justru membuka kembali ruang-ruang lama—dan memberi kesempatan untuk tidak mengulangnya.

Rumah yang Tidak Selalu Sempurna 

Film ini mengajarkanku satu hal penting: rumah tidak harus sunyi dari konflik, tapi aman untuk perasaan.

Menjadi rumah bukan berarti selalu benar,
melainkan bersedia tinggal—bahkan ketika suasana tidak nyaman.

Aku teringat sosok nenek dalam film itu.
Tidak banyak bicara. Tidak sibuk membenahi.
Ia hanya ada. Dan keberadaannya cukup.

Mungkin, begitulah bentuk cinta yang paling tenang.

Catatan untuk Diriku Sendiri 

Sejak menonton film Jumbo 2025, aku menulis satu pengingat kecil di kepalaku: Jika anak datang dengan diam, jangan buru-buru memecahnya.

Duduklah. Tunggu. Biarkan ia tahu: aku tidak pergi.

Aku tidak selalu berhasil.
Tapi aku ingin belajar.

Penutup 

Jumbo bukan film yang membuatku terharu seketika.
Ia bekerja pelan. Menyusup. Menetap.

Dan barangkali, itulah jenis cerita yang paling jujur—
yang tidak meminta kita menjadi orang tua sempurna,
hanya manusia yang mau hadir, dan pulang lebih utuh.

Sunday, December 28, 2025

Surat untuk Diriku Setelah Setahun Menulis

Konten [Tampil]

 

Dibuat AI, dreamina.capcut.com

Hai, diriku yang dulu,

Aku menuliskan surat ini bukan untuk menegurmu, melainkan untuk memelukmu. Aku tahu, setahun lalu kau menulis dengan hati yang sering bergetar—antara ingin didengar dan takut tak cukup baik. Kau menulis sambil bertanya-tanya: apakah kata-katamu akan sampai, atau justru tenggelam tanpa sempat disapa siapa pun.

Hari ini, aku ingin memberitahukanmu satu hal penting: caraku menulis telah berubah.

Dulu, aku menulis untuk segera selesai. Untuk merasa layak. Untuk memastikan bahwa apa yang kutulis cukup “pantas” dibaca orang lain. Kini, aku menulis untuk mengendapkan. Aku memberi jarak antara rasa dan kata, agar yang lahir bukan sekadar luapan, melainkan pemahaman.

Aku tak lagi terburu-buru mengejar hasil. Aku belajar menghormati proses. Jika dulu satu tulisan terasa gagal hanya karena tak ramai, kini aku tahu: tidak semua yang sunyi kehilangan makna. Ada tulisan yang memang ditakdirkan menjadi teman diam—cukup hadir untuk satu hati, termasuk hatiku sendiri.

Caraku mendengar pun berubah. Aku lebih sering mendengarkan diriku sendiri sebelum memikirkan suara di luar. Aku belajar menulis tanpa menghakimi perasaan yang datang. Sedih, lelah, cemburu, rindu—semuanya kini boleh duduk di meja yang sama, tanpa harus disunting agar tampak rapi.

Aku juga belajar melepaskan. Melepaskan perfeksionisme yang sering menyamar sebagai standar tinggi. Melepaskan kebiasaan membandingkan langkahku dengan langkah penulis lain. Melepaskan keinginan untuk selalu terlihat kuat. Ternyata, dari melepaskan itulah tulisanku justru bernapas lebih panjang.

Jika ada satu hal yang paling berubah, itu adalah niatku. Menulis tak lagi kuposisikan sebagai panggung, melainkan sebagai ruang pulang. Tempat aku boleh jujur, bahkan ketika kejujuran itu tak selalu indah. Tempat aku boleh berhenti sejenak, lalu kembali, tanpa merasa bersalah.

Untukmu, diriku yang setahun lalu: terima kasih karena tidak menyerah. Karena tetap menulis meski ragu, meski sunyi, meski tak selalu yakin pada arah. Hari ini aku menulis dengan langkah yang lebih pelan, tapi hati yang lebih lapang.

Teruslah menulis, bukan untuk menjadi siapa-siapa, melainkan untuk tetap menjadi dirimu sendiri.

Di tahun 2026 nanti, aku berharap bisa menulis dengan hati yang lebih tenang. Tidak tergesa mengejar bentuk, tidak gelisah menunggu gema. Aku ingin menulis dengan kejujuran yang terjaga—cukup jujur untuk diriku sendiri, cukup lapang untuk orang lain yang mungkin singgah dan menemukan sepotong dirinya di sana.

Dengan penuh kesadaran,
Aku, yang masih belajar menulis—dan kembali ke diri sendiri.

Tuesday, December 9, 2025

Mengejar Restu: Ketika Cinta, Keyakinan, dan Luka Keluarga Bertemu di Titik yang Sama

Konten [Tampil]

Poster resmi film “Mengejar Restu”. (Sumber: Sisterlillah)

“Ulasan Film Mengejar Restu (2025) Garapan Puadin Redi: Sebuah drama keluarga Indonesia yang tidak hanya berbicara tentang restu, tetapi juga tentang cinta, keyakinan, dan luka lama yang perlahan disembuhkan. Kisah yang menyentuh bagi siapa pun yang sedang belajar memahami hubungan, diri sendiri, dan perjalanan hidup.”

Ada banyak film yang mencoba mengangkat konflik antara cinta dan restu orang tua, tetapi tidak semuanya terasa dekat. Mengejar Restu justru menghadirkan keintiman emosional yang pelan, jujur, dan menyentuh bagian diri yang sering kita hindari untuk dibicarakan. 

Saat menontonnya, aku merasa seolah sedang membuka kembali ruangan-ruangan kecil dalam hati—ruangan yang berisi cinta yang ingin diperjuangkan, ketakutan yang tak sempat kita ucapkan, dan proses panjang memahami keluarga apa adanya.

Kemarin, Sabtu, 06 Desember 2025, aku berkesempatan ikut Nonton Bareng Mengejar Restu bersama komunitas Sisterlillah—sebuah pengalaman hangat yang meninggalkan banyak renungan. Suasananya penuh keakraban; para perempuan yang hadir bukan hanya datang untuk menonton, tetapi juga untuk memahami kisah keluarga dari sudut yang lebih jujur. 

Mungkin karena itulah film ini begitu ramai dibicarakan—bukan semata karena ceritanya menyentuh, tetapi karena setiap orang seperti membawa pulang kenangannya sendiri setelah lampu bioskop kembali menyala. Menonton bersama komunitas justru membuat pesan film ini terasa lebih dekat, lebih personal, dan entah bagaimana… lebih mengena.

Identitas Film

Judul: Mengejar Restu (2025)
Sutradara: Puadin Redi
Penulis Naskah: Titien Wattimena
Genre: Drama
Durasi: 107 menit
Rating-ku: ⭐️ 9/10

Ketika Restu Menjadi Ujian yang Tidak Terduga

Sejak menit awal, film ini sudah memberi nuansa lembut namun menekan. Tidak ada konflik yang meledak-ledak, tetapi ada ketegangan halus yang terus terasa. Di situ aku mulai berpikir: 

 “Betapa banyak cinta yang retak bukan karena kurangnya rasa, tetapi karena sejarah panjang keluarga yang belum tuntas.” 

Tokoh utama dalam film, Dania, digambarkan sebagai perempuan yang memikul banyak peran sekaligus. Ia bukan hanya seorang istri atau ibu—tetapi penjaga keseimbangan di antara ekspektasi, cinta, dan keyakinan. Dan di titik itulah aku merasa film ini berbicara langsung pada para perempuan yang pernah merasa berdiri di tengah badai, tapi tetap berusaha lembut. 

Sisi Manusiawi yang Jarang Diceritakan Film Keluarga

Yang membuat film ini berbeda adalah keberaniannya untuk jujur. Bukan jujur dalam bentuk kata-kata, tapi dalam keheningan, tatapan, dan cara para tokoh menahan diri. Restu dalam film ini tidak ditampilkan sebagai “izin” semata. Ia hadir sebagai perjalanan panjang yang berkaitan dengan nilai keluarga, pengalaman masa lalu, dan luka lama yang tidak semua orang siap membuka kembali. Dan seperti kehidupan nyata, restu bukan sekadar diberikan—ia disembuhkan. 



Pelajaran yang Kubawa Pulang 

Tanpa membocorkan alurnya, film ini membuatku merenung lebih panjang daripada yang kukira. Beberapa hal yang paling terasa adalah: Cinta yang dewasa selalu bekerja sama dengan tanggung jawab. Restu tidak datang tergesa-gesa, tetapi dari proses saling memahami. Perempuan sering menjadi pusat keteguhan keluarga, meski ia juga manusia yang kadang rapuh. Terkadang, Allah menunda sesuatu bukan untuk menyulitkan, tapi untuk mematangkan. Film ini mungkin tidak penuh konflik besar, tapi ia kaya akan pesan yang pelan-pelan masuk ke hati. 

Siapa yang Akan Menyukai Film Ini? 

Jika kamu suka film tentang keluarga, nilai, dan perjalanan batin, film ini akan sangat cocok. Jika kamu sedang berada dalam fase menjalani hubungan yang diuji restu, kamu mungkin akan merasa ini bukan sekadar film, melainkan teman bercerita. Dan jika kamu seorang perempuan yang sedang belajar memaafkan masa lalu, ini bisa menjadi cermin yang lembut. 

Penutup

Setelah menonton Mengejar Restu, aku menyadari bahwa perjalanan mendapatkan restu bukan hanya tentang memperoleh izin. Ia adalah tentang menjadi versi paling bijak dari diri sendiri—tanpa kehilangan cinta, keyakinan, atau arah hidup yang ingin kita pilih. Pada akhirnya, mungkin bukan restu dari manusia yang paling berat untuk dikejar, tetapi restu untuk berdamai dengan hati kita sendiri.



Saturday, November 29, 2025

Kuliner Wajib Dicoba Saat Berkunjung ke Kota Curup

Konten [Tampil]




www.indonesia-tourism.com

Kalau kamu belum pernah mendengar tentang Kota Curup, kamu tidak sendirian. Kota kecil di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, ini sering luput dari peta wisata, padahal menyimpan sejuta rasa dan cerita. Udara Curup sangat sejuk, alamnya tenang, dan yang paling kuingat sejak kecil adalah aroma makanan tradisional yang seakan menempel di udara setiap sudut kotanya.

Sebagai seseorang yang lahir dan besar di Curup, aku selalu merasa kota ini punya pesona unik—bukan hanya dari pegunungan dan sayur-mayurnya yang segar, tetapi juga dari kuliner khas Curup yang membuat siapa pun ingin kembali lagi.
Di blog ini, izinkan aku mengajakmu mencicipi satu per satu kuliner yang wajib kamu coba jika berkunjung ke Curup.

1. Gunjing: Kudapan Pagi yang Legendaris

Setiap pagi, aroma gunjing adalah tanda hari baru dimulai.
Kue tradisional ini dibuat dari tepung beras dan kelapa parut, dimasak dalam loyang kecil—mirip bandros khas Bogor.

Ada dua varian:

  • Original, gurih dan lembut.

  • Gula merah, manis dan harum.

Sederhana sekali, tetapi rasanya selalu berhasil menghangatkan suasana pagi di Curup. Kalau aku pulang kampung, gunjing biasanya jadi makanan pertama yang kucari.

2. Pempek Panggang Lapangan Setia Negara: Ikon Nongkrong Anak Muda

Siang atau sore, Lapangan Setia Negara selalu hidup.
Anak-anak muda biasa nongkrong sambil menikmati pempek panggang khas Curup yang dibakar perlahan di atas bara.

Bukan memakai cuko.
Pempek ini dibelah di tengah, diisi:

  • ebi halus,

  • sambal cabai merah kriting,

  • dan kecap.

Aromanya pedas–manis–asin sekaligus, dan percayalah… itu adalah aroma rindu. Aroma yang membuatku selalu ingin pulang.

3. Mie Pangsit Curup: Sarapan Andalan Warga

Belum sah ke Curup kalau belum makan mie pangsit Curup.
Mienya lembut, kuahnya ringan tapi berbumbu, dan pangsitnya punya karakter rasa khas yang hanya bisa ditemukan di kota ini.

Ini adalah menu sarapan yang tak pernah gagal mengingatkanku saat sarapan pagi bersama kelurga.

4. Kerupuk Kemplang (Kerupuk Bakar)

Oleh-oleh wajib dari Curup!
Kemplang dibakar hingga mengembang, menghasilkan aroma smokey yang khas. Gurihnya pas dan cocok dimakan kapan saja—entah sebagai camilan atau teman lauk.

Hasil tangkapan layar searching google.com

5. Lemea: Cita Rasa Asli Suku Rejang

Yang satu ini adalah identitas kuliner masyarakat Rejang.
Lemea dibuat dari ikan yang difermentasi dengan batang tebu muda parut.

Rasanya:

  • gurih,

  • sedikit asam,

  • dengan aroma fermentasi yang khas.

Meskipun aku bukan asli suku Rejang, lemea tetap menjadi hidangan wajib setiap kali pulang kampung. Bagiku, lemea bukan sekadar makanan—ia adalah simbol rumah, budaya, dan ingatan masa kecil yang tidak tergantikan.

6. Mie Celor & Miso Mang Midi: Dua Legenda yang Tak Pernah Hilang

Curup juga kebagian sentuhan khas Palembang dan Sumatra Selatan.

  • Mie Celor: Kuah santannya creamy, kaya udang, dan sangat cocok dinikmati saat udara Curup yang sejuk.

  • Miso Mang Midi: Ini legenda! Kuahnya bening gurih, topping-nya lengkap, dan rasanya konsisten sejak puluhan tahun lalu.

Kalau tanya warga Curup, hampir semua pasti punya memori dengan Miso Mang Midi.

7. Lemang Tapai: Manis, Hangat, Mengenyangkan

Perpaduan lemang yang dibakar dalam bambu dan tapai manis adalah hidangan favorit saat sore. Teksturnya lembut, manisnya pas, dan sangat cocok dinikmati sambil duduk santai melihat kabut turun.

8. Sate Padang

Sate Padang di Curup juga terkenal nikmat. Kuahnya kental, pedas, dan wangi rempah. Biasanya dijadikan pilihan cemilan malam bukan hanya porsinya mengenyangkan tetapi rasanya juga bikin nagih.

9. Sambal Tempoyak: Primadona Musim Durian

Di Curup, musim durian adalah musim penuh kebahagiaan.
Tempoyak—fermentasi durian yang dimasak dengan cabai—adalah bintangnya.

Rasanya:

  • pedas,

  • asam,

  • creamy,

  • dan unik.

Paling enak disantap bersama ikan bakar. Ini adalah menu khas yang hanya muncul di momen tertentu, sehingga terasa sangat spesial.

10. Kopi Khas Curup: Penutup Perjalanan Kuliner

Jangan lupa mencicipi kopi Curup—kopi dari dataran tinggi Rejang yang aromanya kuat tapi lembut di lidah. Cocok jadi teman bersantai sambil menikmati udara pegunungan yang dingin dan tenang.

Penutup

Curup bukan hanya kota kelahiranku; ia adalah rumah bagi rasa-rasa yang membentuk kenangan masa kecil dan kedewasaanku. Setiap makanan di kota ini punya cerita, punya jiwa, dan membawa kehangatan tersendiri.

Bagaimana kuliner khas dari kota kelahiranmu


Wednesday, November 12, 2025

Ayah: Cinta yang Bekerja dalam Diam

Konten [Tampil]

Ilustrasi ayah dan anak perempuannya. (freepik.com)

Ayah mungkin tak pandai mengungkapkan cinta dengan kata, tapi setiap lelah dan doanya adalah bukti kasih yang bekerja dalam diam. Sebuah refleksi hangat tentang cinta, tanggung jawab, dan ketulusan seorang ayah yang sering terabaikan tetapi selalu dirasakan.

Ayah sering kali terlihat sederhana—tak banyak bicara, tak pandai mengekspresikan kasih sayang seperti ibu. Namun di balik diamnya, tersimpan lautan makna yang jarang disadari. Ia adalah sosok yang bangun paling pagi dan pulang paling malam, bukan karena ingin jauh, tetapi karena cinta yang ia tunjukkan berbentuk tanggung jawab.


Dalam setiap langkahnya, ada perjuangan yang tak selalu diceritakan. Ia menahan lelah, menutupi cemas, dan tetap tersenyum agar keluarga merasa tenang. Ayah jarang berkata “aku sayang kamu”, tetapi cara ia memperbaiki atap bocor, memperbaiki mainan yang rusak, atau memastikan dapur tetap berasap—itulah bentuk cintanya yang paling nyata.

Kita mungkin tumbuh tanpa banyak pelukan darinya, tetapi perlindungannya terasa setiap kali kita jatuh dan belajar bangkit. Ia mengajarkan kita arti tangguh, bukan dengan kata-kata, melainkan dengan keteladanan. Dari ayah, kita belajar bahwa cinta tidak selalu lembut—kadang ia hadir dalam teguran, keheningan, atau bahkan ketegasan yang membuat kita mengerti arti hidup.

Seiring waktu, kita mulai memahami bahwa di balik wajahnya yang tampak keras, tersimpan hati yang lembut dan doa yang tak pernah putus. Ayah tak menuntut balasan, cukup melihat keluarganya bahagia sudah menjadi kebahagiaan baginya.

Kini, setiap kali rindu, kita sadar—betapa besar pengorbanan yang ia lakukan dalam diam. Ayah adalah cinta yang tak selalu diucapkan, tetapi selalu dirasakan. Ia adalah pahlawan tanpa jubah, yang mencintai tanpa pamrih, bekerja tanpa banyak kata, dan berdoa tanpa pernah berhenti.

Friday, November 7, 2025

Budaya Suku Rejang Sejarah Aksara Kaganga dan Tradisinya

Konten [Tampil]

Pakaian Adat Rejang Lebong. (Galeri Nusantara/2022)


Pagi menyingsing di kaki Bukit Barisan. Kabut perlahan naik dari dataran tinggi Bengkulu, seolah membawa bisikan masa lalu dari suku yang telah lama mengakar di tanah pegunungan, yakni Suku Rejang. Meskipun zaman telah bergerak ke arah modern, budaya Suku Rejang tetap menjadi identitas penting masyarakatnya, diwariskan dari generasi ke generasi.

Artikel ini akan membimbing pembaca mengenal lebih dekat Rejang dan budaya Suku Rejang secara edukatif tetapi ringan, mengalir seperti cerita yang tak lekang oleh waktu.

1. Asal Usul Rejang: Jejak Leluhur di Pedalaman Bengkulu

Suku Rejang. (Wikipedia)

Banyak cerita turun-temurun menyebut bahwa leluhur Suku Rejang berasal dari seorang tokoh bernama Rhe Jang Hyang (atau Rhe Hyang), yang dipercaya datang dari daerah utara Asia dan menetap di Napal Putih, Bengkulu Utara, sekitar dua ribu tahun sebelum masehi. Di sanalah ia membangun permukiman awal bernama Kutai Nuak, sebelum akhirnya kelompoknya berpindah ke wilayah Pinang Belapis (sekarang Kabupaten Lebong).

Walau unsur mitos masih kuat, para peneliti sepakat bahwa Rejang adalah salah satu suku tertua di Bengkulu, yang berkembang secara mandiri di kawasan pedalaman Bukit Barisan. Alam yang kaya hutan, sungai, dan perbukitan membentuk karakter masyarakat Rejang yang tangguh, bersahaja, dan sangat dekat dengan alam.

Sistem sosial mereka pun sudah teratur sejak dulu. Ada petulai (keluarga besar adat) dan kutei (pemimpin adat) yang menjaga hukum dan keseimbangan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa walau hidup jauh dari pesisir, masyarakat Rejang sudah memiliki struktur sosial yang rapi dan beradab.

2. Aksara Kaganga: Warisan Tertulis Identitas Rejang

Aksara Kaganga.(wikipedia)

Salah satu kebanggaan terbesar Suku Rejang adalah Aksara Kaganga, sistem tulisan tradisional yang menjadi bukti kecerdasan lokal mereka. Nama “Kaganga” diambil dari tiga huruf pertamanya: Ka-Ga-Nga.

Aksara ini merupakan bagian dari keluarga besar Surat Ulu di Sumatra Selatan, dan berakar dari aksara Brahmi/Palawa India kuno. Dulu, masyarakat Rejang menulis dengan aksara ini di atas bambu, tanduk, kulit kayu, atau rotan, mencatat pesan, hukum adat, doa, dan kisah rakyat.

Kini, Aksara Kaganga mulai diajarkan kembali di sekolah-sekolah Rejang Lebong sebagai muatan lokal (MULOK). Pemerintah daerah juga membuat buku panduan dan alat belajar agar generasi muda tidak melupakan jati dirinya. Meski tantangan besar datang dari arus modernisasi dan dominasi huruf Latin, semangat untuk melestarikannya terus tumbuh.

Aksara Kaganga bukan sekadar tulisan—ia adalah simbol kebanggaan dan kecerdasan budaya Rejang, bukti bahwa nenek moyang mereka pernah memiliki sistem pengetahuan sendiri jauh sebelum pendidikan modern masuk.

3. Tradisi Pernikahan Adat Rejang

Acara adat suku Rejang. (bengkulu.sahabatrakyat.com)

Upacara pernikahan dalam masyarakat Rejang sangat sakral. Setiap tahapannya penuh makna tentang tanggung jawab, kehormatan, dan penyatuan dua jiwa.Beberapa tahap penting antara lain:

  • Bekulo 
Musyawarah antara dua keluarga sebelum pernikahan. Ini menegaskan bahwa perkawinan bukan hanya urusan dua orang, tapi penyatuan dua keluarga besar.
  • Meletak Uang 
Simbol penyerahan tanggung jawab dan niat baik dari pihak laki-laki kepada keluarga perempuan.
  • Mengasen 
Ritual penyucian untuk menandai kesiapan kedua mempelai memasuki kehidupan baru.
  • Sembah Sujud 
Bentuk penghormatan dan permohonan maaf kepada orang tua serta leluhur.
  • Jemejai 
Tahap penyatuan dua mempelai secara adat, biasanya disertai jamuan besar bagi seluruh masyarakat.

Setiap prosesi mengajarkan nilai luhur, diantaranya menghargai keluarga, menjaga kehormatan, serta menyatukan dua hati dengan restu masyarakat dan leluhur. Pernikahan adat Rejang bukan sekadar pesta, melainkan ritual sosial dan spiritual yang mempererat hubungan antar-keluarga.

4. Tari Kejai: Gerak yang Sarat Akan Makna

Tari kejei. (pojokseni.com)

Salah satu warisan budaya paling indah dari Rejang adalah Tari Kejai. Dulu, tarian ini hanya dipentaskan pada acara adat besar seperti pernikahan atau syukuran. Gerakannya lembut, penuh penghormatan, dan diiringi musik tradisional yang khas.

Beberapa gerakannya memiliki makna simbolik, seperti:

  • Gerak Sembah – bentuk penghormatan kepada leluhur dan tamu;

  • Metik Jari – menggambarkan kerja sama antara laki-laki dan perempuan;

  • Mateak Dayung – simbol penyerahan diri kepada Tuhan;

  • Gerak Mendayung – tanda perpisahan yang indah di akhir pertunjukan.

Melalui tarian ini, masyarakat Rejang mengekspresikan rasa syukur dan harmoni hidup dengan alam serta sesama.

5. Tantangan dan Harapan Budaya Rejang

Seiring kemajuan zaman, penggunaan bahasa Rejang dan aksara Kaganga mulai jarang dipakai. Namun, upaya pelestarian terus dilakukan oleh pemerintah, komunitas budaya, dan generasi muda yang bangga akan warisannya.

Budaya Rejang tetap relevan hingga kini karena nilai-nilainya universal: kebersamaan, hormat kepada orang tua, dan keselarasan dengan alam. Nilai-nilai ini penting bagi generasi muda untuk menjaga identitas di tengah globalisasi.

Penutup

Budaya Rejang bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan cermin kearifan dan jati diri masyarakat Bengkulu. Saat seorang siswa menulis huruf “Ka” dari Aksara Kaganga, sesungguhnya ia sedang menghidupkan kembali sejarah panjang suku yang penuh makna.

Mari kita kenali dan lestarikan budaya lokal kita—karena dari sanalah akar kebanggaan sebagai bangsa tumbuh kuat dan tidak mudah goyah oleh waktu.


Daftar Referensi

Agus, I. (2013). Aksara Ka-Ga-Nga: Identitas dan Tradisi Literasi Masyarakat Bengkulu. Jurnal Humaniora, Universitas Indonesia.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (1996). Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Rejang Lebong. (2019). Modul Muatan Lokal Aksara Kaganga. Curup: Disdikbud Rejang Lebong.

Fitriani, D. & Yuliani, E. (2021). Pelestarian Aksara Kaganga sebagai Identitas Budaya Rejang Lebong. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Daerah, Vol. 5 No. 2.

Hidayat, R. (2017). Sistem Sosial dan Struktur Adat Masyarakat Rejang di Bengkulu. Jurnal Antropologi Indonesia, Universitas Indonesia.

Nasution, S. (2020). Kehidupan Sosial dan Tradisi Pernikahan Suku Rejang di Bengkulu. Jurnal Kebudayaan Nusantara, Vol. 4 No. 1.

Pemerintah Provinsi Bengkulu. (2022). Warisan Budaya Takbenda Indonesia: Aksara Kaganga dan Tari Kejai. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI.

Suharto, A. & Mansyur, S. (2015). Naskah dan Aksara Tradisional Sumatera Bagian Selatan. Jakarta: Balai Litbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI.

Tempo.co. (2023, 12 Juni). “Mengenal Suku Rejang, Suku Tertua di Bengkulu dengan Aksara Kaganga yang Unik.” 

Wikipedia Bahasa Indonesia. (2024). “Suku Rejang.” Wikipedia.org.

Thursday, October 23, 2025

Mengungkap Pesona Taman Wisata Alam Bukit Kaba Bengkulu

Konten [Tampil]

Dokumen Pribadi: Penampakan kawah Bukit Kaba

Bengkulu merupakan provinsi yang kaya dengan wisata alam. Mata kita tidak hanya dimanjakan dengan keindahan alamnya, tetapi sekaligus menyaksikan fenoman keajaiban alam seperti yang ada di taman wisata alam Bukit Kaba. Bumi Raflesia memiliki beberapa gunung berapi yang aktif, termasuk salah satunya Gunung Kaba atau lebih dikenal dengan sebutan Bukit Kaba.

Bukit Kaba dengan keindahan alamnya yang memukau terletak di desa Wisata Sumber Urip, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong dan Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Bukit Kaba, dari Kota Curup, lokasinya tepat berada di sebelah tenggara dengan jarak lebih kurang 15 kilometer.

Memiliki pesona yang sangat sempurna terutama bagi para pencinta petualangan dan keindahan alam. Bukit Kaba dengan Keindahan alam tidak hanya menarik bagi para pendaki tetapi juga wisatawan baik lokal maupun domestik.

Dengan panorama pegunungan yang memukau dan udara yang sejuk, Bukit Kaba menawarkan pengalaman petualangan alam yang sangat menakjubkan. Di dalam artikel ini, akan mengungkap pesona taman wisata alam Bukit Kaba, seperti apa jalur pendakiannya, hingga tips berkunjung ke taman wisata alam Bukit Kaba yang menjadi salah satu primadona wisata bagi provinsi Bengkulu.

 

1. Keindahan Alam Bukit Kaba

Bukit Kaba memiliki pemandangan indah dengan hutan tropis yang masih alami, serta kawahnya yang menjadi daya tarik utama bagi pengunjung. Bukit Kaba dengan ketinggian sekitar 1.952 meter di atas permukaan laut memiliki delapan kawah gunung berapi, meskipun lima di antaranya tertutup oleh vegetasi alam. Puncaknya menawarkan pemandangan eksotis dengan kawah hijau dan putih kecoklatan karena

Selain itu, keunikan Bukit Kaba adalah memiliki dua kawah aktif yang mengeluarkan asap belerang. Di puncaknya, pengunjung dapat menikmati panorama pegunungan yang sangat memanjakan mata, terutama di saat matahari terbit atau terbenam.

Salah satu daya tarik utama di Bukit Kaba adalah adanya dua kawah aktif yang biasa dikenal dengan sebutan Kawah Mati dan Kawah Hidup. Kedua kawah ini memberikan panorama unik dan pengalaman yang berbeda bagi para pengunjung.

Kawah Hidup

Kawah Hidup adalah kawah yang masih aktif dan mengeluarkan asap belerang. Di sini, pengunjung bisa melihat fenomena alam berupa uap panas yang menyembur dari dasar kawah, memberikan kesan dramatis dan menegangkan. Bau belerang yang khas menambah nuansa vulkanik yang alami. Meski aktif, kawasan ini tetap aman untuk dikunjungi selama mengikuti petunjuk keselamatan.

Kawah Mati

Kawah Mati, seperti namanya, adalah kawah yang sudah tidak lagi aktif. Kawah ini lebih tenang dibandingkan Kawah Hidup, tanpa semburan uap panas atau bau belerang. Pemandangan di sekitar Kawah Mati terlihat lebih datar dengan warna tanah yang cenderung pucat, namun tetap memancarkan pesona yang misterius. Kawah ini menjadi favorit bagi para fotografer karena latarnya yang eksotis dan atmosfernya yang seakan membawa pengunjung ke dunia lain.

Apa yang Membuat Kawah Mati dan Kawah Hidup Menarik?

Kedua kawah ini tidak hanya menampilkan perbedaan aktivitas vulkanik, tetapi juga menawarkan simbol kehidupan alam yang terus berproses. Kawah Hidup menggambarkan energi dan kekuatan bumi, sedangkan Kawah Mati menunjukkan keindahan dari kondisi alam yang lebih tenang dan sudah berproses.

2. Daya Tarik Lainnya di Sekitar Bukit Kaba

Di sekitar Taman Wisata Alam Bukit Kaba, ada beberapa spot menarik yang bisa dijelajahi, seperti sumber air panas alami dan air terjun yang tersembunyi. Pengunjung bisa mampir ke pemandian air panas untuk merilekskan tubuh setelah perjalanan panjang.

3. Flora dan Fauna yang Unik

Taman Wisata Alam Bukit Kaba menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna khas hutan tropis. Dahulu, lokasi ini digunakan sebagai cagar alam perlindungan bagi bunga Rafflesia Arnoldii. Sekarang, telah menjadi taman lindung bagi beberapa flora Sumatra. Pengunjung bisa menemukan tanaman endemik seperti bunga bangkai (Amorphophallus titanum) yang sangat langka dan beberapa spesies anggrek liar. Satwa yang biasa terlihat termasuk burung-burung eksotis, kera ekor panjang, siamang dan rusa.

4. Tips Berkunjung ke Bukit Kaba

·         Persiapkan Fisik

Pastikan tubuh dalam kondisi fit, terutama jika memilih jalur pendakian alami.

·         Bawa Perlengkapan Mendaki yang Sesuai

Seperti sepatu gunung, jaket tebal, serta bekal makanan dan minuman yang cukup.

·         Waktu Terbaik Berkunjung

Waktu terbaik untuk menuju wisata alam Bukit Kaba adalah pagi hari atau menjelang sore, saat cuaca sejuk dan cerah sehingga dapat menikmati panorama alam.

·         Gunakan Masker

Menggunakan masker terutama saat kita mengunjungi Kawah Hidup, karena uap belerang dapat membuat kita merasa tidak nyaman.

·         Tetap di Jalur yang Disediakan

Kawasan sekitar kawah bisa licin dan berbahaya, maka pastikan untuk mengikuti jalur yang aman.

·         Menghargai Alam

Tidak membuang sampah sembarangan, dan hindari merusak flora atau mengganggu fauna di sekitarnya.

5. Cara Menuju Taman Wisata Alam Bukit Kaba

Untuk mencapai Bukit Kaba, pengunjung bisa memulai perjalanan dari Kota Bengkulu menuju Kecamatan Curup, dengan waktu tempuh sekitar 3 jam perjalanan darat. Setelah tiba di desa Sumber Urip, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan menuju pos pendakian dengan kendaraan pribadi atau ojek lokal. Perjalanan ini cukup menantang karena jalur menuju pos pendakian cenderung terjal dan berbatu. Dari pos pendakian, pengunjung dapat memilih salah satu dari dua jalur: jalur anak tangga atau jalur pendakian alami. Keduanya mengarah langsung ke puncak Bukit Kaba dengan waktu tempuh 2-3 jam perjalanan.

Penutup

Bukit Kaba bukan hanya sekadar tempat untuk menikmati pemandangan alam, tetapi juga tempat yang menawarkan kedamaian, ketenangan, dan pengalaman yang mengesankan. Dengan keindahan alam yang masih terjaga dan berbagai daya tarik uniknya, Bukit Kaba layak untuk masuk di dalam daftar perjalanan para pencinta alam. Persiapkan diri kita, dan nikmati keindahan alam Bukit Kaba yang tak terlupakan.

Note: tulisan ini pernah aku upload di 

https://bintang5.id/mengungkap-pesona-taman-wisata-alam-bukit-kaba-bengkulu/