![]() |
| Ilustrasi: Menulis adalah awal sebuah perjalanan. (Photo by Clay Banks on Unsplash) |
Indscript Creative kembali mengingatkan saya pada satu hal penting tentang perjalanan sebuah karya: menulis bukan sekadar menyelesaikan sebuah buku, tetapi menentukan ke mana karya itu akan dibawa. Saya memang tidak dapat mengikuti secara langsung sesi sharing Teh Indari Mastuti melalui audio chat di grup Sales Academy for Writers pada Kamis, 20 Agustus 2026. Namun, dari resume sharing yang dibagikan di grup, saya menemukan satu gagasan yang menarik untuk direnungkan: “Buku ini mau dibawa ke mana?"
Pertanyaan itu sederhana, tetapi mengingatkan saya bahwa buku bukan garis akhir. Di baliknya ada tujuan, peluang, dan dampak yang perlu dipikirkan sejak awal sebelum karya menemukan jalannya.
Lalu, ke mana sebenarnya sebuah karya hendak dibawa? Dari resume sharing Teh Indari Mastuti, saya menemukan bahwa jawabannya bermula dari dua hal penting: niat dan tujuan.
Indari Mastuti: Menulis dengan Niat dan Tujuan
Dari catatan sharing tersebut, Teh Indari Mastuti mengingatkan bahwa kemampuan sales dan marketing saja tidak cukup untuk mengembangkan sebuah karya. Seorang penulis juga perlu memiliki niat dan arah yang jelas sejak awal.
Segala sesuatu sebaiknya dimulai dengan mengharap ridho Allah. Bagi saya, pesan ini mengingatkan bahwa menulis tidak selalu tentang materi. Income memang dapat menjadi salah satu tujuan, tetapi karya juga bisa menjadi bentuk ikhtiar untuk memberikan manfaat.
Setelah niat diluruskan, pertanyaan berikutnya adalah: apa goal dari karya tersebut? Tujuan setiap buku bisa berbeda. Ada yang ingin mendapatkan penghasilan, membangun personal branding, memperoleh klien, membuka peluang speaking atau mengajar, hingga mengembangkan bisnis.
Karena itu, sejak awal penulis perlu mengetahui arah karyanya. Niat memberikan landasan, sementara goal membantu menentukan langkah agar karya tidak berhenti sebagai tulisan. Ketika niat dan tujuan sudah jelas, sebuah karya dapat berkembang menjadi bagian dari perjalanan penulis untuk membangun diri, membuka peluang, dan memberikan manfaat.
Indscript Creative dan Karya yang Memiliki Arah
Dari sinilah saya melihat relevansi perjalanan Indscript Creative dengan gagasan From Writing to Inspiring yang menjadi tema Milad ke-19. Menulis bukan hanya tentang menghasilkan naskah, tetapi juga tentang bagaimana sebuah karya diarahkan agar menemukan pembacanya, membuka peluang, dan memberikan manfaat. Sebuah buku dapat menjadi produk, sumber income, alat personal branding, hingga pintu networking dan peluang baru. Karena itu, sejak awal penulis perlu bertanya: karya ini ingin membawa saya ke mana? Jawabannya dapat membantu menentukan langkah setelah tulisan selesai.
Siapa yang Ingin Saya Jangkau?
Menentukan target pembaca membantu penulis memahami siapa yang ingin dijangkau dan kebutuhan yang ingin dijawab. Semakin jelas sasarannya, semakin mudah menentukan pesan, gaya bahasa, serta manfaat yang relevan bagi pembaca.
Saya Ingin Dikenal sebagai Siapa?
Sebuah karya dapat menjadi bagian dari personal branding. Ketika konsisten menulis dalam bidang tertentu, pembaca perlahan mengenali identitas, kompetensi, dan nilai yang dibawa penulis. Karena itu, buku bukan sekadar kumpulan tulisan, tetapi juga sarana untuk memperkenalkan siapa kita dan apa yang ingin kita perjuangkan.
Apa yang Ingin Dicapai Setelah Buku Terbit?
Pertanyaan ini sering terlewat. Kita sibuk menyelesaikan buku, tetapi lupa memikirkan langkah setelah terbit. Padahal, karya dapat membuka peluang promosi, kolaborasi, networking, hingga bisnis dengan goal yang jelas.
Menulis Bukan Hanya tentang Menjual Buku
Pesan Teh Indari Mastuti membuat saya memahami bahwa sales dan marketing penting untuk mengembangkan karya, tetapi penjualan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Dampak menulis juga dapat hadir melalui manfaat bagi pembaca, perubahan, relasi, peluang baru, bahkan sebuah pesan sederhana yang menunjukkan bahwa tulisan kita pernah berarti bagi seseorang.

Karya membuka jalan menuju peluang dan dampak.
(Photo by Kourosh Qaffari on Unsplash)
![]() |
Karya membuka jalan menuju peluang dan dampak. (Photo by Kourosh Qaffari on Unsplash) |
5 Langkah agar Tulisan Tidak Berhenti sebagai Karya
Dari insight sharing Teh Indari Mastuti, saya merangkumnya menjadi beberapa langkah sederhana yang bisa menjadi pengingat bagi penulis.
1. Luruskan Niat Tentukan alasan mengapa kita menulis dan berkarya. Jadikan proses tersebut sebagai ikhtiar yang memiliki nilai dan manfaat.
2. Tentukan Goal Jangan menulis tanpa mengetahui arah. Tentukan apakah karya ditujukan untuk income, personal branding, networking, peluang bisnis, atau kebermanfaatan.
3. Kenali Target Pembaca Ketahui siapa yang ingin kita jangkau dan masalah apa yang ingin kita bantu melalui tulisan.
4. Siapkan Strategi Setelah mengetahui goal dan target, tentukan bagaimana karya akan diperkenalkan, dipasarkan, dan dikembangkan.
5. Pikirkan Dampaknya Jangan hanya bertanya berapa banyak buku yang terjual. Tanyakan juga manfaat apa yang akan dirasakan pembaca dan peluang apa yang dapat tumbuh dari karya tersebut.
Ketika Menulis Menjadi Jalan untuk Menginspirasi
Tema From Writing to Inspiring dalam Milad ke-19 Indscript Creative mengingatkan saya bahwa menulis adalah awal sebuah perjalanan. Dari tulisan lahir karya, pesan, dan dampak. Ketika sampai kepada pembaca, sebuah karya dapat menginspirasi, membuka percakapan, bahkan mengubah cara seseorang memandang dirinya.
Komunitas Penulis Perempuan dan Perjalanan untuk Bertumbuh
Perjalanan menulis tidak selalu harus dilakukan seorang diri. Komunitas penulis perempuan dapat menjadi ruang untuk belajar, berbagi, berdiskusi, dan saling menguatkan. Ada penulis yang awalnya hanya berani menulis untuk diri sendiri, kemudian percaya diri membagikan karyanya. Ada pula yang berani menerbitkan buku karena mendapat dukungan. Dari komunitas, penulis bertumbuh dan dampak karyanya pun semakin luas.

Iluystasi refleksi pribadi sebagai penulis.
(Photo by nedimshoots on Unsplash)

Iluystasi refleksi pribadi sebagai penulis.
(Photo by nedimshoots on Unsplash)
Refleksi: Karya Ini Mau Saya Bawa ke Mana?
Gagasan yang disampaikan Teh Indari Mastuti membuat saya merenungi kembali perjalanan menulis selama ini. Menulis menjadi ruang untuk menuangkan cerita, pengalaman, dan keresahan. Namun, pertanyaan “karya ini mau dibawa ke mana?” membuat saya ingin tulisan tidak berhenti pada publikasi, tetapi menjadi ruang berbagi yang menemani, menguatkan, dan menginspirasi pembaca.
Penutup
Indscript Creative melalui semangat From Writing to Inspiring mengingatkan saya bahwa menulis bukan sekadar menghasilkan buku, tetapi tentang niat, goal, target, strategi, dan dampak. Pemikiran Teh Indari Mastuti juga membuka pemahaman bahwa karya dapat menjadi sumber income, personal branding, networking, sekaligus jalan kebermanfaatan. Sebab, tulisan akan menemukan maknanya ketika mampu memberi dampak.

No comments:
Post a Comment