Ada masa dalam hidup ketika kita tidak diberi pilihan selain bertahan. Bukan karena kita hebat, bukan karena kita siap, tetapi karena tidak ada jalan lain kecuali melangkah. Aku merasa, jika hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang, maka luka-luka yang singgah di dada adalah penanda bahwa aku pernah berjuang.
Tanpa pernah kusadari, perjalanan itulah yang membawaku sampai ke titik
ini—menulis sebagai cara untuk bertahan, sembuh, dan mengerti bahwa Allah tak
pernah meninggalkanku.
Hidupku berubah drastis pada usia yang begitu muda, ketika dokter
mengatakan ada tumor di otakku. Ruang tunggu rumah sakit mendadak terasa
sempit, udara seperti menolak masuk ke paru-paruku. Aku hanya terduduk,
mendengar detak jantungku sendiri yang seakan berlari tanpa tujuan.
Apa ini benar terjadi padaku?
Pertanyaan itu menghantam berkali-kali.
Saat itu, aku masih mahasiswi analis kimia semester tiga—penuh mimpi,
penuh harapan. Kejang pertama di usia 20 tahun kukira hanya kelelahan. Namun,
ia datang lagi, dan lagi, hingga CT Scan menunjukkan kebenaran yang tak ingin
kuterima—ada tumor di otakku.
Duniaku runtuh seketika. Namun, dari titik runtuh itulah kekuatan dalam
diriku mulai tumbuh.
Operasi Pertama dan Tahun-Tahun Panjang Menjaga Asa
Setelah berobat ke sana-sini dan mencari second opinion, keluargaku
memutuskan operasi kraniotomi. Alhamdulillah, hasilnya menunjukkan Astrocytoma
grade 1—tumor jinak. Aku tak perlu kemoterapi ataupun radiasi, hanya harus
berdamai dengan obat anti kejang.
Aku melanjutkan hidup—kuliah, wisuda, menikah, membangun keluarga. Namun,
setiap kali tubuh lelah, kejang itu datang lagi. Aku belajar hidup dengan
waspada, tetapi tetap bersyukur karena masih diberi usia.
Dua Puluh Tahun Kemudian: Ketakutan yang Mengetuk Kembali
Setelah hampir dua dekade, kejang itu semakin sering. Dokter menyarankan MRI
ulang, dan hasilnya membuatku kembali terdiam lama—tumor itu tumbuh lagi, pelan
tetapi pasti.
“Operasi kedua adalah pilihan terbaik,” kata dokter.
Hatiku remuk. Aku takut. Bagaimana dengan suami dan anak-anakku?
Mampukah aku kembali menjadi ibu?
Namun, Allah selalu punya cara menguatkan hati seorang perempuan. Aku
dipertemukan dengan seorang teman dari komunitas penyintas tumor otak, salah
satunya Lilia—perempuan yang sudah enam kali operasi dan tetap tersenyum.
“Kamu akan baik-baik saja,” katanya. “Selalu ada cahaya di ujung
terowongan. Kita hanya perlu terus berjalan ke arahnya.”
Kata-katanya menempel di hatiku seperti doa.
Di sepertiga malam, aku bersujud, menyerahkan ketakutan kepada Allah.
Dengan hati yang pasrah sekaligus kuat, aku menjalani operasi kedua pada bulan
Agutus 2016. Alhamdulillah, tumor itu bersih. Dokter tersenyum sambil berkata,
“Kamu pulih.”
Tiga Bulan Mendampingi Suami Menjelang Kepergiannya
Setahun setelah aku sembuh, Allah mengujiku lagi. Suamiku divonis sakit dan
dirawat selama tiga bulan. Aku mendampinginya setiap hari, sambil masih
memulihkan diri.
“Aku tahu kamu pasti bisa,” katanya pelan malam sebelum Allah
memanggilnya pulang pada 27 Oktober 2017, hari Jumat.
Hatiku hancur. Aku ingin jatuh, tetapi anak-anakku
memegang tanganku—dan aku tahu aku harus tetap berdiri.
Ketika Dunia Menguji Lagi: Penipuan Developer Syariah
Setelah suamiku tiada, aku berusaha menata hidup dan menyiapkan
masa depan anak-anakku. Namun, perjalanan itu tidak mudah. Ketika seorang teman menawarkan investasi
perumahan berbasis syariah, aku tergoda dan justru menjadi luka baru. Dana
peninggalan suamiku lenyap ditelan tipu muslihat developer nakal. Pembangunan
tak ada, jawaban pengembang hanya janji kosong.
Kecemasan lamaku pun kambuh. Aku bersujud kepada Allah, memohon jalan
keluar. Dengan dukungan keluarga, aku memperjuangkan hakku. Berbulan-bulan aku
datang ke kantor mereka, sering dipingpong, dan pulang dengan tangan hampa.
Tapi aku tidak menyerah.
Alhamdulillah, sebelum akhir 2019, dana itu kembali. Tidak mudah, tetapi
aku berhasil melewatinya.
Menulis: Cahaya yang Menuntunku Kembali Pulih
Dari semua perjalanan panjang itu—tumor otak, dua operasi, kehilangan suami,
penipuan yang meluluhlantakkan hati, hingga kecemasan berulang—aku hanya punya
satu cara untuk tetap waras: menulis.
Menulis membuatku bisa bernapas.
Menulis menghubungkanku dengan diri sendiri.
Menulis menjadi jembatan dari luka menuju harapan.
Ada satu kutipan yang selalu menemani malam-malam panjangku:
“Allah tidak menjanjikan hidup tanpa badai.
Tapi Dia menjanjikan pelangi setelahnya.”
Pelangi itu datangnya perlahan—tidak sekaligus.
Meskipun badai besar itu telah berlalu, bukan berarti hidupku mulus.
Sampai hari ini, aku masih belajar mengendalikan anxiety dan serangan panic
attack yang kadang datang tanpa permisi. Ada hari ketika napasku terasa pendek,
dada diremas, dan dunia mengecil. Rasanya seperti luka lama kembali mengetuk.
Namun, aku mengerti bahwa kesembuhan bukan
berarti rasa takut itu hilang. Kesembuhan adalah keberanian untuk tetap melangkah meskipun rasa takut
berjalan di samping kita. Ia adalah kemampuan duduk tenang, menenangkan diri,
dan berkata:
“Tidak apa-apa. Aku aman. Aku hadir untuk diriku sendiri.”
Mungkin di situlah aku makin
memahami bahwa Allah tidak menjanjikan hidup tanpa ujian—tetapi Dia menitipkan
kekuatan pada hati yang bersandar kepada-Nya.
Kini aku berdiri bukan karena aku
sempurna, melainkan karena aku belajar bangkit dari setiap runtuhan. Aku masih
belajar. Masih merawat luka. Masih berjalan pelan dan tegak, karena aku tahu
Allah akan selalu menuntun.
Penutup
Untukmu, perempuan kuat yang sedang berjuang, di
fase hidup yang gelap. Izinkan aku memelukmu lewat kata-kata:
“Sembuh bukan tentang cepat.
Sembuh adalah proses pelan-pelan memahami apa yang kamu rasakan,
mengakui luka-lukamu,
dan memberi ruang bagi dirimu untuk bernapas,
tanpa memaksa diri untuk ‘baik-baik saja’ dalam semalam.”
Jika keberanianmu hari ini hanya cukup untuk bangun dari tempat tidur,
ketahuilah bahwa itu pun sudah sebuah kemenangan.
Wahai perempuan, jangan pernah meremehkan kekuatanmu. Kamu mungkin tak
selalu merasa kuat, tetapi setiap langkah kecilmu adalah bukti bahwa kamu masih
bertahan. Jika kamu punya luka—ceritakan, tuliskan, dan lepaskan perlahan. Jika
kamu merasa sendiri—ingatlah, banyak perempuan yang diam-diam berjuang
sepertimu. Dan jika kamu sedang tenggelam—ulurkan tangan kepada siapa pun yang
bisa menggenggamnya.
Aku pun di sini masih belajar sembuh. Namun, aku percaya:
Allah selalu memberi cahaya, bahkan untuk perjalanan yang paling sunyi.
***
Note:
Tulisan ini saat mengikuti event Perempuan Kuat, Perempuan Menulis: Sisterlillah
No comments:
Post a Comment